Industri TIK Indonesia, Bangkit di Tengah Krisis dengan Open Source


Awal Maret 2009, nampaknya badai krisis ekonomi global belum juga memperlihatkan indikasi akan mereda. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang beberapa waktu lalu telah menguat di level 10 ribu per Rupiah, kini kembali anjlok ke angka 12 ribu per Rupiah.

Beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dunia telah melakukan tindakan penyelamatan perusahaan di tengah krisis ekonomi. Bukan hanya perusahaan kelas menengah saja, perusahaan yang merajai dunia TIK sekelas Google dan Microsoft pun ikut terombang-ambing badai krisis yang menerpa dunia sejak akhir tahun 2008 lalu.

Perlahan tapi pasti, dampak krisis global di Indonesia sedikit demi sedikit mulai terasa, khususnya untuk perusahaan yang bergerak di bidang TIK. Penurunan daya beli masyarakat terhadap produk-produk TIK dan naiknya biaya operasional, merupakan 2 hal yang cukup banyak dikeluhkan ketika badai krisis menerpa Indonesia. Hal ini salah satunya disebabkan lantaran tingginya ketergantungan industri TIK nasional dengan pasar TIK luar negeri.

Mempertimbangkan Penggunaan Open Source

Guna menyiasati dampak krisis yang nampaknya belum mau usai, industri TIK nasional seharusnya berbenah dan mulai berpikir untuk mengadopsi Open Source sebagai basis dari bisnisnya. Dalam hal ini, Open Source tidak melulu sistem operasi Linux, tetapi juga mencakup aplikasi berbasis Desktop dan Web yang menyediakan akses terhadap kode sumber (source code).

Penerapan Open Source sebagai basis dari bisnis industri TIK nasional, merujuk pada 3 pertimbangan. Pertimbangan pertama, Open Source mampu mengefektifkan biaya (cost effective) yang dialokasikan untuk kebutuhan teknologi informasi. Karena kebanyakan aplikasi Open Source tersedia dengan tanpa biaya alias gratis, kondisi ini mampu mereduksi biaya lisensi yang dapat mencapai 5 juta Rupiah per satu unit komputernya apabila menggunakan perangkat lunak proprietary. Belum lagi ditambah dengan perangkat lunak yang memiliki model biaya berbeda. Contohnya seperti Mail Server yang pada perangkat lunak proprietary biayanya dibebankan pada banyaknya akun (account) email yang dibuat.

Tentu saja pengefektifan biaya ini berdampak pada ongkos produksi yang bisa ditekan seminim mungkin sehingga berimplikasi pada lebih murahnya produk yang dijual ke masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini mampu memperbaiki daya beli masyarakat dan mengurangi angka pembajakan perangkat lunak.

Pertimbangan kedua yang membuat industri TIK nasional perlu menggunakan Open Source adalah perangkat lunak ini mampu meningkatkan kemampuan lokal dan kompetisi SDM secara global. Dengan kode sumber (source code) yang dapat diakses dan dipelajari, memungkinkan industri TIK nasional membangun kebutuhan akan perangkat teknologi informasinya secara mandiri. Belum lagi dengan kualitas produk Open Source yang terkenal akan kualitasnya, bukan tidak mungkin industri TIK Indonesia mampu merambah pasar TIK global yang kini cenderung didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar asal Amerika dan Eropa.

Pertimbangan yang terakhir, Open Source mampu mengurangi ketergantungan terhadap vendor dan negara asing dalam bidang TIK. Hal ini berkaitan erat dengan Open Source yang berpotensi sangat besar memajukan industri TIK nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, penggunaan aplikasi Open Source memungkinkan bangsa ini tak harus kebingungan lantaran biaya untuk menggunakan aplikasi proprietary yang semakin tinggi. Secara tidak langsung, proses tumbuhnya industri TIK nasional dengan Open Source, membuat bangsa kita akhirnya mampu menyediakan kebutuhan perangkat teknologi informasinya sendiri.

Open Source dan Industri TIK Lokal

Saat ini, kualitas industri TIK lokal Indonesia masih jauh tertinggal di bawah India dan China. Sejak beberapa tahun yang lalu, industri TIK kedua negara tersebut sudah mulai diakui dunia. Salah satu kunci keberhasilan India dan China, mereka mampu mengembangkan kebutuhan TIK dalam negeri dan mengurangi ketergantungannya terhadap negara asing. Linux dan perangkat lunak Open Source lainnya, dipercaya menjadi kekuatan utama mereka dalam mengembangkan industri TIK lokalnya.

Potensi Indonesia untuk berkembang seperti India dan China sebenarnya sangat besar. Yang menjadi permasalahan, masih banyak orang beranggapan bahwa semakin nol nilai sebuah barang, semakin kecil manfaatnya. Anggapan ini nampaknya berlaku juga untuk Open Source di Indonesia. Sehingga tidak heran apabila Open Source masih dipandang sebelah mata dan hanya dijadikan komoditas percobaan mahasiswa semata.

Belum dipahaminya model bisnis Open Source adalah salah satu sebab lainnya yang membuat banyak pelaku industri TIK di Indonesia masih enggan mengembangkan Open Source untuk tujuan bisnis yang lebih serius karena dirasa tidak menguntungkan.

Permasalahan lainnya, permintaan dari masyarakat yang masih syarat akan perangkat lunak proprietary nampaknya masih menjadi salah satu faktor utama mengapa industri TIK lokal enggan menggunakan dan mengembangkan Open Source. Seharusnya industri TIK lokal mampu memberi pemahaman yang holistik kepada masyarakat mengenai apa itu Open Source dan keuntungan yang bisa didapat apabila menggunakannya.

Saatnya Industri TIK Nasional Bangkit

Peluang untuk maju dan mulai merambah pasar TIK dunia, salah satunya terjadi ketika krisis global menjambangi dunia seperti sekarang ini. Tak dapat dipungkiri lagi, peta industri TIK dunia sedang berotasi dan memaksa industri TIK besar untuk istirahat sejenak guna memberikan kesempatan bagi industri TIK yang lebih kecil untuk maju dan berkembang. Kesempatan ini seharusnya jangan disia-siakan. Bagaimana pun juga, kesempatan tak pernah datang dua kali.

Banyak bukti bahwa pemanfaatan potensi lokal secara optimal, mampu membawa sebuah bangsa menuju jaman keemasannya. Setelah China dan India memastikan jalannya ke ranah percaturan industri TIK dunia dengan Open Source, industri TIK Indonesia seharusnya juga mulai berbenah mengejar ketertinggalannya.

Pertanyaannya bukanlah bisa atau tidak menggunakan Open Source. Melainkan, kapan kita mau melakukannya dan membuka diri untuk maju bersama Open Source.

yudh on Majalah BISKOM Edisi Maret 2009

2 thoughts on “Industri TIK Indonesia, Bangkit di Tengah Krisis dengan Open Source

  1. Mutiara berkata:

    Opensource memang murah. Tapi masalahnya, banyak yang tidak kompatibel dengan berbagai macam software yang biasa dipakai di kantoran🙂 Kecuali aplikasi di kantoran tersebut dibuat sendiri,dan tentunya memerlukan biaya lagi. Akhirnya sama saja🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s