Antara Aku dan Ajip Rosidi


foto ajip rosidi

sumber foto: dokumentasi 70 tahun ajip rosidi

tadi sore, daripada bete di kostan, akhirnya mampir ke ke toko bandung book center (bbc), sebuah toko buku diskon yang ada di jalan suci, sebelah itenas. niatnya cuman beli penyimpanan untuk naro tulisanku yang udah dimuat di media massa cetak, tapi iseng liat2 buku.

biasanya aku liat2 buku di bagian novel, bahasa, psikologi, dan filsafat. tapi tumben2an aku nyasar ke bagian sosbud. biasanya aku jarang ada di area ini karena buku2nya kebanyakan text book untuk orang kuliahan. tapi ternyata nggak sengaja nemu banyak buku sosial dan budaya populer yang tipis2. merasa penasaran, aku coba liat satu2 dan secara nggak sengaja mataku jatuh di 1 buku berjudul ‘masa depan budaya daerah; kasus bahasa dan sejarah sunda’. aku lumayan tertarik dengan judul bukunya. tapi yang ngebuat aku lebih tertarik adalah nama pengarangnya, ajip rosidi. salah satu sastrawan dan budayawan ternama di indonesia dan dunia di era tahun 80an. meskipun uang udah menipis, padahal akhir bulan masih jauh, tapi karena rasa penasaran yang lumayan tinggi dan pengen tau seperti apa pemikiran ajip rosidi, akhirnya di beli lah buku itu.

sebenarnya nggak ada yang membuat aku tertarik dengan ajip rosidi. ngeliat karyanya pun belum pernah. apalagi ngeliat orangnya. tapi yang bikin aku penasaran karena nama ajip rosidi selalu disebutkan oleh bapakku setiap kali kami berdua lewat di depan rumah orang tuanya di jatiwangi. menurut cerita beliau, ajip rosidi masih punya hubungan darah dengan keluarga bapakku. hubungan darah yang masih cukup dekat.

setibanya di kostan, aku mulai buka lembar demi lembar. di halaman pertama bukunya, menceritakan sekilas biografi ajip rosidi. dan memang benar, beliau lahir dan bersekolah dasar di jatiwangi. karena tertarik lebih tau lagi mengenai beliau, aku tanya ke om google. penasaran dengan orangnya, aku juga cari fotonya. dan yang mengejutkan, fotonya mirip banget dengan kakekku. terlebih lagi dari bagian hidung ke atas, mirip banget.

menemukan sosok ajip rosidi membuatku menemukan pencerahan baru. jawaban atas pertanyaanku selama ini. aku selalu bertanya2 mengapa aku senang dengan bahasa, sastra, sosial, dan budaya dari mulai aku smp. aku juga selalu senang menyusun kata2 lewat puisi. lebih dari itu, aku juga pernah beberapa kali menjuarai lomba puisi. meskipun tingkatnya lokal, tapi itu sudah membuktikan bahwa aku punya bakat di situ. tapi, karena urusan gengsi dengan jurusan ipa, menjadikan aku terjerembab di dunia ‘if’, ‘then’, ‘else’.

yang paling penting sekarang ini dari menemukan sosok ajip rosidi, adalah kemampuan belajarnya yang otodidak setelah keluar dari smp. nggak ada keterangan mengapa dia keluar dari smp. meskipun begitu, hal ini menjelaskan satu hal, yaitu mengapa aku paling nggak bisa suruh duduk belajar di kelas. tapi kalo untuk berorganisasi, udah diakui kegigihannya semenjak smp dulu.

yah, itulah sosok seorang ajip rosidi dan aku. antara sang kakek dan sang cucu. sang guru dan sang murid. sang hulu dan sang hilir. sang buah yang tidak pernah bisa jatuh jauh dari pohonnya. begitu pun aku. nggak akan jauh2 dari menulis dan tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s