Kembali Berkasih dengan Tuhan


“sudah, lebih baik kita cukupkan saja hubungan kita ini,” tegasku. suasana sekejap hening, tanpa suara, dan berhias dengan ratapan tangisny. ratapan tangis seorang gadis yang tidak rela hubungan yang telah terjalin 6 bulan lamany ini, kandas begitu saja tanpa sebab.

“tolong jelaskan. kenapa? kenapa, bud?” tanya santi di seberang telepon sana. aku sendiri tak tahu apa yang harus ku jawab. rasa bersalah ini, tak mampu untuk aku ungkapkan padanya.

“atau jangan-jangan… jangan-jangan kamu menaruh hati pada gadis lain…???” tuduhny. sejenak ku hanya berdiam seribu kata. lidah ini terasa kaku dan gagu. pikiranku terbang melayang tak tahu arah diiringi oleh alunan tangis santi yang sejak tadi tak henti-hentiny berrima dan berirama.

“ya, aku memang menaruh hati pada yang lain,” ucapku tiba2 tanpa sadar. jawabanku ditanggapi murka dan histeris oleh santi.

“pada siapa…?!?!?! pada siapa, bud…???” teriakny dengan suara memelas dan perlahan.

“apakah yang aku berikan padamu kurang…??? apakah selama ini cinta yang aku berikan tak cukup nyata untuk kita berdua…???”, tanyanya dengan amarah yang mulai naik.

aku bingung bagaimana mempertanggungjawabkan ucapan tanpa sadarku tadi. kebingungan ini tanpa sadar membawaku pada masa lalu. masa lalu yang penuh dengan penyesalan. masih teringat jelas bagaimana sebuah perasaan telah tercurah dulu. perasaan yang dsertai janji untuk selalu menyayanginya hingga ajal memisahkan kami berdua.

seminggu, dua minggu, memadu kasih dengannya cukup membuat diri ini senang. meskipun di balik itu semua hatiku mulai menunjukan ketidaksukaan pada hubungan kami berdua. rasa was-was, wanti-wanti untuk menghentikan hubungan kasih kami berdua, selalu terngiang di telingaku. namun, lagi2 diriku lebih memilih untuk tetap menjalani masa pacaran ini. toh, aku sudah sepakat tidak pernah melakukan hal yang di luar batas, termasuk berpegangan tangan.

hingga ketika hubungan kami berdua menginjak pada bulan ketiga. kami sudah semakin erat saja dari hati ke hati. teringat dengan jelas, bagaimana pertama kalinya aku memegang tangan seorang perempuan yang bukan hakku. dengan alasan hanya untuk menuntunnya menyeberang jalan, aku menggenggam erat tanganny dan menuntunnya tepat di belakangku.

peristiwa itu memang membuat hatiku dag-dig-dug tak karuan. ada perasaan bersalah, berdosa, lantaran mengingkari apa yang menjadi prinsipku, serta prinsip yang agamaku tanamkan. namun lagi-lagi cinta ini membunuh kesadaranku untuk mendengarkan hatiku. tidak hanya itu saja. ketulianku terhadap hatiku, menganggap kejadian itu nampak menjadi sesuatu yang biasa.

sejak saat itu, hubungan kami semakin erat saja. berpegangan tangan merupakan hal yang lumrah untuk kami berdua. berjalan-jalan ke mall, duduk di angkot, makan di restoran, hingga hanya sekedar untuk membeli gula di warung pun, kami lakukan berdua sembari berpegangan tangan. tak ayal kejadian ini memicu banyak kejadian lain. aku merangkulnya saat sedang berjalan-jalan. dia memelukku erat-erat sedemikian dekat ketika menaiki motor. dan akhirnya semua itu begitu lumrah dan sangat biasa bagi kami.

tiba ketika dua minggu yang lalu. ketika kami berdua memutuskan untuk nonton di bioskop. pilihan jatuh pada bangku paling kanan barisan ketiga dari belakang. dia berada tepat di sebelah kiriku. memegang erat lenganku sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.

suasana saat itu cukup gelap. tapi tidak cukup gelap untuk bisa melihat wajahnya yang manis dan putih. film kemudian diputar 5 menit kemudian setelah kami duduk. perlahan-lahan, posisi duduk kami berubah sesuai selera tubuh. tangan kiriku merangkul dia yang dibalas dengan bersandarnya kepalanya di depan dadaku, menjadi posisi enak kami duduk saat itu. itu belum ditambah dengan tangan kami yang masih saja bergenggaman erat.

di pertengahan film, tiba-tiba saja tangan kirinya memalingkan wajahku dari layar bioskop yang lebar. pandanganku tepat jatuh di matanya yang indah dan berwarna kebiruan. tatapannya begitu mempesona, anggun, dan menggairahkan. hingga tanpa sadar, bibir kami akhirnya bersentuhan.

lima menit…??? sepuluh menit…??? entah berapa lama kami berciuman. begitu nikmat, begitu menggairahkan, hingga kami berdua tak sadar posisi duduk telah berubah. tangan kananku tepat berada di pinggangnya. kedua tangannya, tepat merangkulku di belakang leher.

“duarrr…” suara tembakan akhirnya menyadarkan kami berdua. sang pemeran utama tertembak tepat di jantungnya. kami berdua lalu tersadar sembari menghentikan kenikmatan bercumbu yang beberapa saat lalu telah kami alami. dengan sigap, masing-masing kami langsung duduk menghadap layar dengan wajah yang lugu meneruskan tontonan.

“ya, tuhan…!!! tuhan…!!! kenapa engkau begitu teganya membiarkan dia tewas tepat di tanganku,” tutur kekasih pemeran utama. “tuhan…!!! apakah kau mendengarkanku…??? apakah memang engkau benar-benar ada…???” lanjut si kekasih.

tiba-tiba saja kata tuhan hinggap di pikiranku. semakin lama, gaungnya semakin besar dan keras di telingaku. semakin jelas terdengar. semakin jelas juga terlintas ingatanku. ingatan tentang apa yang telah kulakukan. bahkan, ingatan itu bercampur aduk dengan kata tuhan. semakin hebat, semakin menggema, dan semakin tak terbantahkan.

sejak kejadian itu, aku terus memikirkan tuhan, tuhan, tuhan, dan perbuatanku dengan kekasihku. prinsip yang dulu pernah kupegang, hilang begitu saja tanpa bekas, tergilas kata cinta dan sayang yang semu. rasa salah itu, rasa dosa itu, rasa sesal itu, tiada henti-hentinya terngiang-ngiang di telingaku, sembari terus menerus mencambukku, menghasilkan perih, menghasilkan sakit, menghasilkan pilu, menghasilkan kebimbangan.

“budi…!!! jawab, bud…!!!” teriak suara di seberang telepon sana menyadarkanku.

“tuhan,” jawabku.

“tuhan,” lanjutku.

“tuhan yang telah mencuri hatiku, san,” ujarku lengkap.

“tuhan yang telah kutaruhkan hatiku padanya, san,” ungkapku panjang lebar.

“tuhan,” tegasku.

“tak pernah kah kau berpikir atas apa yang telah kita perbuat selama ini, san?!” tanyaku keras yang disambut keheningan tak terbantah dari ujung telepon sana.

“aku begitu takut mengingatnya. aku begitu berdosa melakukannya. aku begitu menyesal pernah mengalaminya. tidak kah kau rasakan hal yang sama?!” teriakku dalam. santi masih saja terdiam di ujung sana. tak berdaya. dan tanpa kata.

“tapi, bud,” imbuhnya pelan.

“tak ada tapi, san. kini, cuma tuhan cintaku. hanya dengan izin tuhan aku berkasih. dan dengan ridho tuhan aku mencintai,” balasku pelan. kami berdua hening tanpa kata. tanpa makna. dan tanpa bicara.

“semoga kau layak mendapatkan yang lebih baik,” ucapku menyudahi sembari menutup telepon.

11 thoughts on “Kembali Berkasih dengan Tuhan

  1. Yudha P Sunandar berkata:

    @ agus setiadi
    apaan sih akang. jadi malu. hihihi๐Ÿ˜€

    @ nindy
    malu sendiri gmana, nin?

    @ rita
    itu namany bukan pengecut. beda makna antara pengecut dengan tidak mendengarkan kata hati sendiri. contohny: kata hati seorang pencuri misalny. ketika berniat untuk mencuri, tentunya kata hatiny udah mencegah. tapi ternyata dia tidak mendengarkan kata hatiny atau mungkin juga dia tidak bisa mendengarkan kata hatiny. kemudian dia mencuri. apakah pencuri itu disebut pengecut…???
    untuk masalah nikah. nikah tuh ngak segampang membalikan tangan aja. apalagi di indonesia yang notabeneny masih terselip unsur2 gengsi dan orang tua ketika menikah. belum lagi, masalah niat.
    apakah menikah harus selalu dengan niat atau alasan ngak kuat pengen ML? nampakny, kalo niat dan alasanny kaya gini mulu, bisa jadi cuman kawin-cerai mulu kerjaanny. sedangkan menikah merupakan perbuatan yang sangat mulia dan memiliki nilai luhur yang tidak biasa. sayang kalo harus teracuni dengan niatan dan alasan busuk kaya gitu.
    tentang cerita ini, sayangny tidak diangkat dari cerita pribadi siapa pun.

    @ anis
    mau dong mba kalo ada yang ngebayar ngeblog. hehehe

    @ natazya
    emang ditampar ama sapa, nat?๐Ÿ˜€

    @ budiono
    salam kenal mas Budi. maaf, tiba2 aja nama itu yang nongol di kepala. hehehe๐Ÿ˜€
    selamat blogwalking, mas…๐Ÿ˜‰

    @ sandra
    setidakny, tokoh utama tidak sepengecut orang yang pake alamat email palsu dan alamat blog orang lain untuk komen di postingan ini.
    dan setidakny, cowo yang sadar untuk menjauhi perbuatan zina karena tuhanny, jauh lebih baik dan jauh lebih mulia dibandingkan cowo dan cewe yang melakukan perbuatan zina berat.

  2. sandra berkata:

    Gw setuju dengan Rita. Tokoh cowoknya pengecut, tidak gentle. Alasan pertama, karena dia hanya berani bicara via telepon. Alasan kedua, jika memang ingin berbuat baik, nikahi saja pacarnya itu. Bukannya melarikan diri seperti itu. Btw, cerpen ini kurang terasa rohnya. Datar-datar saja.

  3. Rita berkata:

    Yg ketangkep waktu baca postingan ini.. “si aku” nya pengecut. Kenapa ga bilang dari awal klo ga nyaman sama hubungan itu. Bukannya ngajakin nikah malah mutusin.. Tapi salut juga sih buat “si aku” yg bisa ngomong meskipun via tlpn. Ada juga kan yg ga bisa ngmng meskipun via tlpn. Boro2 ngomong, ngangkat tlpn jg ga mau.. anw, bukan kisah yg diangkat dari cerita pribadi kan, dha?

  4. Yudha P Sunandar berkata:

    @ all
    apakah mencintai harus selalu diejawantahkan dalam bentuk berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman, padahal itu bukan sesuatu yang belum berhak dilakukan?

    meskipun mencintai atas nama tuhan sekalipun, yang belum berhak, yah belum berhak.๐Ÿ™‚

    anw, mau nanya, emang yang ketangkep waktu baca postingan ini apa? trims yah…

  5. nung berkata:

    pertamax….
    karna cinta nya pada Tuhan kmudian blajar mncintai hamba-Nya kan wajar,,,bukan berarti malah untuk putus,,
    cintai hamba-Nya karena cinta kepada-Nya, bener ga seh???๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s