Pertemuan dengan POSS ITB


rumah,jatiwangi,minggu,14 oktober 2007,04.15 wib
beberapa hari ini kepikiran tentang pertemuan dengan POSS ITB beberapa waktu yang lalu. di pertemuan itu, pak benhard, ketua POSS ITB bilang kalo kita hidup di zaman yang masyarakatnya sudah berpaham kapitalisme. suka atau tidak suka, kita juga mempraktekan kapitalisme dalam keseharian kita. dalam kapitalisme ini, uang adalah benda yang memegang peranan penting dalam perdagangan. saat ini masyarakat beranggapan bahwa semakin tinggi harga barang, semakin tinggi pula kualitas barang tersebut.
bagaimana dengan foss? inilah yang menjadi pertanyaan pak benhard saat itu. akhirnya, pak rusmanto yang memang diundang dalam diskusi ini, menyampaikan bahwa foss adalah bisnis. perusahaan2 besar dunia, seperti ibm, sun, dan lain sebagainya, menyumbangkan programmernya untuk mengembangkan foss, termasuk linux.
mendengar kedua pernyataan itu, bahwa faktor harga berperan dalam pandangan masyarakat terhadap barang dan foss merupakan bisnis, telingaku cukup panas juga. maklum, perbedaan paradigma.
untuk foss merupakan bisnis, aku kurang setuju dengan pendapat ini. bagaimana pun juga, pengembangan foss untuk berkreasi dan untuk berbagi. tapi pak rusmanto juga bilang, bahwa richard stallman, sang pendiri free software foundation mengatakan bahwa foss adalah bisnis. kata free bukan berarti bebas dalam artian gratis, tapi bebas untuk mengembangkan, memodifikasi, dan mendistribusikan. yah, karena aku kurang cukup argumen, sepertinya aku cuman bisa mengiyakan apa yang pak rusmanto kemukakan.
hal yang kedua, yang pak benhard katakan, bahwa faktor harga berperan dalam pandangan masyarakat terhadap sesuatu barang, mungkin tidak bisa dipungkiri bahwa itu benar. bagaimanapun juga, masyarakat indonesia saat ini sudah beralih dari masyarakat yang sosialis menjadi masyarakat yang kapitalis. selanjutnya, pak benhard menekankan bahwa penyebaran foss, khususnya linux, ke masyarakat jangan dilabelkan dengan hal2 yang bebas dan gratisan. karena hal ini bisa menimbulkan persepsi masyarakat yang negatif terhadap foss, yaitu persepsi bahwa foss adalah barang murahan dan berkualitas rendah.
ada hal yang sedikit mengganjal dari pernyataan pak benhard, terlebih karena aku sedikit mendalami tentang ilmu sosial. sedikit sekali lho. hehehehe. hal yang pertama, perlu kita ingat bahwa masyarakat dunia saat ini telah jengah dengan kapitalisme. hal ini membuat masyarakat di beberapa negara, termasuk amerika, mulai mendeklarasikan yang namanya masyarakat pasca korporasi (post-corporate society). gerakan ini mulai masuk ke indonesia, meskipun gaungnya memang belum terdengar lantang seperti isu2 lingkungan. ke depannya, isu ini akan mudah diterima di masyarakat karena sebenarnya kultur masyarakat indonesia sendiri yang memang bercorak sosialis, bukan kapitalis.
hal yang kedua, perlu kita tekankan ke masyarakat bahwa pengembangan linux merupakan pengembangan yang sosialis, dimana faktor uang tidak terlalu berperan di sini. hal ini berbeda dengan pengembangan secara kapitalis yang faktor uang sangat berperan. model pengembangan foss ini sepertinya perlu disosialisasikan ke masyarakat sehingga paradigma masyarakat bisa berubah dari yang tadinya memandang bahwa harga merupakan tolak ukur kualitas suatu barang, menjadi paradigma yang memandang bahwa faktor kualitas seharusnya ditentukan oleh bagaimana barang tersebut dibuat. dengan kata lain, lihat proses, bukan lihat hasil akhir.
yah, aku mulai bingung dengan tulisanku ini. pokoknya gitu deh. ternyata nggak jaminan nih bangun pagi bisa lancar nulis. hehehehe…
Yudha P Sunandar
Sn

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s