Budaya Mana yang Harus Kita Pertahankan…???


membaca buku ‘masa depan budaya daerah’ karya ajip rosidi, membuat kita merasa harus berbuat sesuatu untuk budaya kita. satu hal yang terpikirkan olehku adalah, budaya yang mana yang harus kita pertahankan…???

indonesia memiliki banyak ragam budaya. masing2 budaya dimiliki oleh suku2 tertentu. misalnya, budaya sunda dimiliki oleh orang2 di tatar jawa barat yang bersuku sunda. budaya jawa, dimiliki oleh orang2 di wilayah jawa tengah dan jawa timur yang dikenal dengan sebutan suku jawa.

yang sulit adalah orang kaya aku ini. orang yang punya benturan budaya dan suku. aku adalah orang yang dilahirkan dari orang tua yang bersuku sunda dan jawa. pertanyaannya adalah, budaya mana yang harus aku pertahankan? budaya sunda atau budaya jawa…??? kalo mempertahankan budaya sunda, aku juga punya tanggung jawab untuk melestarikan budaya jawa. kalo mempertahankan budaya jawa, aku juga punya tanggung jawab juga untuk mempertahankan budaya sunda. kalo mempertahankan keduanya…??? boleh juga. tapi tentunya membutuhkan usaha yang dua kali lebih besar dengan hasil yang belum tentu maksimal. tapi ini masih mending dibandingkan orang2 yang terlahir dari orang tua yang berbeda negara. biasanya ini lebih rumit lagi masalahnya.

benturan yang lainnya berkaitan dengan agama dan keyakinan yang dianut. ambil contoh, seni tari di sunda aja. kebanyakan pakaiannya memperlihatkan aurat untuk wanita. ini menjadi bermasalah ketika seorang wanita sunda berkerudung dan peduli dengan yang namanya kesenian tari sunda. tentu ini jadi soal karena dia harus memilih antara budaya atau agama.

meskipun begitu, punya sikap positif adalah lebih baik dari mempunyai sikap negatif atau nggak punya sikap sama sekali. memilih salah satu budaya daerah yang memang benar2 disukai adalah lebih penting dibandingkan lebih memilih budaya asing. setidaknya kita punya peranan untuk menentukan identitas asli diri kita masing2.

Iklan

6 thoughts on “Budaya Mana yang Harus Kita Pertahankan…???

  1. Yudha P Sunandar berkata:

    usaha bernilai ibadah…??? hal yang sering dilupakan orang untuk berbuat sesuatu. trims sudah mengingatkan. 😀

  2. Syafrudin Abi-Dawira berkata:

    1. Adik saya kebetulan kuliah di UPI Tata Busana. Salah satu kreasinya adalah modifikasi pakaian adat salah satu daerah agar bisa digunakan oleh muslimah berkerudung. Betul akan jadi aneh kalau misalnya baju daerah yang aslinya lengan sangat pendek diganti menjadi lengan panjang. Yang dilakukan kemudian menambah baju dalam yang lengan penjang dengan warna yang “netral”, lalu baju “asli”-nya dijadikan sebagai baju luar. Pengembangan seperti ini yang memang membutuhkan keterlibatan “profesional dalam bidangnya”, seperti orang tata busaha untuk modifikasi busananya, orang seni tari untuk menyesuaikan gerakan tarinya (misalnya ada gerakan seronok yang harus diperbaiki), dan seterusnya.

    2. Bagaimanapun orang muda hasil didikan orangb tua 🙂 Makanya saya hendak berprinsip bahwa ini harus dimulai dari keluarga sendiri, bagaimana bisa mendidik anak agar tidak kehilangan jati diri.

    3. Usaha yang besar akan lebih mudah dilakukan manakala niat kita “jelas”. Kalau buat saya, kita niatkan sebagai pengamalan ayat “Diciptakan kamu bersuku – suku dan berbangsa – bangsa untuk saling mengenal”. Jadi usaha kita seharusnya bernilai ibadah, bukan sekedar idealisme biasa.

  3. Yudha P Sunandar berkata:

    1. berkembang memang harus. tapi perlu ada beberapa sisi yang dipertahankan yang memang jelas itu vital. misalnya, dalam tarian sunda. kalo diganti penarinya pake kerudung, kayaknya ada nilai yang hilang. karena pakaiannya bisa jadi sangat berbeda dan bisa jadi nggak dikenali nantinya.

    2. di tataran orang tua memang ada kebutuhan akan jati diri. tapi di anak muda? banyak anak2 muda yang udah nggak kenal budaya mereka sendiri. contohnya, banyak anak muda sekarang yang nggak bisa ngomong bahasa daerah sendiri. itu merupakan contoh bagaimana mereka udah kehilangan identitas.
    lagian, pelestarian budaya di indonesia ada banyak kesalahan. misalnya, budaya selalu diidentikan dengan seni pertunjukan tanpa melihat masyarakat tempat budaya tumbuh. akhirnya, akar tempat budayanya hancur dan budaya menjadi seni sebagai identitas dalam acara formal semata.

    3. yups. saya setuju dengan yang ini. tapi seperti yang saya tulis, memilih semuanya tentunya membutuhkan usaha yang beberapa kali lipat lebih besar.

  4. Syafrudin Abi-Dawira berkata:

    1) Menari dengan berkerudung ?
    Mahasiswi Seni Tari UPI banyak kok yang berkerudung. Justru itu maknanya seni dan budaya harus berkembang, salah satunya ya mengembangkan agar lebih selaras dengan kebutuhan kekinian

    2) Globalisasi dan Budaya.
    Desakan globalisasi tidak membuat tren terhadap kebudayaan lokal menurun, justru sebaliknya. Dalam situasi global seperti sekarang, justru kebutuhan terhadap jati diri sebagai pembeda menjadi sangat penting. Soal pakaian misalnya. Kalau kita melihat foto, kita dengan cepat bisa tahu ini orang malaysia dari baju belanga mereka, begitu pula yang dari negeri lain.
    Bisa kita bayangkan misalnya di sebuah pesta kita berdandan menggunakan tuxedo gaya barat, berbicara dengan bahasa Inggris, makan dengan table manner barat, lalu siapakah kita kiranya ? Berbeda jika kita menggunakan beskap misalnya, meski kita berbicara dengan bahasa Inggris fasih sekalipun, orang akan tahu siapakah kita.

    3) Benturan budaya ?
    Saya lahir dari kedua orang tua suku jawa, lahir dan besar di jawa tapi memang sejak awal berniat menikah dengan orang beda suku. Istri lahir dari kedua orang tua suku Indonesia timur, lahir dan besar di betawi. Kini anak – anak kami lahir (kecuali si sulung) dan besar di tanah sunda.
    Adik saya menikah dengan orang sunda. Adik ipar saya menikah dengan American-African.
    Sudah lumayan heterogen kan ?
    Budaya yang mana yang dipertahankan ? Saya memilih ketiganya: budaya darah saya, budaya darah istri, dan budaya tanah tempat saya tinggal.

  5. Yudha P Sunandar berkata:

    bukan masalah boleh atau nggak, tapi wajar apa nggak.
    tapi kalo itu sebuah trend baru dan bisa diterima oleh masyarakat, kenapa nggak. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s