Konser Angklung KPA 3: Sarasa Katha Tauryatrika, Kisah Indah dalam Tiga Simfoni

"Malem ini kosong, ngak?" tiba-tiba seorang kawan menyapa saya melalui layanan pesan singkat Jumat pagi pada 15 Juli 2016 lalu. "Ada 1 free tiket konser KPA3 malam ini di Granus UNPAD. Berminat?" lanjutnya lagi. Mendengar kata gratisan, tentunya saya langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Terlebih lagi, kondisi kanker alias kantong kering yang tengah melanda saya hampir sepanjang semester pertama 2016 ini, membuat diri ini tidak bisa jauh-jauh dari rumah. "Datang jam 7 malam, ya," pesannya kemudian.

Eva dan Evi: “TwiRies, Inilah Kisah Kami Berdua!”

Ringan, menghibur, sekaligus menggemaskan. Penilaian ini rasanya cocok untuk dialamatkan kepada buku TwiRies: The Freaky Twins Diaries buah karya si kembar Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki. Membacanya, membuat kita terinspirasi sekaligus terpingkal-pingkal dengan kepolosan dan kejahilan novelis dan blogger kembar asal Bandung ini.

Berkawan dengan Bisnis Barang Bekas, Berkawan dengan ASUS ET2040IUK

Kawasan di sekitar kampus selalu penuh dengan mahasiswa dan ragam kebutuhannya. Selain tempat tinggal dan penganan untuk mengisi perut, para mahasiswa juga kerap membutuhkan banyak sekali perabotan asrama dan barang-barang lainnya yang mendukung aktivitas mereka sebagai mahasiswa. Membeli baru, tentu mahal. Eh, bagaimana bila membeli barang bekas? Hal satu ini yang jarang ada. Dan tentunya, ini jadi salah satu peluang bisnis baru di lingkungan kampus.

ASUS ZenPower, Si Mungil Elegan yang Powerfull

Ternyata, tulisan saya tentang ponsel ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL berbuntut sebuah ASUS ZenPower berukuran 9600 mAh. Tulisan saya terpilih sebagai pemenang pekanan dalam Lomba Rewriting Siaran Pers ASUS-Rilisiana. Pada akhir periode perlombaan, panitia akan memilih satu tulisan terbaik. Nantinya, penulis yang beruntung tersebut berhak untuk mendapatkan sebuah ASUS Zenfone 2 Laser 6.0 ZE601KL.

Membangun Sanggar Muda Sekepeer, Dalam Khayalan Tapinya…

Tabuhan kaleng dan botol kaca mengalun riuh di tengah-tengah tanah kavling kosong di Sekepeer, Sindanglaya, Bandung, kemarin siang. Anak-anak dengan semangat menabuhnya sembari menyanyikan lagu-lagu dangdut yang tengah populer di masyarakat. Berisik, sudah pasti. Namun, melihat keluguan dan ekspresi mereka dalam bermain musik “kaleng” dadakan tersebut, justru membuat saya berpikir bahwa mereka memiliki potensi yang siap untuk dikembangkan.