Posted in Islam, Pendidikan, Filsafat, Sosial, Seni, Sastra & Budaya, Reportase

Konser Angklung KPA 3: Sarasa Katha Tauryatrika, Kisah Indah dalam Tiga Simfoni

The Dream Team ESA 2016 sejenak sebelum menampilkan suguhan permainan angklungnya. (Foto: Yudha PS)
The Dream Team ESA 2016 sejenak sebelum menampilkan suguhan permainan angklungnya. (Foto: Yudha PS)

“Malem ini kosong, ngak?” tiba-tiba seorang kawan menyapa saya melalui layanan pesan singkat Jumat pagi pada 15 Juli 2016 lalu. “Ada 1 free tiket konser KPA3 malam ini di Granus UNPAD. Berminat?” lanjutnya lagi. Mendengar kata gratisan, tentunya saya langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Terlebih lagi, kondisi kanker alias kantong kering yang tengah melanda saya hampir sepanjang semester pertama 2016 ini, membuat diri ini tidak bisa jauh-jauh dari rumah. “Datang jam 7 malam, ya,” pesannya kemudian.

KPA3 sendiri merupakan julukan bagi Keluarga Paduan Angklung SMA Negeri 3 Bandung. Kelompok ini termasuk paling tua di Bandung dan sudah ada sejak 1980. Salah satu aktivitasnya yang begitu tinggi pamornya di kalangan masyarakat angklung di Bandung adalah muhibahnya ke Eropa dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini. Muhibah ini berada dalam naungan program berjuluk Expand The Sound of Angklung, yang disingkat ESA. Umumnya, mereka berpartisipasi dalam berbagai festival musik di Eropa dan memainkan angklung di beberapa perguruan tinggi di beberapa negara.

Tahun ini, KPA3 berencana menggelar muhibah kelimanya di daratan Eropa melalui program ESA 2016. Sebagai bentuk pelepasan tim yang akan berangkat, KPA3 menggelar Preliminary Concert of Expand The Sound of Angklung 2016 bertajuk Sarasa Katha Tauryatrika. “Sarasa Katha” sendiri artinya “Kisah yang Indah”. Sedangkan “Tauryatrika” bermakna “Tiga Simfoni: Lagu, Musik Instrumental, dan Tarian”.

Tepat pada jam 7 malam, saya sudah terpakir dalam antrian di depan Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung, tempat konser akan dilangsungkan. Ketika dipersilahkan masuk, saya langsung mencari tempat yang paling nyaman untuk melihat keseluruhan konser.

Saya sendiri mendapatkan tiket penonton reguler yang letaknya cukup jauh dari panggung. Beruntung, seorang kawan menawarkan kursi VIP temannya. Hal ini membuat posisi saya jauh lebih baik dari sebelumnya.

The Dream Team 1 KPA3 usai melantunkan dua lagu pembuka konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)
The Dream Team 1 KPA3 usai melantunkan dua lagu pembuka konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

Tepat jam 7.30 malam, lampu ruangan mulai digelapkan. The Dream Team 1 KPA3 beranjak mulai menyusun formasi di panggung. Di ujung ruangan, narator membacakan sepenggal puisi pembuka, yang diiringi menyalanya lampu pertunjukkan berwarna-warni dari kejauhan. Kemudian, lagu Rather Be yang dipopulerkan oleh Clean Bandit resmi membuka pertunjukkan mereka malam itu, yang disusul oleh Suite dari Badai Pasti Berlalu.

Bagi saya, lagu pembuka ini terasa terlalu kasar dan mendadak, kurang halus. Pikiran saya langsung terbang ke konser Bandung Philharmonic Orchestra pada April 2016 lalu di Gedung Merdeka. Memori ini saya panggil untuk mencoba membangun “feeling” menonton konser musik dalam diri saya.

Seingat saya, konser Bandung Philharmonic Orchestra sendiri dimulai dengan Menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang diiringi orkestra. Cara ini, bagi saya, berhasil membangun suasana di dalam gedung pertunjukkan. Namun, cara ini ternyata tidak berlaku di konser KPA3. Hasilnya, saya tidak terlalu berhasil membangun “rasa” menonton musik, yang berujung kepada ketidak-nyamanan dalam menonton konser tersebut.

Mood menonton semakin hambar ketika tetiba saja rombongan Wakil Gubernur Jawa Barat memasuki ruangan pertunjukkan dan berjalan ke tempat duduk terdepan di tengah-tengah lagu. Hal ini juga dia lakukan ketika beranjak pergi ke luar gedung pertunjukkan: pamit, pergi, dan dilakukan di tengah-tengah lagu. Belum lagi, para fotografer seenak udel memotret kedatangan para pejabat dengan menggunakan lampu kilat di tengah-tengah konser. Kejadian ini membuat mood saya sebagai penonton semakin amburadul.

Rasanya, meskipun Deddy Mizwar dalam sambutannya beberapa kali mengajak hadirin untuk menghargai budaya Jawa Barat, dalam hal ini musik dan angklung, tetapi sikap dia dan rombongan tidak mencerminkan kecintaannya kepada musik, angklung, dan mungkin juga budaya.

Barangkali, akan lebih elok bila panitia pertunjukkan mengatur rombongan pejabat agar masuk dalam jeda antar lagu. Atau, Deddy Mizwar sebagai pelaku seni, akan lebih elok bila dia berhenti sejenak di pintu masuk hingga lagu berakhir, baru menempati kursi yang disediakan.

Kembali ke pertunjukkan angklung. The Dream Team 1 merupakan salah satu tim angklung terbaik yang kerap membawa nama KPA3. Namun, mereka bukanlah tim yang akan berangkat ke Eropa. Mereka hanya mendapatkan peran untuk membuka pertunjukkan tim ESA pada konser malam itu.

The Dream Team KPA3 sendiri hadir dengan gaun malam bernuansa modern yang begitu indah. Sayangnya, penampilan mereka tidak begitu baik malam itu. Bunyi angklung yang terlalu lemah, dan suara perkusi yang terlalu keras, membuat lagu yang mereka mainkan agak kurang harmonis di telinga saya.

Sang konduktor pun tampak kurang leluasa memimpin para pemain angklung. Bisa jadi karena pakaiannya yang terlalu ketat, sehingga menyulitkannya bergerak leluasa. Bisa juga karena undakan tempat berdirinya konduktor yang terlalu tinggi dan goyang, sehingga konduktor ragu-ragu untuk bergerak.

Bagaimana pun juga, seorang konduktor berperan besar untuk membangun nuansa pertunjukkan. Bila konsentrasinya terganggu, bisa jadi timnya gagal untuk membangun nuansa lagu. Ujung-ujungnya, lagu-lagu yang disajikan terasa hambar dan sebatas bunyi-bunyian tanpa rasa.

Gangguan lainnya bagi saya malam itu adalah dua layar multimedia di kanan dan kiri panggung. Dalam setiap lagunya, layar tersebut menampilkan multimedia yang selaras dengan lagu yang dimainkan. Sebagai contoh, ketika The Dream Team membawakan Suite dari Badai Pasti Berlalu, cuplikan tayangan film Badai Pasti Berlalu muncul di kedua layar.

Alih-alih indah dan membangun suasana, kedua layar yang terlalu kecil dan letaknya terlalu pinggir tersebut justru menjadi polusi visual tersendiri. Ditambah lagi, antara cuplikan multimedia dengan permainan lagu tidak harmonis. Ujung-ujungnya, antara multimedia dan suara angklung justru saling melemahkan, bukan menguatkan.

Selepas penampilan dua lagu dari The Dream Team 1 KPA3, The Dream Team ESA segera menyusun formasi di atas panggung. Para pemain wanita tampak begitu percaya diri dengan kebaya berwarna merah berkainkan batik. Sedangkan para pria begitu gagahnya dengan jas takwa berwarna cokelat muda. The Dream Team ESA sendiri akan berangkat ke Eropa pada akhir Juli hingga awal Agustus 2016 mendatang. Rencananya, mereka akan singgah di tiga festival musik.

Persinggahan pertama mereka adalah International Youth Music Festival II di Bratislava, Slovakia pada 24-27 Juli 2016. Bratislava sendiri dikenal sebagai kota musik. Di kota ini, The Dream Team ESA akan berpartisipasi dalam dua kategori lomba, yaitu: Ensembles with Free Instrumentation dan Mix Ensembles: Folk Music Ensembles.

Persinggahan kedua adalah Prague Folklore Days di Praha, Republik Ceko, pada 28-31 Juli 2016. Ajang tahunan ini disediakan untuk kelompok musik tradisional amatir di seluruh dunia. Tahun ini, festival tersebut akan diikuti oleh dua ribu peserta. Sedangkan persinggahan ketiga adalah SIVO Festival di Odoorn, Belanda, pada 1-8 Agustus 2016. Pada festival tahunan ini, setiap peserta harus menampilkan musik dan tarian dari negaranya masing-masing.

The Dream Team ESA membuka pertunjukkan dengan lagu Circle of Life yang juga jadi pembuka film Lion King. Tim ini memainkan angklung dengan cukup matang. Dibandingkan dengan penampilan tim pertama, suara angklung tim ini terdengar lebih harmonis dan menyatu dengan alat musik perkusi dan bas akustik yang mengiringinya.

Miryam Wedyaswari, sang konduktor The Dream Team ESA 2016, menyapa hadirin usai menampilkan lagu Circle of Life dalam konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)
Miryam Wedyaswari, sang konduktor The Dream Team ESA 2016, menyapa hadirin usai menampilkan lagu Circle of Life dalam konser Sarasa Katha Tauryatrika. (Foto: Yudha PS)

Miryam Wedyaswari, sang konduktor, pun tampak lebih berpengalaman dalam membangun nuansa lagu. Dia begitu leluasa dalam bergerak dibandingkan konduktor tim sebelumnya. Faktor undakan tempat berdirinya konduktor yang terlalu ringkih pada penampilan tim pertama, bisa jadi benar. Berbeda dengan konduktor sebelumnya yang berdiri di undakan kedua, Miryam justru memilih undakan pertama sebagai tempatnya berdiri dan memimpin tim. Keputusan ini membuatnya berdiri lebih kokoh dan leluasa dibandingkan konduktor tim pertama.

Meskipun demikian, sajian multimedia di kanan-kiri panggung tetap saja menjadi polusi visual bagi saya. Rasanya, penampilan mereka akan lebih elok bila disandingkan dengan penampilan teaterikal layaknya versi teater Lion King a la Broadway, Kota Newyork, Amerika.

Penampilan selanjutnya, The Dream Team ESA memainkan lagu-lagu John William yang disajikan secara medley. Untuk bagian pertama, mereka memainkan lagu tema film Harry Potter, film Jurassic Park, film Extra Terrestrial, dan lagu Somewhere in My Memory dari film Home Alone. Hal ini diikuti dengan penampilan medley bagian kedua yang masih karya John William. Pada bagian ini, mereka memainkan lagu tema film Superman, film Star Wars, dan film Indiana Jones.

Menutup sesi pertama, The Dream Team ESA mempersembahkan tiga lagu klasik yang akan dimainkan dalam festival musik di Eropa mendatang. Ketiga lagu tersebut adalah Vocalise OP. 34 No. 14 gubahan Sergei Rachmaninoff, Pizzicati from Sylvia gubahan Léo Delibes, dan Rhapsody in Blue (Excerpt) gubahan George Gershwin.

Vocalise sendiri merupakan rangkaian ke-14 Romances yang ditulis pada 1915. Keunikannya, karya ini satu-satunya komposisi dalam Opus No. 34 yang tidak memiliki lirik. Keunikan ini sempat dikeluhkan oleh Antonina Nezhdanova. Meskipun demikian, Rachmaninoff percaya bahwa suara dan penjiwaan bisa menyampaikan perasaan jauh lebih dalam dan beragam dibandingkan kata-kata.

Adapun Pizzicati from Sylvia merupakan salah satu karya musik balet terbaik sebelum periode Tchaikovsky. Karya ini ditulis pada 1876 berdasarkan drama Aminta karya Torquato Tasso. Lagu ini begitu kaya akan melodi dan banyak orang menyimpulkannya sebagai karya yang indah. Salah satu bagian terkenal dari komposisi ini ada pada babak ketiga untuk mengiringi salah satu solo tersulit dan memperlihatkan kemampuan teknik balerina yang menawan.

Sedangkan Rhapsody in Blue merupakan sebuah karya konserto simfoni jazz yang dianggap sebagai musik klasik Amerika paling terkenal. Ditulis pada 1924 dan diperdengarkan kepada khalayak pada 12 Februari 1924. Karya ini menunjukkan kepiawaian Gershwin dalam menggabungkan musik populer saat itu dengan elemen-elemen musik klasik. Rhapsody in Blue begitu monumental dalam sejarah musik di Amerika. Pasalnya, karya ini berhasil mengangkat musik jazz yang dipandang sebagai musik rakyat dan tidak bergengsi kala itu dibandingkan musik klasik.

Sajian The Dream Team ESA pada sesi pertama ini menyadarkan saya bahwa para pemain angklung dan komposernya harus bekerja keras untuk menyelaraskan angklung dengan musik-musik yang ada di dunia. Karakteristik alat musik bambu yang umumnya berbunyi dengan cara “dipukul”, tidak melulu mampu menyajikan musik dunia modern dengan baik.

Sebagai contohnya pada sajian tiga musik klasik terakhir. Bagi saya, hanya Pizzicati from Sylvia yang mampu diadaptasi dengan baik oleh The Dream Team ESA. Pasalnya, langgam ini banyak bermain dengan ketukan nada pendek, sekitar 1/32 sampai 1/4 ketukan.

Sedangkan ketika mereka memainkan dua lagu lainnya, terdengar tidak lebih dari suara bambu yang dipukul-pukul secara acak. Saya benar-benar hampir tidak mampu menangkap sebuah musik ketika The Dream Team ESA memainkan Vocalise dan Rhapsody in Blue.

Terlebih lagi untuk langgam Vocalise. Rachmaninoff merancang agar pendengar langgam ini mampu menempuh perjalanan emosional, mulai dari perasaan hampa, putus asa, takut, sampai harapan yang tidak kunjung terpenuhi. Tentunya, banyak nada yang panjangnya lebih dari 1/4 ketukan. Rasanya, lagu seperti ini lebih cocok dimainkan dengan alat musik gesek yang lebih mampu menghasilkan suara “menyayat-nyayat” hati, dibandingkan alat musik pukul seperti angklung yang lebih cocok memainkan lagu dengan nada riang.

Sajian Bajidor Kahot persembahan The Dream Team ESA 2016. (Foto: Yudha PS)
Sajian Bajidor Kahot persembahan The Dream Team ESA 2016. (Foto: Yudha PS)

Menginjak sesi kedua, The Dream Team ESA menampilkan ragam kesenian daerah di Indonesia. Pada sesi kali ini, mereka ditantang untuk tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga tarian dan drama musik. Saya cukup takjub melihat para penampil mengganti baju dan dandanannya dengan cekatan, hanya dalam hitungan menit. Mereka menggunakan beragam kostum, tergantung tarian yang akan mereka sajikan. Ada kostum untuk Tari Merak, Tari Ratoh Duek dari Aceh, Tari Bajidor Kahot yang campuran Tari Jaipongan dan Tari Ketuk Tilu serta sedikit nuansa Bali, Tari Jali-Jali, hingga kostum untuk tarian Dayak dan Bali.

Pada tiga penampilan pertama sesi kedua, The Dream Team ESA menampilkan Tari Ratoh Duek dan Bajidor Kahot. Kemudian dilanjutkan dengan Parade Pesona Indonesia yang menampilkan berbagai tarian Indonesia secara “medley” dengan diiringi suara kendang.

Penampilan selanjutnya, The Dream Team ESA menampilkan sajian lagu dan tarian dari Riau berjudul Lancang Kuning dan lagu Betawi berjudul Keroncong Kemayoran. Mereka juga menyajikan lagu Sunda berjudul Percoma. Uniknya, penampilan yang satu ini menawarkan drama musikal. Dua orang pemerannya berakting sambil bernyanyi diiring oleh penampilan angklung di belakangnya.

Pada penampilan sesi kedua, saya melihat para pemain sudah tampak kelelahan. Suara musik angklung sudah mulai melemah dibandingkan pada sesi pertama. Energi penari pun sudah mulai terkuras. Hal ini tampak dari gerakannya yang kurang enerjik, kurang greget, dan maknanya agak kabur.

Sebenarnya, masih ada empat sajian penampilan lainnya. Sayangnya, saya sudah dijemput dan harus segera pulang. Pasalnya, bila tidak segera pulang, saya bisa ditinggalkan oleh sang penjemput. Kantong yang kosong dari Rupiah membuat saya tidak punya posisi tawar yang cukup untuk bertahan hingga akhir pertunjukkan.

Sebagai sebuah pertunjukkan angklung siswa SMA, KPA3 layak mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Mereka mampu memainkan angklung dengan lagu yang sangat beragam dan jenis tarian yang cukup variatif. Dari segi manajemen pertunjukkan, konser Sarasa Katha Tauryatrika termasuk konser yang sukses. Alur acara terbilang cukup baik, tanpa hambatan berarti.

Satu hal yang membuat saya terpukau adalah jajaran sponsor untuk kegiatan ini. Banyak perusahaan nasional dan pemerintah turut menorehkan namanya sebagai sponsor untuk konser ini. Beberapa nama besar yang tidak asing bagi saya, antara lain: Pertamina, BNI, Kimia Farma, Biofarma, Telkom Indonesia, PGN, dan Bank BJB. Selain itu, Pemkot Bandung, Pemprov Jawa Barat, dan Kementerian Pariwisata juga turut menjadi sponsor acara tersebut.

Namun, dari sisi profesionalitas, tentunya konser kemarin masih amat jauh dari baik. Bagaimana pun, pertunjukkan angklung siswa SMA lebih dominan nuansa pembelajarannya dibandingkan profesionalnya. Dalam konteks belajar, tentunya akan banyak kemudahan dan toleransi dari berbagai pihak. Hal inilah salah satu fasilitas pertunjukkan tingkat anak SMA.

Tentunya, hal ini berbeda 180 derajat bila berbicara pertunjukkan profesional. Para pemainnya umumnya berlatih sangat keras dan serius untuk mempersiapkan sebuah konser. Bahkan, aktivitas utamanya setiap hari adalah latihan. Ketika menggelar konser pun, mereka dibayar secara profesional. Taruhannya, tentu kepuasan penonton.

Ditambah lagi, para pemain profesional memiliki latar belakang musik yang kuat, termasuk sang konduktor. Mereka menempuh jalur pendidikan musik formal dengan durasi bertahun-tahun lamanya. Tidak heran bila mereka mampu menyajikan permainan musik yang berkualitas, karena mereka hidup untuk musik.

Tantangan lainnya, musisi profesional kerap kesulitan mendapatkan uang, bahkan untuk menggelar sebuah konser besar. Jarang ada sponsor yang mau mengeluarkan uang untuk pertunjukkan musik yang serius. Bahkan, sebuah konser profesional yang luar biasa di Bandung baru-baru ini berhasil terselenggara berkat pengorbanan sang ketua panitia yang menjual mobilnya untuk membiayai konser tersebut.

Kembali ke konser Sarasa Katha Tauryatrika KPA3 dan Dream Team ESA 2016. Angklung dirancang oleh Daeng Soetigna sebagai sarana belajar musik bagi kalangan awam. Memainkan angklung di Eropa tentunya akan lebih manis lagi bila dilandasi visi pendidikan musik Daeng Soetigna. Tidak hanya visinya tentang angklung sebagai sarana belajar musik, tetapi juga visinya tentang musik dan seni sebagai sarana untuk membangun toleransi antara masyarakat Indonesia dan dunia.

Selamat jalan untuk Dream Team ESA 2016. Ditunggu oleh-olehnya…***

* Foto mempergunakan kamera Canon EOS D70 milik Anissa “Flo” Trisdianty. Nuhun pinjaman kameranya dan kesediaan mengantarkan saya ke tempat acara, Flo… ^_^

Posted in Fotografi, Blog, Media, Menulis & Journalism, How-To & Review, Reportase

Eva dan Evi: “TwiRies, Inilah Kisah Kami Berdua!”

Twiries: The Freaky Twin Diaries (Foto: arintyawidodo.wordpress.com)

Ringan, menghibur, sekaligus menggemaskan. Penilaian ini rasanya cocok untuk dialamatkan kepada buku TwiRies: The Freaky Twins Diaries buah karya si kembar Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki. Membacanya, membuat kita terinspirasi sekaligus terpingkal-pingkal dengan kepolosan dan kejahilan novelis dan blogger kembar asal Bandung ini.

Sesuai namanya, Twins Diaries, buku ini mengisahkan pengalaman dan kenangan hidup keduanya, sejak mereka kecil hingga berkeluarga kini. Menariknya, buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan, santei, mengalir, dan kocak. Hal ini membuat mata pembacanya langsung tertambat sejak kalimat pertama pada lembar pertama hingga titik paling akhir di halaman ke-303. Bahkan, pembacanya tidak akan rela mengalihkan pandangannya dari buku ini, barang sedetik pun.

Buku terbitan de Teens ini semakin asyik dibaca dengan selipan gambar-gambar komik yang mengisahkan penggalan kisah-kisah menarik Eva dan Evi. Gambar-gambar ini melengkapi paparan kisah si kembar dalam bentuk tulisan. Terkadang, gambar-gambar ini begitu menyentuh pembaca dengan menampilkan kelakukan si kembar yang begitu polos dan manis. Namun, tidak jarang membuat pembacanya tertawa, bahkan terpingkal-pingkal, melihat aksi usil dan nakal si kembar. Untuk aksi yang satu ini, mereka menjuluki sebagai “Twin Evil”.

Melalui buku ini, Eva dan Evi tidak hanya semata-mata mengisahkan kehidupannya. Lebih dari itu, keduanya seperti mewakili respon saudara kembar lainnya tentang persepsi umum masyarakat terhadap mereka. Satu hal yang perlu dicamkan oleh para pembaca: saudara kembar paling tidak suka dibanding-bandingkan, dalam aspek apa pun. Bahkan, Eva dan Evi melalui buku ini seperti ingin menandaskan bahwa mereka adalah dua individu terpisah yang memiliki karakternya masing-masing. Tampak jelas tersirat keinginan mereka untuk dihargai dan dilihat secara unik sebagai sosok tunggal yang terpisah dari saudara kembarnya.

Satu hal yang perlu dicamkan oleh para pembaca: saudara kembar paling tidak suka dibanding-bandingkan, dalam aspek apa pun.

Eva dan Evi merupakan saudara kembar yang sama-sama terjun di bidang sastra dan industri kreatif. Eva sendiri pernah menelurkan tiga novel yang masing-masing berjudul: I’m Not an Underdog (bukupop, 2006), Dunia Trisa (Stiletto Book, 2011), dan Love Puzzle (Teen @ Noura, 2013). Lulusan Teknologi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia ini juga menulis skenario untuk film pendek, video, dan animasi pembelajaran.

Sedangkan Evi menulis dua novel yang masing-masing berjudul: Marshmallow (Chibi Publisher, 2008) dan CineUs (Nourabooks, 2013). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung ini dikenal kerap menulis puisi dan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Bahkan, puisi dan cerpennya itu pun telah dibukukan dalam berbagai antologi.

Twin Diaries sendiri merupakan buku pertama duet Eva dan Evi. Mereka menyusun buku ini berdasarkan cara pandang khalayak terhadap saudara kembar. Hal ini tampak dari cara menampilkan bagian pertama yang bercerita seputar: persamaan dan perbedaan mereka, pertanyaan-pertanyaan “bodoh” yang kerap dialamatkan kepada si kembar, kemampuan telepati, dan pengalaman bertukar peran kehidupan.

Pada bagian ini, Eva dan Evi juga menampilkan enak dan tidak enaknya memiliki saudara kembar. Mereka menyebutnya sebagai “Twin Miracle” untuk keuntungan memiliki saudara kembar, dan “Twin Curse” sebagai julukan untuk hal-hal negatif dalam memiliki saudara kembar.

Bagian kedua adalah kisah cinta Eva dan Evi yang seringkali terdengar konyol dan menggelikan. Sebagai contoh, ketika Eva sudah memiliki pacar, Evi kemudian mengejar target untuk memiliki pacar juga. Ketika Eva putus, Evi pun terinspirasi untuk ikut-ikutan putus. Atau, ketika Evi dibelikan sepatu oleh pacarnya, dia malah meminta satu pasang lagi untuk Eva.

Salah satu penggalan cerita di buku Twiries. (Foto: luckty.wordpress.com)

Sedangkan bagian ketiga, Eva dan Evi sama-sama menulis “Surat Cinta” untuk saudara kembarnya. Pada bagian ini, Eva mencurahkan isi hatinya kepada Evi, begitu pun sebaliknya. Dari surat ini, tampak kebesaran cinta satu sama lain. Cinta yang saling mengikat kehidupan mereka, dari mulai kandungan ibu, hingga kini beranjak dewasa dan berkeluarga. Kata-kata mereka begitu menyentuh, hingga saya bisa merasakan bagaimana mereka berbagi kehidupan dan penuh cinta kepada saudaranya selama ini.

Secara keseluruhan, saya menilai buku ini menarik dan asyik, baik secara bahasa maupun secara cerita. Hanya saja, untuk buku semenghibur ini, rasanya 303 halaman masih terlalu pendek. Belum lagi, ukuran hurufnya yang relatif besar dengan gambar komik yang hampir terdistribusi di setiap bagian, membuat buku ini habis dibaca sekali duduk.

Setelah buku ini, belum terdengar kabar dari keduanya untuk mengeluarkan buku lanjutan. Saya pribadi menyarankan agar mereka membuat komik atau mungkin novel atau bahkan novel-komik berdasarkan kehidupan mereka selama ini. Kisahnya pun bisa dibagi dalam beberapa seri. Misalnya, seri Eva dan Evi di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, seri si kembar di SMP dan SMA, atau mungkin juga seri keduanya semasa kuliah dan bekerja. Rasanya, setiap jenjang tersebut memiliki kisah dan konflik yang menarik untuk diangkat sebagai komik atau novel.

Saya pribadi menangkap kesan yang berbeda-beda pada setiap jenjang tersebut, berdasarkan Twiries tentunya. Misalnya saja ketika di jenjang Taman Kanak-Kanak. Cerita Eva dan Evi tampak begitu polos dan imut serta menggemaskan, mungkin seperti Upin dan Ipin. Banyak pelajaran moral yang bisa diangkat pada jenjang tersebut.

Contohnya saja ketika mereka berdua mengambil mangga. Evi yang mengambilnya, sedangkan Eva yang memotongnya, sebuah aktivitas yang menampilkan nilai kerjasama. Atau ketika mereka bersama-sama pergi untuk membeli komik dan uangnya kurang, tetapi mereka tetap berangkat. Kejadian tersebut menyiratkan nilai-nilai keberanian untuk bertindak.

Rasanya, setiap jenjang kehidupan si kembar memiliki kisah dan konflik yang menarik untuk diangkat sebagai komik atau novel.

Juga pada jenjang SMP dan SMA. Kita bisa melihat begitu konyolnya mereka ketika mengerjai orang melalui telepon. Atau juga keisengan mereka ketika bertukar sekolah, yang mengajarkan tentang rumput kita masih lebih hijau sempurna dibandingkan rumput tetangga.

Seri-seri kisah si kembar juga bisa dimasukkan cerita-cerita imajinatif, seperti: kemampuan teleportasi layaknya serial televisi Magic Girls. Atau mereka bisa jadi detektif kembar yang kerap menyelidiki kasus-kasus aneh berbau luar angkasa, seperti X Files.

Apa pun itu. Saya melihat banyak kisah yang bisa digarap oleh duet si kembar Eva dan Evi selanjutnya. Saya pribadi sebagai pembaca, tentunya hanya bisa menunggu untuk membaca karya mereka selanjutnya.***

Posted in How-To & Review, Sains, Konservasi, Open Source & TIK

Berkawan dengan Bisnis Barang Bekas, Berkawan dengan ASUS ET2040IUK

ASUS VIVO AiO ET2040IUK, komputer yang ramping, ringkas, dan bertenaga. (Foto: asus.com)

Kawasan di sekitar kampus selalu penuh dengan mahasiswa dan ragam kebutuhannya. Selain tempat tinggal dan penganan untuk mengisi perut, para mahasiswa juga kerap membutuhkan banyak sekali perabotan asrama dan barang-barang lainnya yang mendukung aktivitas mereka sebagai mahasiswa. Membeli baru, tentu mahal. Eh, bagaimana bila membeli barang bekas? Hal satu ini yang jarang ada. Dan tentunya, ini jadi salah satu peluang bisnis baru di lingkungan kampus.

Sebagai langkah awal, saya mencoba untuk mengamati kawasan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) di kawasan Cibiru, Bandung. Di sepanjang jalan di depan kampus UIN SGD, berdiri berbagai toko dengan ragam dagangan, mulai dari penganan, buku, hingga perabotan untuk mengisi kamar asrama para mahasiswa. Bila dilihat secara seksama, semua toko menyediakan barang-barang baru. Tidak ada satu pun yang menjajakan barang-barang bekas.

Hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari kampus UIN SGD, terdapat rumah mertua saya. Di sebelahnya, berdiri sebuah asrama yang disewakan secara bulanan kepada para mahasiswa UIN SGD. Rumah mertua saya sendiri memiliki garasi mobil. Alih-alih berisi mobil, garasi tersebut justru berisi barang-barang bekas peninggalan para mahasiswa yang pernah tinggal di asrama milik mertua saya tersebut.

Ada banyak cerita di balik barang-barang bekas peninggalan para mahasiswa tersebut. Salah satunya, sebagian mahasiswa ini pergi tanpa pamit dan meninggalkan barang-barangnya di kamar asrama. Mereka juga tercatat menunggak sewa asrama selama beberapa bulan. Tentunya, mertua saya mencoba untuk menghubungi mereka. Seringkali, para mahasiswa ini benar-benar tanpa kabar. Adapun sebagian kecilnya mengabari bahwa mereka tidak akan kembali.

Umumnya, mertua saya memberi tenggat waktu hingga tiga bulan lamanya. Setelah tenggat waktu tersebut habis, kamar terpaksa dibongkar. Adapun barang-barang yang ditinggalkan para mahasiswa terpaksa diangkut ke gudang dan garasi mertua saya, sehingga kamar yang ditinggalkan tersebut dapat segera dihuni mahasiswa lainnya lagi.

Suasana di sekitar kampus UIN SGD, Bandung. Di depan kampus terdapat berbagai toko yang menjajakan kebutuhan mahasiswa. (Foto 180: Yudha PS)
Suasana di sekitar kampus UIN SGD, Bandung. Di depan kampus terdapat berbagai toko yang menjajakan kebutuhan mahasiswa. (Foto 180: Yudha PS)
Kawasan pemukiman sekitar kampus UIN SGD yang banyak menyediakan asrama bagi mahasiswa. (Foto 180: Yudha PS)
Kawasan pemukiman sekitar kampus UIN SGD yang banyak menyediakan asrama bagi mahasiswa. (Foto 180: Yudha PS)
Garasi rumah mertua (kanan) yang bersebelahan dengan asrama mahasiswa miliknya. (Foto 180: Yudha PS)
Garasi rumah mertua (kanan) yang bersebelahan dengan asrama mahasiswa miliknya. (Foto 180: Yudha PS)

Cerita lainnya, banyak juga mahasiswa yang pamit pergi dan menitipkan barang-barang yang tidak terbawa. Maklum, para mahasiswa UIN SGD ini umumnya berasal dari kota yang jauh dari Bandung. Tentunya, cukup merepotkan bila mereka harus membawa kembali barang-barangnya ke kota asalnya. Tidak heran bila barang-barang mereka dititipkan ke mertua saya.

Nah, para mahasiswa ini bilangnya sih menitipkan barang-barang tersebut sementara. Namun, faktanya, seringkali sementahun alias selamanya teronggok di gudang dan garasi rumah mertua saya.

Barang-barang bekas mahasiswa yang teronggok di gudang. Umumnya, kondisinya masih layak digunakan. (Foto: Yudha PS)
Barang-barang bekas mahasiswa yang teronggok di gudang. Umumnya, kondisinya masih layak digunakan. (Foto: Yudha PS)

Oh yah. Umumnya barang-barang peninggalan para mahasiswa ini masih dalam kondisi bagus dan layak pakai. Bila pun ada yang rusak, umumnya kerusakan kecil dan tidak parah, sehingga masih bisa diperbaiki. Jenis barang-barangnya pun beragam. Mulai dari pakaian, lemari, rak, buku, sampai televisi dan kulkas.

Hasil pengamatan ini membuat saya semakin yakin untuk memulai bisnis berjualan barang-barang bekas para mahasiswa di lingkungan kampus UIN SGD. Tempatnya, tentunya garasi rumah mertua saya. Selain bisa diakses secara cuma-cuma, tempatnya juga cukup strategis: berada di jalan besar, dekat dengan kampus UIN SGD, serta berada di tengah-tengah kawasan tinggal mahasiswa.

Selanjutnya? Hmmm… Tinggal memulai. Namun, rasanya saya baru bisa memulai bisnis ini dalam beberapa waktu ke depan. Selain waktu yang belum tersedia, saya juga masih harus menyiapkan cadangan modal dan mencari setidaknya dua orang karyawan. Saat ini, saya mulai dulu dengan merencanakan aktivitas bisnis yang akan dilakukan kelak.

Untuk bisnis ini, rasanya saya membutuhkan seorang kawan yang akan memudahkan saya untuk menjalankan toko barang bekas, mulai dari mendata barang, membuat poster pengumuman, merekapitulasi penjualan, hingga mempromosikan toko saya melalui media sosial. Dalam hal ini, saya memilih ASUS VIVO AiO ET2040IUK sebagai partner dalam membangun bisnis ini.

ASUS ET2040IUK merupakan All-in-One PC besutan ASUS. Disebut All-in-One PC, karena produk ini menggabungkan CPU dan monitor ke dalam satu unit komputer saja. Terobosan ini membuat penggunanya terhindar dari masalah perkabelan yang kerap menyambangi komputer konvensional. Kelebihan lainnya, tentunya satu unit komputer lebih mudah dipindahkan dibandingkan terbagi menjadi beberapa unit terpisah.

ASUS ET2040IUK merupakan komputer yang ramping dan ringkas. (Foto: Asus.com)

Bagi saya, ASUS ET2040IUK merupakan salah satu komputer terbaik untuk mendukung bisnis tradisional dalam skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) secara penuh. Dalam hal ini, setidaknya ada empat pertimbangan yang melatari pilihan ini.

Pertama adalah ukurannya yang ringkas dan ramping dengan layar 19,5 inchi. Rancangan ini membuatnya mampu diajak bekerja di ruangan yang kecil dan terbatas, layaknya kebanyakan ruang di perusahaan berkategori UMKM. Selain itu, produk ini juga dilengkapi Kensington Lock. Pengguna bisa mengunci ET2040IUK di tempatnya tanpa khawatir berpindah tangan atau hilang dicuri.

Pertimbangan kedua dan cukup penting, ASUS ET2040IUK mampu memenuhi kebutuhan komputasi harian perusahaan UMKM pada umumnya. Di dalam produk ini tertanam prosesor Intel Celeron J1800 dan kartu grafis Intel HD Graphics yang dilengkapi dengan RAM 2GB dan kapasitas penyimpanan harddisk sebesar 500GB. Hal ini membuat ASUS ET2040IUK dapat menjalankan aplikasi perkantoran, berselancar di internet, mendengarkan musik, menyunting foto, dan menonton video dalam format High Definition (HD) dengan baik. Selain itu, produk ini juga mampu melakukan berbagai tugas komputasi secara bersamaan (multitasking).

Adapun pertimbangan ketiga yang menurut saya menarik untuk disimak adalah fitur dukungan cadangan energi cerdasnya (Smart Backup Power). Fitur ini membuat ET2040IUK akan tetap menyala selama satu jam secara otomatis ketika listrik padam secara tiba-tiba. Bahkan, beberapa laporan menyebutkan bahwa ASUS ET2040IUK masih tetap bisa digunakan untuk berselancar di internet selama 1,5 jam. Kemampuan ini membuat penggunanya memiliki cukup waktu untuk menyimpan semua pekerjaannya ketika listrik tiba-tiba padam.

Pertimbangan terakhir, yang pasti sangat penting bagi pelaku UMKM, adalah harganya yang terjangkau. Di Indonesia, ASUS ET2040IUK dibandrol dengan harga 4,9 juta Rupiah. Bagi saya, harga tersebut masih cukup terjangkau untuk kalangan UMKM di Indonesia saat ini.

Fitur Cadangan Energi Cerdas (Smart Backup Power) membuat ET2040IUK akan tetap menyala selama satu jam secara otomatis ketika listrik padam secara tiba-tiba.

Kembali ke toko barang bekas. Berjualan barang bekas termasuk bisnis yang sederhana. Hanya terdapat dua aktivitas utama dalam usaha ini, yaitu: mengumpulkan barang bekas dan menjualnya. Meskipun demikian, bisnis ini membutuhkan kecermatan yang tinggi, khususnya dalam menilai barang bekas.

Tahapan mengumpulkan barang bekas tentunya dimulai dengan mendata semua barang-barang bekas yang terdapat di gudang dan garasi mertua saya. Untuk aktivitas yang satu ini, saya bisa menggunakan aplikasi perkantoran, seperti Microsoft Excel. Beruntung, ASUS ET2040IUK hadir dengan Windows 10, sehingga bisa langsung digunakan untuk bekerja.

Dalam tahapan pendataan ini, barang bekas dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: layak pakai, rusak ringan, dan rusak berat. Barang bekas yang layak pakai tinggal dibersihkan dan bisa langsung dijual. Adapun barang bekas yang rusak ringan harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum dijual.

Sedangkan barang bekas yang rusak berat tetap bisa dijual. Pasalnya, banyak juga orang yang berminat membeli barang bekas yang rusak. Mereka biasanya akan memperbaiki barang-barang tersebut. Selain itu, ada juga sebagian kecil dari mereka yang mengambil komponen-komponennya yang masih berfungsi baik untuk memperbaiki barang-barang serupa. Dalam hal ini, saya harus mampu memberikan informasi yang cukup akurat terkait kerusakannya.

Bila ternyata barang bekas yang dimiliki mertua saya masih kurang, tidak menutup kemungkinan saya harus mencari barang bekas lainnya di lingkungan sekitar rumah mertua saya. Tentunya, barang bekas dari mahasiswa lain tidak bisa begitu saja saya minta. Saya harus membelinya dengan harga yang cukup pantas. Tantangannya, saya harus pintar-pintar menentukan harga beli, agar mampu dijual dengan harga yang layak di toko barang bekas saya.

ASUS ET2040IUK dan aplikasi PhotoDirector siap membantu saya untuk membuat poster. (Foto: Asus.com)

Berbicara tentang mengumpulkan barang bekas, tentunya cara yang paling efektif adalah mempublikasikannya melalui poster. Saya pribadi cenderung memilih poster fisik yang ditempelkan di lingkungan kampus UIN SGD dan sekitarnya. Untuk pekerjaan yang satu ini, ASUS ET2040IUK bisa membantu saya untuk merancang poster.

ASUS All-in-One PC sendiri sudah dilengkapi berbagai aplikasi yang siap untuk digunakan. Salah satunya adalah aplikasi berjuluk PhotoDirector yang memiliki kemampuan untuk mengelola foto dan menyuntingnya. Menggunakan aplikasi ini, saya bisa mengubah foto-foto yang saya miliki menjadi sebuah poster untuk mempublikasikan toko barang bekas saya.

Aktivitas yang satu ini rasanya jauh lebih mengasyikkan bersama ASUS ET2040IUK. Layarnya yang berukuran 19,5 inchi mampu menampilkan gambar dengan resolusi yang cukup besar, yaitu: 1366 x 768 pixel. Terlebih lagi, teknologi LED Backlight mampu menampilkan warna-warna dengan lebih cerah dan tajam, tetapi juga hemat energi.

Dudukan metal di belakang ASUS ET2040IUK bisa diatur sesuai dengan kenyamanan pengguna. (Foto: Asus.com)

Publikasi juga bisa dilakukan melalui media sosial. Saya bisa membuat beragam format untuk publikasi yang satu ini, mulai hanya tulisan, poster, hingga video. Berbicara video, ASUS dilengkapi juga aplikasi berjuluk PowerDirector. Aplikasi ini memudahkan penggunanya untuk membuat video berkualitas tinggi.

Setelah selesai, saya tinggal mengoneksikan Wi-Fi bawaan ASUS ET2040IUK ke jaringan internet yang sudah ada. Selain itu, saya juga bisa mengoneksikan produk ini ke internet dengan kabel melalui port RJ45. Tentunya, kemudahan untuk berinternet yang disediakan produk ini bisa memuluskan langkah saya untuk berjualan secara online.

Ke depannya, saya merencanakan toko barang bekas ini juga mempunyai galeri produk dalam bentuk website dan media sosial. Sebelum berkunjung, calon pembeli bisa melihat-lihat terlebih dahulu produk yang tersedia. Jika sudah sreg dengan harga dan barangnya, dia bisa langsung datang dan berbelanja. Atau mungkin barang bisa diantar dengan catatan lokasi pembeli berada di sekitar kawasan toko barang bekas.

Bila barang-barang sudah cukup terkumpul, tahapan selanjutnya adalah menjual barang bekas. Pada tahap ini, saya harus memastikan semua barang-barang yang hendak dijual sudah memiliki label harga. Tentunya, harga barang-barang bekas ini jauh lebih murah, sekitar 5-40 persen dari harga jual barang-barang baru, tergantung kondisi dan jenisnya.

Rencananya, saya akan membuka lapak toko barang bekas di garasi mertua. Ukuran garasinya sendiri tidak terlalu besar, sekitar seperempat ukuran lapangan bulu tangkis. Dijejali dengan berbagai barang bekas, tentunya ruang gerak menjadi semakin sempit. Dan pastinya, saya harus menyediakan tempat untuk kawan saya, ASUS ET2040IUK.

Beruntung, ET2040IUK memiliki bentuk yang ramping dengan panjang hanya 489 mm dan tinggi 307 serta tebal berkisar antara 14 sampai 25 mm. Ukuran ini hanya sedikit lebih besar dari kertas A3 yang memiliki dimensi 420 x 297 mm. Kondisi ini membuat ASUS ET2040IUK hanya memerlukan sedikit ruang di lapak jualan barang bekas saya kelak.

ASUS sendiri merancang produk ini untuk bisa digunakan begitu keluar dari kotaknya. Pengguna bisa langsung menaruhnya di meja dengan cara mengatur dudukan metal di belakangnya hingga mendapatkan sudut monitor yang nyaman. Keunggulan lainnya, berat ET2040IUK hanya 3,4 Kilogram, cukup ringan untuk dibawa ke mana pun dia dibutuhkan.

Dalam keseharian bisnis saya kelak, ASUS ET2040IUK akan banyak membantu administrasi penjualan, termasuk mencatat semua transaksi penjualan. Meskipun demikian, ET2040IUK juga bisa diajak untuk melakukan tugas lebih dari itu. Salah satunya, produk ini bisa diajak untuk mencairkan kebekuan suasana dengan memutarkan lagu-lagu sesuai kondisi toko saya kelak.

Dukungan teknologi ASUS SonicMaster membuat ET2040IUK mampu menyuguhkan suara yang hidup. (Foto: Asus.com)

Tentu saja, tugas yang satu ini bisa dengan mudahnya diemban oleh ASUS ET2040IUK. Pasalnya, produk ini dilengkapi speaker stereo yang didukung oleh teknologi ASUS SonicMaster. Hal ini membuat ET2040 mampu menyuguhkan suara bass yang lebih kaya dan dalam, respon frekuensi yang lebih lebar, keluaran suara yang kuat, vokal yang jelas, serta kejernihan suara yang sempurna. Selain itu, suara yang dihasilkan juga lebih hidup (true-to-life surround sound).

Kelebihan lainnya, suara ASUS ET2040IUK juga dilengkapi ASUS AudioWizard. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk memilih lima mode suara yang tepat untuk musik, film, permainan, perekaman, dan pidato, tergantung dari kondisi lingkungan. Fitur ini membuat siapa pun selalu merasa nyaman untuk menikmati alunan musik. Bahkan penggunanya bisa dengan nyaman menikmati suara film dan permainan.

ASUS ET2040IUK hadir dengan Innovative Gesture Control yang memungkinkan penggunanya mengendalikan komputer hanya melalui gerakan tangan dari jarak lebih dari 5 meter.

Menariknya, ASUS ET2040IUK hadir dengan Innovative Gesture Control. Teknologi ini memungkinkan penggunanya mengendalikan komputer hanya melalui gerakan tangan dari jarak lebih dari 5 meter. Kemampuan ini berkat Hand-Gesture Recognition Software (HGRS) dan kamera depan bawaan ET2040IUK yang mampu menangkap gerakan tangan secara akurat.

Tentunya, fitur Innovative Gesture Control membuat saya bisa memilih lagu dari jarak jauh. Bila saya tengah meladeni pelanggan dan tidak suka dengan lagunya, saya hanya perlu menggerakan tangan saya, dan lagu pun berganti dengan langgam yang lebih saya sukai.

ASUS ET2040IUK dilengkapi HDMI dan tiga USB 3.0. (Foto: Asus.com)
ASUS ET2040IUK dilengkapi HDMI dan tiga USB 3.0. (Foto: Asus.com)

Terkait konektivitas, ASUS mempersenjatai ET2040IUK dengan 3-in-1 Card Reader, Audio Line Out, HDMI, tiga saluran USB 2.0, dan tiga saluran SuperSpeed USB 3.0. Berbicara USB 3.0, saluran ini memungkinkan pengguna mengisi ulang ponsel cerdas dan tabletnya lebih cepat 50 persen dibandingkan saluran USB 2.0. Selain itu, proses perpindahan data juga 10 kali lebih cepat dibandingkan USB 2.0. Meskipun demikian, USB 3.0 ET2040IUK sangat kompatibel dengan perangkat USB 2.0. Artinya, pengguna dengan perangkat USB 2.0 bisa memanfaatkan USB 3.0.

ASUS juga dinilai membuat langkah besar dengan menambahkan HDMI dalam ET2040IUK. Hal ini membuatnya bisa dikoneksikan dengan layar yang lebih lebar lagi, seperti proyektor atau HDTV. Saya sendiri bisa menampilkan pengumuman untuk para pengunjung di layar kedua dan mengendalikannya melalui ET2040IUK.

Ke depannya, bila usaha ini menghasilkan pendapatan yang besar, saya berencana untuk membuka cabang di beberapa kawasan perguruan tinggi lainnya di Bandung, seperti: Universitas Pendidikan Indonesia di Setiabudhi, Universitas Padjadjaran di Jatinangor, Universitas Islam Bandung di Tamansari, dan Universitas Komputer di Dipatiukur. Ketika itu terjadi, ASUS ET2040IUK tidak hanya membantu untuk mencatat inventori dan keuangan serta menghibur pengunjung toko. Lebih dari itu. ET2040IUK juga akan sangat membantu mengkoneksikan antara satu cabang dengan cabang lainnya.***

Posted in Personal

Bertemu Dua Almarhum

Ilustrasi. (Foto: allaboutbible.com)

Dalam dua pekan terakhir ini, saya bertemu dengan dua almarhum. Disebut demikian, karena keduanya memang sudah berada di alam kubur. Kedua almarhum tersebut adalah om Sukar Samsudi dan kang Danny Akung. Tentunya, saya tidak bertemu mereka di alam dunia, melainkan dalam mimpi.

Sosok pertama yang saya temui adalah om Sukar Samsudi. Semasa hidupnya, beliau pernah menjadi Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Barat dan District Governor di Rotary Indonesia. Saya mengenal beliau di Rotary Club Bandung Selatan, beberapa bulan sebelum beliau wafat. Meskipun mengenal beliau dalam waktu yang cukup singkat, tetapi tokoh pengusaha Jawa Barat tersebut banyak menorehkan kenangan yang tak terlupakan bagi saya.

Saya memimpikan beliau pekan lalu. Dalam mimpi tersebut, saya sekeluarga mengunjungi beliau di rumahnya. Ketika kami datang, beliau langsung menyambut kami dan langsung mempersilahkan kami masuk. Raut wajahnya begitu gembira ketika kami datang. Lucunya, beliau menyambut kami menggunakan piyama berwarna putih.

Lantai rumah om Sukar terbuat dari kayu. Ketika kami tiba di tengah rumah, lantai kayunya ternyata sudah lapuk dan keropos karena basah. Bahkan, saking keroposnya, kami bisa dengan mudah mengangkat lantai kayu tersebut. “Iya, lantai kayunya sudah keropos. Om teh pengen menggantinya dengan lantai keramik,” ungkap om Sukar dalam mimpi tersebut.

Kebetulan, dalam kunjungan tersebut, saya datang bersama orang tua saya. Ayah saya kemudian langsung berinisiatif untuk memperbaiki lantai kayu tersebut. Dalam mimpi tersebut, Ayah saya mengganti lantai kayu tersebut dengan keramik berwarna putih susu.

Saya sendiri dan beberapa orang lainnya mengobrol dengan om Sukar di halaman belakang rumahnya. Dalam mimpi tersebut, beliau tampak sumringah menerima kehadiran kami. Tidak henti-hentinya beliau menyampaikan kegembiraannya kepada kami. “Om teh senang kalian datang ke sini,” tutur om Sukar, beberapa kali.

Setelah cukup waktu berkunjung, kami pun pamit pulang. Dalam mimpi tersebut, ayah saya kebetulan sudah selesai mengganti lantai kayu keropos tersebut menjadi lantai keramik. Meskipun demikian, om Sukar tampak kurang puas dengan lantai keramik yang terpasang.

“Om teh pengennya bukan keramik putih kaya gini, tapi keramik yang lebih abu. Sudah om siapin kok keramiknya,” papar om Sukar. “Nanti deh om suruh orang lagi untuk menggantikan (keramik putih tersebut dengan pilihan beliau),” lanjutnya. Kemudian, om Sukar pun mengantarkan kami sampai gerbang rumahnya. Dan saya pun terbangun.

Adapun sosok kedua yang saya temui adalah kang Danny Akung. Dalam mimpi tersebut, dikisahkan bahwa saya sedang menunggu di sebuah rumah sakit yang lantai, pintu, jendela, dinding, serta kursinya berwarna putih. Di rumah sakit tersebut, orang-orang juga memakai pakaian serba putih.

Tiba-tiba, kang Danny Akung keluar dari salah satu pintu yang ada. Beliau menggunakan pakaian jeans dan kaos putih berbalutkan jaket berwarna putih juga. Wajahnya sumringah dan tersenyum lebar khas kang Danny. Beliau menyapa setiap orang yang dikenalnya di mimpi tersebut.

Saya kaget bukan kepalang. Pasalnya, dalam mimpi tersebut, saya sadar beliau sudah wafat, tetapi beliau ternyata masih hidup. Sempat saya berpikir bahwa itu kembarannya. Namun, ada dorongan untuk memastikan bahwa itu kang Danny Akung dengan memanggilnya.

Ternyata, setelah saya panggil, benar saja, itu kang Danny Akung. “Hei, Yudh,” sapa beliau. Sontak, saya merasa terguncang dan semakin kaget. “Apa kabar, Yudh?” tanya beliau. “Baik, kang,” sambut saya sambil mengangguk keheranan. “Saya lagi nyariin kang Abuy, nih. Soalnya, janjian dengan dia (kang Abuy),” ungkap beliau. Kang Budi Abuy sendiri merupakan pendiri sekaligus vokalis Time Bomb Blues.

Dalam mimpi tersebut, saya sebenarnya ingin bertanya bagaimana beliau bisa ada di hadapan saya. Padahal beliau baru saja meninggal beberapa pekan lalu. Namun, pertanyaan itu tertahan. Alasannya sederhana, saya tidak enak menanyakan hal tersebut kepada beliau.

“Ini ada oleh-oleh buat kamu,” kang Danny kemudian memberikan tiga buah tangan. Namun, yang saya ingat hanyalah dua buah pemberian, yaitu: pick gitar dan kaos Time Bomb Blues. “Ini kaosnya ukurannya L. Cukup kan dengan kamu?” komentar beliau. “Kegedean sih, kang, tapi muat lah dipakai,” ungkap saya.

Tiba-tiba saja, dari pintu rumah sakit, kepala kang Abuy nongol dan langsung memanggil kang Danny. “Saya pergi dulu, yah,” dan kang Danny pun menghampiri kang Abuy. Penasaran dengan keduanya, saya pun menguntit mereka berdua.

Lucunya, kang Abuy menyampaikan pertanyaan saya ke kang Danny. “Kamu teh bukannya udah meninggal? Kenapa masih ada di sini,” tanya kang Abuy, blak-blakan. “Oh iya? Kapan?” kang Danny bertanya balik. “Kemarin-kemarin,” jawab kang Abuy. “Oh, gitu. Ya udah atuh, saya pergi lagi,” komentar kang Danny. Dan beliau pun tiba-tiba menghilang. Dan saya pun terbangun.

Saya pribadi tidak tahu makna mimpi tersebut. Namun, satu hal yang tidak biasa dari kedua mimpi tersebut: mereka berdua berbicara. Saya pernah dengar cerita dari masyarakat kampung di Jawa Barat, katanya orang yang wafat dan hadir di mimpi kita tidak akan pernah berbicara. Mereka umumnya hanya diam.

Biasanya, pesan disampaikan oleh orang-orang yang masih hidup yang ada di sekitarnya dalam mimpi tersebut. Hal ini pernah terjadi beberapa kali di mimpi saya. Salah satunya ketika kakek saya wafat. Di dalam mimpi tersebut, saya melihat kakek dan nenek saya yang telah wafat terbaring di sebuah kereta. Kemudian, ada orang yang bertanya kepada saya, “Kapan kamu mau ke Gombong?” Gombong, Kebumen, Jawa Tengah merupakan kota tempat tinggal kakek dan nenek saya. Keduanya dimakamkan di kota tersebut.

Nah, berbeda dengan mimpi-mimpi saya sebelumnya tentang orang-orang yang sudah wafat. Kedua almarhum yang baru saja hadir dalam mimpi saya justru bisa berbicara. Dan bahkan mereka berbincang-bincang dengan saya.

Ah, mimpi itu membuat saya jadi bertanya-tanya tentang aktivitas kedua almarhum di alam kubur sana. Sedang tersenyum kah? Sedang bergembira kah? Atau sebaliknya? Apa pun itu, dan pertanda apa pun mimpi itu, salah satu teman saya hanya berkomentar singkat, “Kirim Alfatihah saja.”***

Posted in How-To & Review, Sains, Konservasi, Open Source & TIK

ASUS ZenPower, Si Mungil Elegan yang Powerfull

Kiriman ASUS ZenPower yang baru saja dibuka. (Foto: Yudha PS)
Kiriman ASUS ZenPower yang baru saja dibuka. (Foto: Yudha PS)

Ternyata, tulisan saya tentang ponsel ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL berbuntut sebuah ASUS ZenPower berukuran 9600 mAh. Tulisan saya terpilih sebagai pemenang pekanan dalam Lomba Rewriting Siaran Pers ASUS-Rilisiana. Pada akhir periode perlombaan, panitia akan memilih satu tulisan terbaik. Nantinya, penulis yang beruntung tersebut berhak untuk mendapatkan sebuah ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL.

Saya pribadi tidak berencana untuk memenangkan hadiah tersebut. Alasannya sederhana saja. Tampaknya, tulisan saya masih terlalu jauh di bawah standar penilaian panitia. Salah satu poin yang tidak mampu saya penuhi adalah ulasan tentang testimoni dan pengalaman saya ketika menggunakan ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL.

Kembali ke ASUS ZenPower. Produk ini merupakan salah satu produk penyimpan daya besutan ASUS. Salah satu keunggulannya adalah ukurannya yang hanya sebesar kartu nama dengan tebal sekitar 22 mm dan berat sekitar 215 gram. Hal ini membuatnya cukup ringkas untuk diajak bepergian ke mana pun kaki melangkah.

ASUS mempersenjatai ZenPower yang satu ini dengan baterai Lithium-ion rechargeable cell berukuran 9600 mAh. Dengan kapasitas ini, produk ini bisa mengisi penuh baterai iPhone 5S sebanyak 4 kali, ASUS Zenfone sebanyak 3 kali, iPhone 6 plus sebanyak 2 kali, dan iPad Air sebanyak satu kali.

ASUS ZenPower sendiri memiliki rancangan yang cukup elegan. Permukaan luarnya terbuat dari alumunium dengan tekstur dan warna yang cukup indah. Terdapat lima pilihan warna, yaitu: Osmium Black, Sheer Gold, Glamor Red, Azure Blue, dan Brilliant Silver. Saya sendiri mendapatkan warna Sheer Gold yang cukup menawan.

Pada sisi bagian atasnya terdapat komponen untuk mengoperasikannya. Selain tombol daya, produk ini juga dilengkapi 4 lampu indikator LED, sebuah port micro USB untuk mengisi ulang daya, dan sebuah port USB sebagai tempat keluarnya daya.

Salah satu keunggulan produk ini adalah 11 fitur ASUS Power Technology dengan 6 sertifikasi internasional, di antaranya: Input OVP, OCP; Output OCP OVP, short protection; cell protection including OVP OCP, thermal protection during charge and discharge stage; serta Adaptor protection, Jeita protection.

ASUS sendiri mengklaim produk ini tahan lama. Pasalnya, ASUS ZenPower dilengkapi kemampuan untuk menyesuaikan arus dan voltase pengisian daya secara otomatis berdasarkan suhu ruangan. Produk ini juga lulus uji ketahanan konektor USB standar tinggi sebanyak 5 ribu kali, sehingga memiliki daya tahan tinggi.

Masalah harga, ASUS ZenPower termasuk murah, yaitu kurang dari 300 ribu Rupiah. Di Indonesia, produk yang serupa dengan milik saya dibandrol dengan harga 270 ribu Rupiah. Adapun produk yang memiliki kapasitas 10050 mAh dibandrol dengan harga 299 ribu Rupiah.

Bagi saya, produk ini akan sangat berguna untuk dibawa bepergian ke pelosok dengan mensyaratkan 3 hal. Ketiga syarat itu adalah: jika saya memiliki dan membawa ponsel cerdas, jika ada sinyal di pelosok, serta jika ada pulsa untuk berkomunikasi. Bila satu saja tidak terpenuhi, maka produk ini sebaiknya disimpan di rumah saja. Ahahaha. ***

Posted in Opini, Personal

Membangun Sanggar Muda Sekepeer, Dalam Khayalan Tapinya…

Ilustrasi. (Foto: i.huffpost.com)

Tabuhan kaleng dan botol kaca mengalun riuh di tengah-tengah tanah kavling kosong di Sekepeer, Sindanglaya, Bandung, kemarin siang. Anak-anak dengan semangat menabuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu dangdut yang tengah populer di masyarakat. Berisik, sudah pasti. Namun, melihat keluguan dan ekspresi mereka dalam bermain musik “kaleng” dadakan tersebut, justru membuat saya berpikir bahwa mereka memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan.

Tanpa sadar, khayalan saya terbang seiring dengan bertebarannya suara musik a la anak-anak Sekepeer tersebut ke berbagai penjuru arah mata angin. Mata saya kemudian tertambat di sejumlah lahan kavling kosong yang berhamparkan gulma dan rumput liar. “Andai, lahan kavling tersebut tersedia untuk dijadikan sanggar anak-anak dan pemuda Sekepeer,” lamun saya.

Lebih jauh, khayalan saya mengajak untuk memikirkan jenis-jenis sanggar yang ingin saya bangun. “Tentunya, sanggar seni salah satu pilihan yang perlu diperhitungkan,” pikir saya, lebih mendalam. Di sanggar tersebut, anak-anak dan pemuda Sekepeer bisa berlatih seni, khususnya musik dan tari. Terpikir untuk membuat sanggar musik gamelan dan akustik klasik. Di dalamnya, anak-anak dan pemuda bisa mengeksplorasi jenis-jenis musik tradisional dan modern serta memadukannya dalam bentuk karya-karya kontemporer. “Not, bad,” gumam saya.

“Hanya seni saja,” kembali khayalan saya mengajak untuk berpikir lebih jauh. “Tampaknya asik juga untuk membuat sanggar elektronika dan teknologi informasi dan komunikasi,” lanjut saya. Sesuai namanya, di dalam sanggar elektronika, anak-anak dan pemuda bisa belajar merangkai berbagai perangkat elektronik. Mulai dari yang termudah, seperti: merakit lampu, radio, dan turbin angin, sampai yang agak canggih sedikit, seperti: robot, dan mungkin juga komputer.

Bersanding dengan sanggar elektronika, tersedia juga sanggar teknologi informasi dan komunikasi. Di sini, anak-anak dan pemuda Sekepeer diajak untuk menjadi produsen di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Mereka diajak untuk mengenal komputer lebih dalam, belajar bahasa pemrograman, sampai membangun percobaan untuk membuat robot sendiri.

“Tentunya, perpustakaan juga harus ada,” khayalan saya kemudian menginterupsi. “Keren juga,” tanggap saya. Di dalam perpustakaan, anak-anak dan pemuda bisa mengeksplorasi dunia melalui buku, dan mungkin juga internet. Mereka diajak untuk menyelami dunia sastra dan pengetahuan melalui perpustakaan. Tidak hanya mengkonsumsi bacaan semata. Mereka juga diajak untuk menulis dan mengkritisi bacaan-bacaan yang ada di perpustakaan.

Tidak hanya buku. Perpustakaan ini juga mengajak anak-anak dan pemuda untuk menonton film-film bermutu. Dari mulai genre sastra sampai dokumenter. Lebih seru lagi bila dibarengi ajakan untuk membuat film, entah itu fiksi maupun yang berbasis dokumenter.

“Apa yah nama yang layak untuk sanggar itu,” khayalan saya tidak sabar untuk memberi nama. “Sanggar Muda Sekepeer?” usul saya. “Terdengar menarik,” gumam khayalan saya. Dan tiba-tiba, khayalan itu meledak seiring berhentinya permainan musik “kaleng” anak-anak Sekepeer, yang berganti dengan suara-suara lodong dan petasan yang menggelegar.

“Ah, dasar anak-anak,” komentar saya, menyudahi khayalan saya siang itu.***

Posted in How-To & Review, Sains, Konservasi, Open Source & TIK

ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL, Terlahir untuk Multimedia

ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL (Foto: rilisiana.com)

Ponsel. Istilah ini tidak hanya berarti perangkat untuk berkomunikasi semata. Lebih dari itu. Bagi saya, ponsel adalah kawan kecil yang senantiasa menghibur, membantu membangun interaksi, dan mendokumentasikan setiap jengkal kehidupan. Dalam hal ini, pilihan saya jatuh ke ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL.

ZE601KL, demikian saya menyebutnya, merupakan seri Zenfone terbaru besutan Asus. Seri ini merupakan salah satu ponsel multimedia terbaik yang pernah ada di dunia. Sebagai buktinya, tengoklah bagaimana ZE601KL memanjakan mata ketika menyuguhkan video favorit kita. Kita seperti menyaksikan langsung objek-objek di dalam gambar.

Merujuk rilis ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL di Rilisiana, suguhan keunggulan tampilan ini merupakan hasil dari teknologi Layar IPS berukuran 6 Inchi Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL dengan resolusi Full HD 1920 x 1080 yang menawarkan sudut pandang luas hingga 178 derajat. Ketajaman gambarnya sendiri mencapai 367 pixel per Inchi yang didukung oleh NTSC gamut mencapai 72 persen. Tidak heran bila ZE601KL mampu memancarkan lebih banyak warna secara akurat.

Dari segi sajian suara, ponsel ini menawarkan speaker berteknologi SonicMaster. Tidak hanya satu, tetapi dual-speaker dual audio chamber dengan ukuran 50 persen lebih besar dibandingkan sebelumnya. Ditambah konstruksi 5 magnet dan metal voice coil, ZE601KL menawarkan audio hingga ukuran 97,4dB. Dibalut suguhan gambar yang nyata, penikmat video tidak hanya seperti menyaksikan langsung objek-objek di dalam gambar, tetapi juga merasakan suaranya yang nyata. Bahkan, seperti tengah berhadapan dengan objeknya.

Ketajaman gambar Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL mencapai 367 pixel per Inchi yang didukung oleh NTSC gamut mencapai 72 persen.

Hal lain yang membuat Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL layak disebut ponsel multimedia terbaik di dunia adalah kemampuannya menyajikan aplikasi game. Aplikasi jenis ini dapat dijalankan dengan mulus di ponsel berbasis Android 5.0 Lollipop ini. Bahkan, aplikasi game ini masih bisa berjalan mulus ketika ada aplikasi dan fungsi lain yang sedang berjalan di latar belakang sistem.

Keunggulan ini tidak lepas dari peran prosesor octa core 64-bit Qualcomm Snapdragon 616 yang bersanding dengan RAM LPDDR3 berkapasitas 3GB. Hal ini membuat Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL mampu menopang berbagai fungsi multimedia secara multi-tasking. Artinya, pengguna bisa mendengarkan musik atau video konser sembari bermain game tanpa terganggu sedikit pun.

Meskipun mampu menangani pekerjaan yang dipandang berat oleh ponsel lain, menariknya ZE601KL tetap hemat dan efisien secara energi. Kuncinya adalah baterai Lithium-Polymer 3.000 mAh yang mampu memasok energi untuk menjalankan prosesor yang dibuat dalam proses manufaktur 28 nanometer dalam waktu yang cukup lama.

Melengkapi gelar “ponsel multimedia”, Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL juga dilengkapi oleh kamera. Menariknya, kamera ZE601KL tidak hanya menawarkan resolusi besar semata. Lebih dari itu, ponsel ini menawarkan kemampuan pengambilan gambar yang lebih baik melalui fitur Laser Auto Focus. Fitur ini membuat penggunanya mampu mendapatkan fokus obyek foto dan deteksi wajah dengan sangat cepat, yaitu mencapai 0,2 detik. Bersanding dengan kamera beresolusi 13MP, penggunanya akan mampu mengabadikan momen apa pun dalam foto yang tajam dan jernih, serta berukuran besar, hingga 4.128 x 3.096 pixel.

Fitur kamera Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL lainnya yang perlu disimak adalah dukungan teknologi khas ASUS PixelMaster Camera. Teknologi ini mampu menangkap gambar dan video hingga 400 persen lebih terang dalam kondisi pencahayaan minimal. Tersedia pula fitur dual-LED (dual tone) flash yang akan membuat warna foto lebih natural.

Fitur Laser Auto Focus membuat penggunanya mampu mendapatkan fokus obyek foto dan deteksi wajah dengan sangat cepat, yaitu mencapai 0,2 detik.

Kemampuan Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL untuk merekam momen dalam bentuk video juga salah satu fitur unggulan yang sayang untuk dilewatkan. Tidak tanggung-tanggung, ponsel ini mampu merekam video dengan resolusi FullHD berkecepatan 30 frame per detik. Penggunanya juga bisa langsung menyunting video dengan mudah dan cepat.

Bagi para penggemar foto selfie, Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL dilengkapi juga dengan kamera beresolusi 5MP. Menariknya, kamera depan memiliki aperture hingga f/2.0. Artinya, para penggemar selfie akan dimanjakan dengan hasil foto dengan pencahayaan yang baik, meskipun berada di tempat yang terlalu gelap sekali pun. Selain itu, kamera depan juga memiliki sudut pengambilan gambar sebesar 85 derajat. Hal ini membuat penggunanya bisa berfoto bersama dengan lebih banyak orang.

Keunggulan ZE601KL sudah banyak diakui oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang multimedia. Sebutlah salah satunya Aditya Zulizar Trianta, fotografer. Dia menggunakan Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL untuk aktivitas fotografi dan menemaninya ketika travelling. Salah satu fitur favorit dari ponsel ini adalah manual mode kameranya. “Saya bisa mengatur speed dan exposure (kamera) sesuai keinginan, sehingga saya merasa seperti memiliki kamera profesional,” aku Aditya.

Terkait kapasitas penyimpanan, ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL dipersenjatai penyimpanan internal sebesar 32GB untuk menyimpan semua data multimedia kita. Bila dirasa masih kurang, pengguna bisa menambahkan kartu microSD dengan kapasitas penyimpanan hingga 128GB. Bila masih kurang juga, pengguna bisa memanfaatkan layanan penyimpanan online sebesar 5GB di ASUS WebStorage secara cuma-cuma dan selamanya.

Urusan koneksi dan jaringan internet, serahkan saja sepenuhnya kepada Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL. Dengan dukungan teknologi jaringan 4G LTE Category 4, ponsel ini mampu mengunduh data hingga 150Mbps. Dengan kecepatan ini, data sebesar 1 GB mampu diunduh dengan mudah hanya dalam hitungan kurang dari 55 detik.

Jadi, sudah siapkah menikmati “surga” multimedia dengan ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL? Di Indonesia, ponsel ini sudah tersedia di pasaran dengan harga Rp. 3,599 juta. Selanjutnya, saya sarankan untuk memutuskannya segera, sebelum menyesal kemudian.***