Bisakah Mandiri untuk Berdiri…???


beberapa minggu yang lalu, aku sedikit berdebat dengan seorang kawan mengenai sebuah prosedur. entah kenapa berdebatan ini muncul. padahal prosedur ini udah bener, baik menurutku maupun menurut kawanku. setelah aku coba renungi, ternyata aku tau apa yang memicu perdebatan ini, yaitu prosedur tersebut diambil dari organisasi yang udah telah lebih mapan terlebih dahulu.

entah kenapa, kalo aku denger perkataan, ‘kalo di sana tuh kaya gini’, aku akan bilang kalo itu salah dan nggak tepat. hanya satu alasan, aku terbiasa mandiri dalam menentukan sesuatu, termasuk membuat prosedur dan tek-tek bengek lainnya. alasan inilah yang ngebuat aku nggak pernah mencontoh sesuatu hal sampai tuntas. alasannya, keunikanku takut terkontaminasi ama ide2 orang.

kebiasaan ini cukup lama ada. awalnya dimulai dari waktu bikin nukleus. di sini aku bener2 menuntut kemandirian penuh untuk bikin majalah. mulai dari cari berita, nulis, editing, layout, ampe menyusun rubrik majalah, dilakukan dengan mandiri tanpa mencontoh secara tuntas ke majalah atau koran lainnya. andaikata mengalami kebuntuan, bertanya dan membaca buku adalah solusi. meskipun pada akhirnya memang mencontoh kembali ke majalah yang sudah ada. tetapi dengan frekuensi yang dikurangi dibandingkan sebelumnya.

hal yang paling aku benci waktu itu adalah disuruh ngikut pelatihan jurnalistik. alasan disuruh ikut pelatihan, karena waktu itu aku melakukan kesalahan yang cukup fatal, yang pada akhirnya pihak lsm mengambil sikap seperti itu. meskipun dengan sedikit kesal, akhirnya ngikut juga pelatihan jurnalistik. meskipun sejujurnya setelah pelatihan jurnalistik banyak ilmu yang aku dapat, tapi tetep aja aku masih di pendirian kalo pelatihannya nggak terlalu memuaskan. yah karena itu tadi, aku lebih seneng kalo semuanya muncul dari diri kita masing2. karena kita adalah unik. akhirnya kebiasaan itu terbawa ampe sekarang. kebiasaan bahwa sesuatu itu kalo kita bisa tentukan sendiri, kenapa tidak.

beberapa minggu yang lalu juga sempat berdiskusi dengan mba enggar. beliau berkata, kalo sebenernya orang2 di indonesia selalu menuntut sebuah contoh. kalo belum ada contoh, nggak bisa ngebuat sesuatu. mungkin inilah karakteristik jebolan siswa2 yang sekolah di indonesia. terlalu banyak bergantung ama orang. waktu dulu sekolah, semuanya bergantung ama guru. dari mulai soal materi pelajaran, sikap, nilai, dan yang paling parah, soal salah dan benar pun bergantung ama guru. hasilnya, yah selalu bergantung ama orang.

sedikit meluapkan kekesalan, apakah kita nggak bisa sepenuhnya mandiri? mandiri untuk menentukan jalan hidup kita? mandiri untuk menentukan siapa kita? dan juga mandiri untuk menentukan pikiran kita? atau sebenernya kita masih belum merdeka dari sistem yang selalu mengekang kita untuk tidak bisa mandiri, baik secara pikiran, perbuatan, dan tindakan?

dipikir2, capek rasanya kalo harus terkekang seperti ini. solusinya, mari buat organisasi baru, lembaga baru, perusahaan baru, dan segala hal yang baru2. cuman ingin memperlihatkan bahwa aku adalah merdeka dan bebas, baik dari pemikiran, perbuatan, dan tindakan.

Iklan

5 respons untuk ‘Bisakah Mandiri untuk Berdiri…???’

  1. Yudha P Sunandar berkata:

    @ enggar
    via email aja yah mba. 😀

    @ ghian
    kok tau kang…??? tau dari mana? wah, gosip memang cepat menyebar. hahahaha…
    terima kasih… terima kasih…

  2. enggar berkata:

    Opo toh masalah pribadimu, Yud? :). Kalimat belajar berdamai itu dari mas Koen, kalau dia lihat aku sudah mulai error :). Gimana kalau kapan-kapan cerita ke aku aja? hehehe.

  3. Yudha P Sunandar berkata:

    belajar berdamai dengan diri sendiri, mba? terdengar aneh, tapi cukup asyik sepertinya untuk dicoba. ah, mungkin aku perlu berkonsultasi dengan psikiater. mumpung temenku lagi ada di bandung. belakangan ini memang lagi ngerasa terbebani dengan masalah pribadi. hehehe.

  4. enggar berkata:

    Wah, ada yang lagi ngambek? :). Mungkin yang membuat mu kesal adalah karena merasa dibanding-bandingkan. Boleh kasi nasihat? ehemm.. 🙂 Belajar berdamai dengan dirimu sendiri. Karena ketika kita terjun ke tengah masyarakat, maka persoalan seperti itu akan lebih beragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s