Masyarakat Banyak Salah Kaprah Soal KTP dalam Pilpres


Meskipun berjalan lancar, Pemilu Presiden tanggal 8 Juli 2009 lalu dihiasi dengan masyarakat yang salah kaprah menggunakan KTP untuk mencontreng. Pasalnya, banyak dari mereka beranggapan bahwa dengan membawa KTP dan Kartu Keluarga (KK) saja, mereka bisa memilih di manapun. Padahal KTP dan KK hanya bisa digunakan memilih di TPS yang lokasinya bersesuaian dengan alamat yang tertera di KTP.

Sebut saja salah satunya adalah Iwan, bukan nama sebenarnya. Iwan yang merupakan sebuah mahasiswa perguruan tinggi di Bandung ini, dengan percaya diri datang ke Sekretariat Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kelurahan Babakan Siliwangi Kecamatan Coblong Bandung yang berada tidak jauh dari kampusnya. Remaja yang diketahui berasal dari Bandung ini, langsung menyodorkan KTP kepada panitia sembari berharap bisa memilih. Namun, ditolak lantaran tidak sesuai dengan peraturan dari Mahkamah Konstitusi.

Hal yang sama juga menimpa pasangan yang berasal dari Jakarta. Dengan wajah kecewa, mereka meninggalkan Sekretariat PPS Babakan Siliwangi lantaran harapan mereka untuk mencontreng di Bandung, pupus sudah. Pasalnya, sebelum tiba di Bandung, mereka beranggapan bahwa dengan hanya membawa KTP dan KK, mereka bisa memilih di Kota Kembang.

Kurang Sosialisasi

Heri Bajuri, Anggota PPS Babakan Siliwangi, menyatakan bahwa banyak pemilih yang salah kaprah dalam menanggapi isu memilih dengan KTP. Di PPS tempat Heri bertugas, setidaknya telah 60 orang yang bukan warganya, datang untuk memilih dengan hanya membawa KTP dan KK. “Ya, akhirnya saya tolak semua karena tidak sesuai dengan aturan dari MK,” ungkap Heri.

Heri melihat, ketentuan penggunaan KTP dan KK dari Mahkamah Konstitusi 2 hari sebelum pelaksanaan Pilpres, tidak secara penuh diterima dan dimengerti oleh masyarakat. “Kayanya mereka hanya membaca atasnya (judulnya) saja, tanpa membaca bagian bawahnya (detail pelaksanaan),” tutur Heri.

Heri juga menyayangkan kurangnya sosialisasi penggunaan KTP dan KK dalam Pilpres. Surat edaran dari KPU pusat, baru diterima sehari sebelum pelaksanaan Pilpres. Itu pun tiba pada sore hari sehingga dirinya kesulitan melakukan sosialisasi. “Bagaimana saya mau sosialisasi? Suratnya saja baru datang sehari sebelumnya. Itu pun sore pula,” papar Heri.

yudh on CyberMosque.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s