FOSS untuk Kemandirian Bangsa


bangsa kita memang sudah lama dijajah oleh bangsa asing. sampai sekarang pun sebenarnya kita belum lepas dari belenggu penjajahan bangsa asing.
penjajahan yang menimpa bangsa kita saat ini adalah penjajahan yang non-fisik meliputi aspek pemikiran, moral, dan budaya. kita sudah hampir kehilangan identitas diri kita sendiri sehingga lambat laun, kemandirian bangsa ini untuk maju, patut selalu dipertanyakan.
salah satu penjajahan yang begitu nyata adalah penjajahan terhadap kebiasaan kita menggunakan perangkat lunak proprietary. terlepas dari aspek legal dan non-legal, bangsa kita sudah sangat kesulitan untuk mampu melepaskan diri dari perangkat lunak proprietary. boleh jadi ketergantungan kita terhadap perangkat lunak proprietary, akan membawa kita pada kerugian dengan dampak yang sangat besar dan luas seperti perekonomian dan pertahanan serta keamanan.
penggalakan dan penggunaan foss sejak dini, merupakan langkah awal menuju kemandirian bangsa di bidang teknologi informasi dan lingkup bidang kehidupan lainnya yang berkaitan. setidaknya ada 5 bidang dasar yang bisa diselamatkan apabila kita menggunakan foss.
bidang yang pertama adalah pendidikan. seperti kita tahu, pendidikan saat ini tidak bisa lepas dari teknologi informasi dan pendidikan juga merupakan aspek yang paling dasar dari tumbuhnya bangsa. dengan menggalakan foss di bidang pendidikan, berarti akan banyak manusia yang mampu berpikir lebih kreatif dan bebas tanpa ada ancaman ketergantungan dengan perangkat lunak proprietary.
bidang yang kedua adalah ekonomi. saat ini, dunia ekonomi sudah sangat amat bergantung dengan perangkat lunak proprietary. apabila bangsa ini sudah bergantung pada perangkat lunak proprietary, dengan mudahnya ekonomi negara ini bisa kandas mungkin dengan hanya menekan ‘enter’ di tombol keyboard. penggunaan perangkat lunak open source dan bebas, tidak hanya menghilangkan ancaman ini, tetapi juga mampu mengangkat pertumbuhan industri teknologi informasi lokal.
bidang yang ketiga adalah pertahanan dan keamanan. peranan teknologi dalam bidang ini sangat besar. terlebih lagi di bidang pertahanan yang saat ini memang cenderung mengandalkan teknologi informasi. bayangkan apabila pertahanan dan keamanan bangsa ini terlalu bergantung pada perangkat lunak proprietary. mungkin dengan mudahnya titik kelemahan kita bisa diketahui dengan cepat oleh bangsa lain dan jelas hal ini membahayakan kedaulatan bangsa dan negara ini. penggunaan perangkat lunak foss, setidaknya mampu mereduksi ancaman tersebut. tidak hanya itu saja, bangsa ini juga mampu menciptakan pertahanan dan keamanan yang lebih solid tanpa campur tangan pihak asing.
bidang keempat adalah bidang sosial dan politik. dengan pelabelan negatif ‘pembajak’ kepada bangsa ini, tentu saja ini mempengaruhi kegiatan bangsa ini di kancah politik dunia. akibatnya, hubungan sosial antara bangsa ini dan bangsa lainnya bisa terganggu. bisa saja, suatu saat, beberapa negara enggan bekerjasama dengan kita karena pelabelan negatif ini.
bidang kelima tentu saja bidang teknologi informasi. dengan penggunaan foss, teknologi informasi yang saat ini telah menjadi kebutuhan di setiap bidang kehidupan, mampu mandiri dan berkembang. hal ini tidak hanya memperkuat posisi bangsa kita menjadi semakin mandiri, tetapi berimbas pada cerdasnya bangsa ini. lihat saja, beberapa anak bangsa telah mampu menorehkan prestasi terbaiknya di bidang teknologi informasi melalui penggunaan foss. bisa jadi, penggunaan foss yang lebih luas, makin memperbanyak anak bangsa yang mampu menorehkan hasil karya terbaiknya.
kemandirian bangsa saat ini memang sedang dijurang keterpurukan. langkah kita untuk menggunakan foss sejak dini, setidaknya mampu membawa bangsa ini selangkah lebih maju untuk menuju bangsa yang mandiri.

Iklan

5 thoughts on “FOSS untuk Kemandirian Bangsa

  1. Yudha P Sunandar berkata:

    # Wisnu
    open source sendiri sebenarnya adalah model pengembangan perangkat lunak. berbeda dengan proprietary yang dikembangkan secara tertutup di suatu lingkungan tertentu, pengembangan open source dilakukan secara terbuka dan melibatkan banyak pihak. saat ini pengembangan secara open source sudah mulai dilirik oleh vendor2 perangkat lunak proprietary. microsoft pun mulai akan membuka 10 ribu lembar kodenya tahun ini untuk mulai dikembangkan secara open source.
    sebenarnya apapun perangkat lunaknya, apakah itu proprietary atau open source, technical support tetap menjadi model bisnisnya. kalo mau dilihat secara halus, perangkat lunak proprietary yang dijual sebenarnya bukan memperdagangkan nilai dari perangkat lunaknya, tapi nilai dari dukungan teknisnya yang berupa pengembangan dan pemeliharaan perangkat lunak. namun, yang membedakan antara perangkat lunak proprietary dan open source adalah perangkat lunak proprietary mengharuskan orang membayar technical support dan perangkat lunak open source membebaskan pengguna untuk memilih mau menggunakan technical support atau tidak.
    masalah kualitas perangkat lunaknya, itu kembali lagi kepada pengembangnya. sejauh mana pengembang serius untuk membuat dan mengembangkan perangkat lunak. sejauh ini, memang pengembang perangkat lunak proprietary memiliki keseriusan yang lebih apabila dibandingkan dengan pengembang perangkat lunak open source. bukan berarti open source juga nggak bisa memiliki kualitas setara dengan proprietary. menurutku (sebagai orang yang agak2 awam) modzilla dan ubuntu sudah mencoba membuktikan bahwa perangkat lunak open source memiliki kualitas yang sama dengan proprietary.
    selain itu, perlu juga dibedakan antara perangkat lunak free (yang dikenal juga dengan foss) dengan perangkat lunak open source. perangkat lunak foss memang memberikan akses ke setiap orang untuk menggunakan perangkat lunak tersebut, kasarnya, secara gratis. tetapi open source belum tentu gratis. karena yang open source bukan berarti free untuk semua orang. ada skema dual license biasanya di sini.
    berkaitan dengan bisnis, ini merujuk pada media iklannya. mumpung belum terlanjur basah, sebaiknya sejak dini kita coba untuk mengubah paradigma masyarakat bahwa open source bukan berarti harus melulu gratis. tapi ada juga sistem yang berbayar.
    mengenai foss sebagai solusi, harus dilihat dari sisi mana dulu. kalo untuk memenuhi aspek legal dan gratis serta ditujukan untuk kebanyakan masyarakat kita yang masih cukup dengan office, ini adalah solusi. tetapi klo tingkatannya sudah memerlukan perangkat lunak yang memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi, ini bukan lagi sebagai solusi. dan aku yakin perusahaan di tingkat ini mengadopsi foss atau proprietary bukan lagi berbicara masalah harga, tetapi masalah kualitas.

    # Mas Agung
    iya tulisannya buat lomba blog igos summit. hehehehe…
    anw, aku setuju dengan pendapatmu. perlu ada strategi untuk mensosialisasikan open source agar tidak dipandang sebagai barang gratisan. itu tugas igos center dan poss itb kan mas…??? hehehehe…

    thx all atas komentarnya…

  2. Agung berkata:

    sepakat dengan Wisnu. Tambahannya, kita sering gamang memasarkan FOSS ke masyarakat, sehingga yang ditangkap masyarakat adalah free dalam arti gratis. Pesan bahwa (minimal) layanan FOSS harus berbayar untuk menghidupi praktisi FOSS belum kena. Kita belum terbiasa membayar untuk mendapatkan support FOSS. Mungkin pendekatan bagi-bagi CD Gratis perlu ditambah formula lain biar FOSS tidak dikesankan melulu gratisan.

    btw, tulisan buat lomba ya Yud? šŸ˜›

  3. inoex135 berkata:

    propretiary salah? ga juga menurutku… menurutku seharusnya dengan kondisi yang cukup banyak pengangguran seharusnya bangsa ini juga mendorong majunya software propetriary, di sini diartikan bahwa propetriary adalah software berbayar dan full support dari si pengembang software yang bersangkutan.

    dengan iklan, promosi FOSS yang ada sekarang, menurutku cenderung mengartikan bahwa dengan FOSS masyarakat bisa mendapatkan pemenuhan atas kebutuhan softwarenya dengan harga murah atau bahkan gratis. Sudah titik. Iklan untuk ikut mengembangkan atau iklan agar mendorong industri di negara ini menurutku tidak. Iklan di sisi itu cenderung ya seperti ini, pengembang software di Indonesia masih miskin, tidak bisa seperti di daerah lain.

    Di HRP bandung ada celetukan bahwa ada 3 tingkatan orang IT, hacker, menengah dan kalangan bawah. Aku sepakat di negara ini kurang ada orang kalangan menengah, akibatnya orang hacker tidak mengerti kebutuhan kalangan bawah (teknologi tidak tepat guna) dan orang bawah cenderung kurang menghargai hacker. Hacker mendapatkan ilmunya tidak dengan mudah, tidak dengan pertapaan, puasa atau apapun yang berbau mistik, melainkan melalui sebuah perjuangan pembelajaran yang panjang dan berat. Namun di negara ini penghargaan itu kurang, itulah kenapa orang kaya di negara ini adalah kalau bukan orang yang merusak orang lain (gembong narkoba, sinetron / televisi hiburan, rokok) ya orang-orang yang korupsi. Kalangan akademisi, hacker, dan lain-lain cenderung masih miskin.

    FOSS merupakan sebuah pisau tajam bermata dua yang bisa membunuh orang-orang IT dan sebaliknya juga bisa menjadi awal kebangkitan bangsa ini. Propretiary ok, karena tidak semua kebutuhan bisa diselesaikan dengan FOSS, bohong kalau ada yang bisa untuk semua bidang. Namun usahakan agar propetriary itu uangnya masuk ke dalam, ga keluar seperti sekarang. Bisa menumbuhkan industri IT bangsa ini uang-uang itu daripada dihabiskan ke luar negeri.

    Yup, masalah utama sebenarnya adalah masalah mental, pendidikan dan kesadaran perorangan…. FOSS adalah satu jalan untuk menggapai hal itu…

    keep on your spirit to help this country…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s