Kuliah bukan semata untuk bekerja


Ketika seorang mahasiswa menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi, hal pertama yang biasanya ditanyakan adalah dimana dia akan bekerja. Pertanyaan ini banyak ditanyakan kepada para lulusan perguruan tinggi saat ini. Tentu saja hal ini merupakan sesuatu yang wajar karena paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini adalah sekolah tidak lain untuk bekerja.

Duane Elgin, penulis buku Voluntary Simplicity memaparkan sebuah studi yang dia lakukan selama 30 tahun terhadap 9 juta mahasiswa tingkat satu pada 1.500 kampus di Amerika Serikat. Setelah menjalankan studinya selama 2 tahun, yaitu pada tahun 1968, penelitiannya menyebutkan bahwa 83% mahasiswa baru memilih “Mengembangkan filsafat hidup yang bermakna” sebagai tujuan kuliahnya dan hanya 43% yang memilih “Supaya keuangan mantap”.

Setelah 30 tahun berlalu, yaitu pada tahun 1996, penelitian Elgin memperlihatkan bahwa 72% tujuan mahasiswa berkuliah adalah untuk memperoleh keuangan yang mantap dan hanya 42% saja yang memilih untuk mengembangkan filsafat hidup yang bermakna.

Dari penelitian Elgin tersebut, dapat disimpulkan bahwa selama 30 tahun telah terjadi pergeseran paradigma mahasiswa di Amerika Serikat dari paradigma berkuliah untuk mengembangkan ilmu menjadi paradigma berkuliah untuk memperoleh penghidupan yang mantap. Hal ini tentu saja merupakan indikator yang kurang baik bagi masyarakat. Sebab, peranan mahasiswa yang dulunya sebagai agen perubahan masyarakat telah bergeser ke arah yang lebih materialistis sehingga bisa jadi menumpulkan kepedulian terhadap issue-issue sosial kemasyarakatan akibat sibuk mengejar kekayaan semata.

Investasi pendidikan mahal

Salah satu penyebab keadaan ini adalah karena mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi saat ini. Dengan biaya yang “mencekik” ini, mahasiswa dituntut untuk mengembalikan nilai investasi yang sangat besar dengan cara bekerja setelah lulus kuliah. Fenomena ini tentu tidak akan kita dapati apabila biaya pendidikan rendah atau tanpa biaya sama sekali alias gratis.

Contohnya saja bidang kedokteran. Di tanah air, biaya untuk masuk Fakultas Kedokteran saja sudah sangat tinggi dan tidak masuk akal, yaitu mencapai ratusan juta rupiah. Wajar saja apabila kesehatan di negara ini sangat mahal karena para dokter dan tenaga medis lainnya harus mengejar setoran untuk mengembalikan investasi awal yang orang tua mereka tanamkan.

Sebuah pelajaran dari sebuah negara yang terletak di Amerika Latin sana patut kita tiru. Negara yang berpresidenkan Fidel Castro ini mampu menekan angka kematian bayi hingga terendah di seluruh Amerika Latin, yaitu 7,2 per 10 ribu kelahiran hidup pada tahun 2000. Selain itu, angka kematian ibu akibat kehamilan dan kelahiran anak juga mampu ditekan hingga 34,1 per 100 ribu perempuan.

Keberhasilan ini didapat karena Kuba mengeluarkan biaya untuk sektor kesehatan hingga mencapai US$ 106 per kapita per tahun (5,3% GDP) dan mampu menyediakan sekolah gratis kedokteran bagi warganya yang berminat. Hal ini menjadikan dokter Kuba rela tidak digaji tinggi karena pendidikan kedokteran yang mereka terima dibiayai oleh negara. Selain itu, dokter-dokter Kuba juga dikenal akan dedikasi profesinya yang luar biasa tinggi dan tidak tergiur oleh uang seperti dokter di kebanyakan negara.

Haruskah semata-mata untuk uang?

Meskipun biaya yang dikeluarkan untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi sangat besar, tidak berarti seorang lulusan harus melupakan idealismenya sebagai seorang mahasiswa yang berperan menjadi agen perubahan masyarakat. Kesempatan untuk mengecap pendidikan tinggi ini sudah seharusnya digunakan untuk mensejahterakan masyarakat. Dengan mensejahterakan masyarakat, maka diri kita juga akan sejahtera tanpa kekurangan apapun juga. Lebih dari itu, bukan hanya kesejahteraan yang bersifat badaniah saja yang akan diterima, tetapi meliputi kesejahteraan yang bersifat rohaniah juga. Seperti kata seorang filsuf terkenal dunia, Karl Marx, ketika kita memilih posisi yang memungkinkan kita memberi sumbangan terbesar bagi kemanusiaan, segala beban tidak lagi memberatkan kita. Karena, semua itu hanyalah pengorbanan bagi sesama manusia. Lalu kita tidak lagi merasa kekurangan, keterbatasan, egoisme.

yudh on PemudaBersuara.com

3 thoughts on “Kuliah bukan semata untuk bekerja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s