Meski Sulit Berjalan, Hamid Tetap Berjualan Sapu


Perlahan mentari sore mulai turun di ufuk barat kota Bandung. Saat itu, lalu lintas kota Kembang lambat laun mulai padat. Orang-orang mulai ramai berlalu-lalang. Beranjak menuju rumah setelah seharian bekerja.

Seorang lelaki paruh baya tampak jelas terlihat di antara keramaian Bandung di waktu sore. Tangan kanannya menggenggam sebuah tongkat penyangga yang digunakan untuk membantu langkahnya menapaki setiap Centimeter jalanan kota Bandung. Sementara itu, pundak kirinya memanggul 10 batang sapu yang harus dia jual guna menafkahi keluarganya yang berjarak 100 Kilometer dari Bandung.

Hamid Hidayat (45) namanya. Berdagang sapu di Bandung telah dilakoninya selama 20 tahun guna menghidupi seorang istri dan 4 anaknya di Ciamis. “Dulu saya dagang sapu dipinggul pake tongkat,” cerita Hamid. Namun naas baginya 18 bulan lalu. Sebuah motor yang dikendarai seorang pelajar SMA, menabraknya hingga akhirnya Hamid mengalami cacat tubuh permanen dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan.

Meskipun begitu, penduduk Lumbung, Desa Sadewata, Babakan Tarikolot, Ciamis ini tidak mau begitu saja menyerah pada keadaan. Dengan pinjaman 300 ribu Rupiah, Hamid kembali berjualan sapu, meski yang dibawanya kini lebih sedikit dari sebelumnya, yakni hanya 15 sapu. Hal ini dipersulit dengan ketentuan yang mengharuskan Hamid membayar penuh sapu yang diambilnya untuk dijual. “Sapunya tidak boleh dikembalikan kalau tidak laku,” keluh Hamid.

Setiap harinya, Hamid biasa berjualan selepas Dzuhur. Jarak yang ditempuh pun lumayan jauh untuk kondisi Hamid saat ini. Bermula dari wilayah Kebon Kawung tempat Hamid tinggal dengan saudaranya, dia biasa menempuh rute menuju Balai Kota yang dilanjutkan menuju BEC, Purnawarman, kemudian Taman Sari hingga Sulanjana. Hamid biasa menempuh jalur pulang menuju jalan Dago, Merdeka, dan kembali ke Kebon Kawung.

Namun tak jarang Hamid berjualan hingga ke jalan Ganesha, Dipati ukur, hingga jalan Riau. Hal yang mengagumkan, Hamid menempuhnya dengan berjalan kaki. Hasil penjualannya pun tidak pernah tetap. Terkadang barang jualannya dalam sehari bisa habis, hanya terjual 2 hingga 4 sapu, atau bahkan tidak pernah laku sama sekali dalam sehari berjualan. “Ya, namanya juga dagang. Tidak pernah stabil yang terjual,” ungkap Hamid bijak.

Ketika disinggung mengenai keluarganya, Hamid mengaku sering merasa kangen dan ingin bertemu, meskipun hal tersebut baru bisa dilakukannya ketika penjualannya untung. Namun, ketika rasa kangen tak dapat dibendung dan hasil penjualan belum menampakan hasil, tak jarang Hamid harus meminjam uang terlebih dahulu untuk pulang kampung.

Tak hanya itu saja. Hamid pun mengharapkan bisa berjualan sambil duduk dan dekat dengan keluarga. “Ternyata sekarang mikulnya berat dan cangkeul (pegel),” keluh Hamid. Saat ditanya mengenai kendala yang dihadapi untuk mewujudkan harapannya itu, pria yang hanya bersekolah hingga kelas 5 SD ini mengaku tidak punya modal yang cukup. “Padahal tanah milik istri saya bisa digunakan. Tapi belum ada dana untuk membangunnya,” tutur Hamid.

yudh on CyberMosque.com

2 thoughts on “Meski Sulit Berjalan, Hamid Tetap Berjualan Sapu

  1. Mutiara berkata:

    Seharusnya dengan mempunyai tanah milik istrinya, Pak Hamid ke Dinas Koperasi untuk meminta pinjaman lunak atau memberikan arahan kemana untuk meminjam kredit untuk memodali usaha ini.
    Yang seperti inilah yang harus dibantu pemerinta, mereka punya usaha tapi gak punya modal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s