Paris, je t’aime


Bungkus DVD Paris, Je T'aime. Sumber: lebleb.com

Paris, je t’aime (Pjt) atau dalam bahasa Inggris Paris, i love you, merupakan kumpulan film-film pendek tentang cinta yang dibuat di Paris. Menghadirkan 18 film yang dibuat oleh 21 sutradara dari seluruh dunia, film-film Paris je t’aime benar-benar memberikan kesan tersendiri. Terkadang mengharukan, unik, lucu, dan tak jarang menginspirasi.

Seluruh film yang ada di Paris, je t’aime dibuat pada tahun 2006 dengan berbagai kisah yang berbeda, tetapi bergaris besar tentang cinta. Cintanya pun bermacam-macam. Ada yang cinta kepada lawan jenis, sesama jenis, kepada anak, kepada narkoba, kepada kota paris, bahkan ada yang cinta kepada vampir.

Adapun beberapa film yang saya suka dari kumpulan film tersebut adalah:

  • Quais de Seine
    Bercerita tentang seorang gadis muslim Perancis bernama yang terjatuh di depan segerombolan pemuda Perancis. Salah satu pemuda menolong sang gadis dan menaruh hati pada sang gadis. Usai membersihkan lukanya, sang gadis pamit pergi ke masjid. Tanpa sepengetahuan sang gadis, sang pemuda mengikuti sang gadis dan menunggu di luar masjid. Saat sang gadis keluar masjid bersama kakeknya, sang pemuda menghampiri sang gadis. Sang gadis memperkenalkan sang pemuda kepada kakeknya.
    Di film ini saya takjub dengan pluralitas yang terjadi di Perancis. Sang kakek tidak melarang sang gadis mengenal sang pemuda. Malah sang pemuda disuruh ikut oleh sang kakek ketika sang gadis dan sang kakek hendak beranjak pergi. Tak hanya itu saja. Di sini nampaknya sang sutradara ingin memperlihatkan bahwa cinta tidak mengenal suku, ras, maupun agama.
  • Loin du 16e
    Bercerita mengenai seorang ibu yang menitipkan anaknya di tempat penitipan anak. Ketika hendak pergi bekerja, sang anak menangis. Sang ibu kemudian menyanyikan lagu pengantar tidur hingga sang anak tertidur. Pekerjaan sang ibu adalah seorang pengasuh anak. Dia meninggalkan sang anak untuk mengurus anak majikannya yang jaraknya nampaknya cukup jauh. Hal ini terlihat dari adegan ketika sang ibu harus berganti kendaraan untuk pergi ke tempat kerjanya. Sesampainya di tempat majikannya, ketika sang anak majikannya terbangun dan menangis, si ibu menyanyikan lagu yang sama dengan yang dinyanyikannya kepada anaknya.
    Meskipun tidak secara eksplisit memperlihatkan maksudnya, pesan yang saya tangkap dalam film ini adalah cinta seorang ibu kepada anaknya, dia bagikan juga kepada anak lainnya.
  • Quais de Seine. Sumber: collider.com

  • Bastille
    Bercerita tentang seorang suami yang hendak menceraikan isterinya lantaran akan menikah dengan kekasih gelapnya. Namun niatnya itu diurungkan lantaran sang isteri ternyata menderita leukemia yang cukup ganas. Kemudian sang suami memutuskan untuk hidup bersama dengan isterinya dan melupakan kekasih gelapnya.
    Sang suami berusaha dekat dengan isterinya. Membacakannya buku, membuatkannya makanan, hingga menyanyikan lagu pengantar tidur untuk sang isteri. Sang suami mendapatkan perasaan cinta kepada isterinya yang telah lama didambakannya. Akhirnya, sang isteri meninggal dunia. Sang suami pun tidak bisa melupakan sang isteri dan tidak bisa pula pindah ke lain hati.
    Kisah ini cukup menarik dari segi teknik pembuatan filmnya. Lucu, diungkapkan melalui monolog, dan mengharukan.
  • Place des Victoires
    Berkisah tentang seorang ibu yang baru saja ditinggal anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun. Sang ibu tidak cukup mampu merelakan anaknya pergi semuda itu. Pada suatu malam, sang ibu mendengar suara anaknya yang memanggilnya. Setelah diikuti, suara itu bermuara di tempat anaknya sering bermain.
    Sang anak kemudian pamit untuk pergi. Namun sang ibu tidak mengizinkan. Lalu seorang CowBoy, tokoh yang diidolakan sang anak, datang dengan kudanya. Dia menjelaskan bahwa sang anak akan lebih baik hidup di surga dengan sang CowBoy. Akhirnya, sang ibu merelakan anaknya pergi.
    Cerita ini memperlihatkan ikatan cinta antara ibu dan anak. Cukup menarik dan mengagumkan. Tak hanya itu. Film ini juga dikemas dengan nuansa yang unik dan menarik. Ingin menyampaikan sesuatu yang mulia, dengan cara yang cukup humanis.

Tour Eiffel. Sumber: celidivine.blogspot.com

  • Tour Eiffel
    Bercerita tentang seorang artis pantomim yang kesepian lantaran belum juga mendapatkan cintanya. Setelah keliling Paris, akhirnya dia masuk penjara lantaran masalah sepele. Namun, di penjara adalah sebuah anugerah baginya. Dia bertemu dengan pujaan hatinya yang juga artis pantomim. Lantaran melakukan sesuatu yang tidak biasa, keduanya diusir dari penjara.
    Kisah film ini unik dan lucu serta tidak biasa. Tak jarang, membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Tak hanya itu saja. Film ini juga mengagumkan dan menginspirasi.
  • Parc Monceau
    Bercerita mengenai seorang lelaki tua yang berjalan dengan gadis paruh baya yang membincangkan mengenai pihak ketiga. Ternyata sang lelaki tua adalah sang ayah, sang gadis adalah sang anak, dan pihak ketiga adalah cucu sang ayah dan anak sang gadis.
    Hal menarik dari film ini adalah pengambilan gambar yang tiada henti dari awal hingga akhir film (continuous shot). Tak terbayangkan bagaimana film berdurasi sekitar 5 menit dibuat. Bila satu dialog atau adegan salah, shoting harus dilakukan dari awal.
  • Place des fêtes
    Bercerita mengenai seorang pria kulit hitam bekas petugas parkir yang sedang sekarat lantaran ditusuk oleh preman jalanan. Sang paramedis yang datang ke lokasi kejadian, adalah wanita yang sang pria suka. Sang pria, di detik-detik penantian ajalnya, bercerita bahwa dia menyukai sang gadis ketika awal bertemu dan ingin sekali mengajaknya minum kopi bersama. Sang wanita akhirnya menyuruh temannya untuk membeli 2 cangkir kopi di kedai terdekat.
    Namun naas, sang pria akhirnya tak tertolong dan tewas. Sambil memegang cangkir di kedua tangannya, sang wanita menangis sembari menatap ambulan pembawa sang pria yang semakin lama semakin jauh.
    Mengharuskan dan mengagumkan. Film ini benar-benar unik dan bercerita tentang masa lalu antara waktu pertama kali pertemuan mereka dengan masa ketika pertemuan terakhir mereka.

    Place des fêtes. Sumber: flickr.com/photos/arparp

    Place des fêtes. Sumber: flickr.com/photos/arparp

  • Quartier de la Madeleine
    Film ini cukup mengagumkan bagi saya. Bercerita tentang seorang backpacker yang tiba di kota paris pada suatu malam. Ketika sedang mencari penginapan, dia melihat darah yang mengalir dari atas tangga yang akan dia lewati. Setelah menelusuri aliran darah tersebut, dia menemukan bahwa seorang wanita vampir tengah mengisap darah korbannya. Dia pun bersembunyi di balik sepeda motor yang jaraknya cukup dekat dengan sang vampir yang tengah asik menikmati hidangannya.
    Namun naas bagi sang pemuda, sang wanita vampir menemukannya. Tetapi, ketika sang vampir akan menggigit leher sang backpacker, dia melihat mata sang pemuda dan langsung jatuh hati. Akhirnya sang wanita vampir mengurungkan niatnya untuk menyantap sang pemuda dan beranjak pergi.

    Quartier de la Madeleine. Sumber:

    Quartier de la Madeleine. Sumber: celidivine.blogspot.com

    Bukannya lega, sang pemuda malah tak enak hati. Disayatlah tangan kirinya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak agar sang vampir mau menghisap darahnya. Bukan menghisap darah sang pemuda, sang vampir malah acuh tak acuh dan tetap saja pergi meningalkan sang pemuda.
    Sang pemuda akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tangga yang membuat kepalanya terbentur hingga berdarah. Di tengah kondisi sekarat, sang wanita vampir kemudian datang kembali. Dia menyayat lengannya dan memasukan darahnya ke mulut sang pemuda. Akhirnya sang pemuda hidup kembali dan menjadi vampir.
    Cerita ini cukup unik dan lucu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, penonton bisa langsung mengetahui apa yang dimaksud film ini. Tak hanya itu saja. Ide ceritanya pun cukup orisinil dan menginspirasi.

  • Faubourg Saint-Denis
    Berkisah mengenai percintaan seorang pemuda buta dan seorang gadis pemain film. Ketika tengah asyik belajar bahasa di kamarnya, sang pemuda mendapatkan telepon dari sang pacar yang kemudian menyampaikan ungkapan perpisahan. Mendengar hal tersebut, sang pemuda langsung menutup teleponnya.
    Kemudian film ini langsung memperlihatkan kilas balik hubungan sang pemuda dengan sang gadis. Dimulai ketika mereka bertemu, hingga perasaan renggang di antara mereka. Disajikan dengan monolog yang cepat, disertai cut-to-cut yang berirama dengan beat yang bertempo tinggi, film ini benar-benar mampu membuat penonton tertipu.

    Sumber: collider.com

    Faubourg Saint-Denis. Sumber: collider.com

    Di akhir cerita, telepon kembali berdering. Ketika diangkat, sang gadis bertanya apakah kalimat yang tadi dia bawakan, sudah cukup nyata atau belum. Yah, sang gadis sedang latihan akting.
    Selain unik dan menginspirasi, film ini juga memperlihatkan bahwa cinta tidak memandang kondisi tubuh. Meskipun sang pemuda buta, tetapi sang gadis dengan setia menemani dan menjadi pacarnya. Mengagumkan.

Iklan

8 thoughts on “Paris, je t’aime

  1. EIH berkata:

    saya nonton dari download-an subtitlenya rusak …
    ga pake subtitle aja berkesan film nya (walaupun ga ngeri bahasanya -.-

    oh ya ada yg tau tempat download/ada ga ya yg jual dvdnya??

  2. juno berkata:

    gw rasa bastille yang paling nendang..
    getir! bagaimana kamu mencintai orang yang akan mati.. dan tetap terbayang setelah dia mati..

    endingnya tu bastille gila banget.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      tgl 16 juli nanti, di program free thursday-ny blitz megaplex pvj, bakal dputer lagi. nonton aja kang. bersama isteri tercinta. hohohoho

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s