Satuday PhotoWalking: Jadi Tukang Foto Butuh Keberanian Ekstra


berbekal kamera fujifilm finepix s700 yang dipinjemin ama bagus rully, membuat saya tak sabaran untuk memulai memotret. menunggu kegiatan photowalking-nya mas ikhlasul amal, nampaknya bukan pilihan yang tepat lantaran terlalu lama dan bisa2 saya tewas lantaran kehilangan kesabaran. akhirny, di sabtu pagi hasil dari begadang, mulailah saya melancarkan aksi photowalking ala paparazi bandung.

tujuan saya adalah pasar cihaurgeulis yang berada di bilangan suci, belakang pusdai. memotret pasar adalah impian saya sejak lama. di dalamnya, cukup banyak objek foto yang bisa saya abadikan menggunakan kamera. berangkat dari kostan sekitar pukul setengah 6 pagi menuju taman makam pahlawan. beberapa orang terlihat sibuk berlarian. bukan karena ada kerusuhan atau maling yang sedang dikejar2 massa. melainkan mereka sedang olah raga di sabtu pagi.

berdiri di depan gerbang taman makam pahlawan yang posisinya lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya, cukup banyak objek foto yang bisa saya bidik. dimulai dari suasana lenggang lalu lintas jalan pahlawan, hingga lembayung pagi di ufuk timur yang membuat saya takjub karena cukup indah.

setelah beberapa jepretan, saya menuju perempatan pahlawan – surapati. beberapa jepretan saya layangkan ketika dalam perjalanan menuju dan saat sedang berada di perempatan pahlawan – surapati. lalu lintas dari arah timur yang memiliki latar matahari terbit, adalah salah satu objek yang saya gemari saat itu. namun sayang, meskipun telah beberapa kali jepretan saya layangkan ke sana, tak satu pun foto memiliki fokus yang jelas dan cenderung tak memiliki jiwa (soul).

tak ambil pusing, saya lanjutkan perjalanan ke arah barat menuju pasar cihaurgeulis. tiga unit taksi yang sedang parkir berjajar tak jauh dari perempatan, tak luput dari jepretan saya. fokus adalah permainan saya pada 3 taksi ini.

beberapa puluh meter kemudian menuju arah barat, tepatny di pertigaan jalaprang, saya kembali memainkan kamera. kali ini gedung mobile-8 dan hotel yehezkiel, menjadi target jepretan saya. dipadukan dengan menara yang terpancang di belakang gedung mobile-8 dan pantulan cahaya dari arah timur, membuat saya puas mengambil gambar yang satu ini.

setelah beberapa kali saya ambil fotonya, perjalanan saya lanjutkan. di sepanjang perjalanan, pedagang kaki 5, tukang jamu, sekumpulan wanita tu yang sedang berolahraga, sampai anak sekolah, tak luput dari jepretan saya waktu itu. “perjalanan 30 menit yang mengasyikkan,” pikir saya.

akhirnya, tibalah saya di pasar cihaurgeulis. kalo sesi foto2 tadi hanyalah pemanasan, yang ini merupakan acara motret betulan. potret pertama saya coba layangkan ke pedagang ayam yang sedang baca koran pagi. setelah beberapa kali jepretan, membuat dia sadar akan keberadaan saya. bukan senyum yang menghampiri, malah tatapan mata sinis yang saya terima. meninggalkan nyengir, akhirnya saya langsung meninggalkan sang pedagang ayam untuk mencari objek lain.

masuk lebih dalam ke arah pasar, adalah pilihan yang saya ambil. belajar dari tatapan sinis pedagang ayam, akhirnya saya usahakan mengambil foto tanpa diketahui orang yang menjadi obyek foto. obyeknya pun pilih2. pedagang sayuran, buah2an, ikan, dan beberapa orang pembeli, saya pilih sebagai obyek. sedangkan pedagang daging, ayam, dan pedagang lainnya yang sekiranya memegang golok atau benda tajam lainnya, cenderung saya hindari. hal ini untuk mengurangi resiko dikejar2 oleh pedagang bersangkutan yang tidak terima kalo difoto dan memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk mengacung2kan golok kalo2 mengejar saya (setidaknya, itulah yang saya pikirkan ketika itu).

meskipun begitu, ada juga beberapa pedagang yang tersenyum ketika melihat apa yang saya lakukan. tak jarang ada yang minta diabadikan oleh saya. “kang, menta dipoto tuh kang. hoyong asup ka koran cenah,” ungkap seorang pedagang kepada saya yang nampakny berpikiran kalo saya adalah seorang wartawan.

hampir 1 jam lamanya saya mengitari pasar suci untuk mencoba mengabadikan kehidupan sosial di dalamnya. ternyata, tidak semudah yang saya bayangkan. pencahayaan yang kurang, moment yang begitu cepat, dan agak sensitifnya obyek foto (sensitif maksudny sadar kamera dan malah bergaya ketika akan difoto), adalah beberapa hambatan yang saya temui di lapangan.

resiko dikejar2 dengan golok yang diacung2kan (meskipun hal ini sebenarnya sangatlah berlebihan dan hanya terjadi di dalam pikiran saya semata) atau setidaknya dilihat dengan tatapan sinis, merupakan hal yang mungkin terjadi ketika obyek foto tidak nyaman dengan apa yang kita lakukan. saya kira, bukan hanya teknik memotret yang harus dimiliki setiap tukang foto, tetapi juga keberanian yang lebih untuk tetap cuek kalo dikasih tatapan sinis. atau mungkin, keberanian memotret obyek yang sama, meskipun sang obyek foto pernah mengacung2kan golok ke arah kita sebelumnya.

introspeksi sesi photowalking kali ini buat saya pribadi adalah perlu belajar memotret subyek yang jelas. kebanyakan gambar yang saya ambil ngak fokus dan ngak jelas apa yang mau diceritakan. gambar tak memiliki maksud dan cenderung asal bagus. nampaknya karena terlalu terburu2 membayangkan kriteria foto yang bagus. gambar selengkapnya yang saya ambil dalam minggu ini, bisa dilihat di album flickr saya.

5 thoughts on “Satuday PhotoWalking: Jadi Tukang Foto Butuh Keberanian Ekstra

  1. Anggi berkata:

    Pas buka blog ni,lamaaa bgt.g ky buka blog laennya.ternyata..ukuran datanya di postingan ni lmyn berat.bikin lola+boros pulsa.huh..
    Hehe..
    Kpn2 aku yang jd obyek pemOtretannya ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s