Kita Ambil Hikmahnya Aja, Deh…


tragedi hari ini seharusnya cukup ditanggapi dengan bijak. mengerti kesalahannya, dan mulai memperbaiki, minimal untuk tatanan diri sendiri. karena aku adalah seorang jurnalis juga, yang kegiatannya tak lepas dari dunia menggarap informasi kemudian menyampaikannya ke masyarakat luas, nampaknya ini bisa dijadikan pelajaran tersendiri untuk aku dan teman2 yang ada di ranah yang sama. berikut beberapa hikmah yang bisa kudapet.

  • membiasakan diri membawa alat perekam ketika menggali informasi. waktu jadi reporter di majalah visi pelajar indonesia, nukleus, dan habitat, setiap wawancara seseorang aku selalu bawa alat perekam. karena memang waktu itu alat perekam disediakan, jadi bukan soal bagiku untuk pake alat perekam. selain untuk bahan rujukan wawancara, alat perekam juga bisa dijadikan bukti andaikata ada pihak yang menggugat bahwa yang kita tuliskan tidak valid. apalagi kalo yang diwawancarai merupakan orang yang seluruh ucapannya dijadikan sumber tulisan seperti rubrik wawancara dengan tokoh. kebutuhan alat perekam pasti sangat dibutuhkan di sini.
  • pelajari bidang yang akan kita kaji. dengan mempelajari bidang yang akan kita kaji dan kita tanyakan kepada narasumber, akan memudahkan kita untuk fokus terhadap permasalahan. selain itu, istilah2 yang sering terdengar ambigu dan bias karena ketidakjelasan bicara narasumber atau faktor lainnya, dapat seminim mungkin dihindari. sehingga informasi tersampaikan sesuai dengan apa yang dimaksud narasumber.
  • cek kembali tulisan yang sebagian besar memuat wawancara narasumber ke narasumber bersangkutan. sewaktu di majalah nukleus, aku pernah disarankan untuk mengirimkan ke narasumber tulisan hasil wawancara. tapi, lantaran dulu males banget, akhirnya saran ini ngak aku kerjain. tapi untungnya sampai sekarang ngak ada yang komplen. malah, tau2 aku yang kena getahnya.
  • jangan lupa berfoto bersama dengan narasumber kalo ternyata sang narasumber adalah artis, tokoh, atau pejabat terkenal. poin yang keempat ini sebenernya cuman joke waktu sma dulu dan ngak termasuk dalam hikmah.😀 dulu, waktu mau wawancara artis untuk dijadikan narasumber di majalah nukleus, kami selalu dateng lebih dari 2 orang. setelah selesai wawancara, kami habiskan waktu dengan foto2 bersama narasumber. pernah suatu ketika aku cuman dateng ama temenku berdua ngewawancarai mba sita, salah satu personil rsd. waktu mau di foto, ternyata ngak ada orang lain selain aku, temenku, dan mba sita. akhirnya, lantaran aku yang wawancara ama mba sita, akulah yang dapet jatah foto. selain itu, karena waktu itu jamanny masih pake roll film dan tersisa cuman untuk 1 jepretan lagi, akhirnya tetaplah jatah difotony untuk aku. nah, temenku ini ternyata kesel ama keadaan ini. alih2, bukan foto bagus berdua ama mba sita yang kudapet, malah aku difoto keliatan setengahnya doang. ketika kutanya, temenku sensi ama aku dan akhirnya memutuskan untuk moto mba sita sendiri dan mengacuhkan aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s