Diskusi Bijak Bersama Sang Kekasih…


Awalnya memang agak males untuk pergi ke kampus lagi. Abis mandi pengen dengerin musik di kostan. tapi aku dah janji ma pacarku buat ke kampus lagi. sekalian ngambil fotokopian buletin yang bakal disebarin besok.
Akhirnya setelah menggenjot sepeda selama 30 menit dengan jalan yang relatif nanjak, meskipun cuman nol koma sekian derajat, aku sampai juga di kampus. dengan perut lapar aku jalan ke arah pintu masuk utama sambil aku melihat hapeku barangkali ada sms atau miss called yang masuk. ternyata ada sebuah sms dari pacarku. dia bilang kalo dah nyampe suruh sms dia. akhirnya aku sms dia buat nanyain keberadaannya. tak berapa lama, dia bales smsku dan bilang lagi di depan fotokopian kampus. aku langsung beranjak ke sana dan kemudian pergi makan bersama dia.
Saat makan aku terlibat diskusi menarik mengenai rezeki dengan dia. awalnya kami berdua membicarakan tentang uang untuk bayar sppku. lalu dari situ pembicaraan berkembang menjadi financial keluarganya. dia bilang kalo papahnya punya rezeki dia akan membelikan sesuatu untuk keluarganya. terkadang klo ada orang yang lagi kesusahan, papahnya akan memberikan orang kesusahan itu uang namun semampu papahnya bisa bantu.
Pendek kata, yang kami bahas adalah tentang rezeki. kok papahnya bisa selalu memberikan bantuan berupa uang ke orang, tapi sehabis itu dapet rezeki berlimpah lagi. inilah yang dinamai rezeki yang nggak akan bisa orang definisikan. nggak akan mungkin ketemu nilai matematisnya meskipun dah diulik sedemikian rupa. dari situ aku sungguh kagum dengan keluarganya. mudah2an aku bisa menjadi bagian dari keluarga mereka dengan jadi suami dari kekasihku. hehehe.
Kemudian pembahasan kami berkembang pada cara berpikir orang sunda dan orang jawa. aku nyimpulin bahwa pemikiran orang sunda cenderung pasrah pada nasib (atau mungkin takdir), dan orang jawa cenderung selalu berusaha dan menyingkirkan kata “nasib” dalam kamus mereka. hal ini bisa dilihat dari cara mereka mengemukakan sebuah pertanyaan apabila ada seseorang yang mau menikah. orang sunda apabila dikasih kabar tentang sesuatu pernikahan, kemungkinan besar mereka akan bilang, “Dapet orang mana?”. tetapi orang jawa nggak akan menanyakan lebih jauh. apakah dia bungsu atau sulung? bagaimana tanggal kelahirannya? bagaimana keluarganya? mengapa pilih yang ini? kenapa pilih yang itu?
Dari situ kita bisa melihat, bahwa orang sunda melihat jodoh sebagai sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. sebuah pemberian. malah dalam masyarakat sunda sering ada perkataan, “Bahagia, mati, dan jodoh semuanya ada dalam tangan Yang Maha Kuasa”. bagaimana dengan orang jawa? orang jawa terlalu banyak perhitungan. untuk menikah aja harus liat bibit, bebet, bobot. dari sini bisa dilihat bahwa orang jawa adalah orang yang kurang percaya pada nasib atau kehendak yang kuasa pada prakteknya. mereka cenderung, bahwa apa yang dimiliki, apa yang dipilih, semuanya adalah hasil dari jerih payah manusia itu sendiri. selain itu, orang jawa untuk memiliki banyak anak cenderung memikirkan banyak hal. tapi liat orang sunda. ada perkataan dalam masyarakat sunda bahwa, “Banyak Anak Banyak Rezeki”. dari pribahasa itu kita dapat menyimpulkan, setiap orang telah punya rezeki masing2. apabila hanya punya 1 anak, maka rezeki yang ada dalam keluarga tersebut adalah rezeki untuk bapak, ibu, dan anak . andaikata kita memberi nilai setiap rezeki untuk masing2 anggota keluarga adalah satu, maka dari keluarga dengan anggota bapak, ibu, dan satu anak hanya memiliki nilai rezeki 3. bagaimana dengan yang punya banyak anak? nggak tanggung2 ada 10 anak? berarti nilai rezekinya ada 12, yaitu rezeki bapak (1), ibu (1), dan 10 anak lainnya yang masing2 mempunyai nilai rezeki satu. begitulah mengapa dalam masyarakat sunda ada pribahasa seperti itu.
Kedua nilai yang berkembang tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihan masing2. masyarakat sunda, mereka lebih cenderung berpasrah pada nasib dengan prinsip, “Gimana Entar”. masyarakat jawa terlalu banyak perhitungan dan melihat segala sesuatu yang terjadi adalah hasil jerih payah manusia itu sendiri. jangan heran apabila dalam masyarakat jawa ada istilah, “Entar Gimana”. namun aku lebih memilih, kita harus tetap berusaha tapi Tuhan juga yang menentukan. mungkin ini bukan sesuatu yang baru, tapi agak sulit untuk dipraktekan dalam kenyataannya. ada orang yang lebih cenderung seperti masyarakat sunda, yaitu terlalu berpasrah pada nasib dan gimana entar, dan ada juga orang yang lebih cenderung seperti masyarakat jawa, yaitu bahwa apa yang diraih adalah hasil dari usaha manusia dan berprinsip entar gimana. memang sulit berlaku adil.
Akhirnya diskusi berakhir setelah makanan kami habis. sungguh aku merasa beruntung mempunyai pacar seperti dia. ada hal yang sering terlewatkan olehku, tapi tidak terlewatkan oleh dia. mudah2an aku dan dia bisa menjalankan hidup ini sehingga lebih bermakna. semoga….

161106
Yudha P Sunandar
Sn

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s