Masjid Sebagai Kunci Kolaborasi Nilai Spiritual dalam Kehidupan Sosial Manusia


Foto: antique-prints.de
Foto: antique-prints.de

Akhir-akhir ini, banyak orang yang menilai bahwa politik dan ranah spiritual (baca: agama) adalah dua sosok yang berbeda dan saling terpisah satu sama lain. Keduanya tidak memiliki keterhubungan satu sama lain. Banyak orang yang memandang bahwa keduanya memiliki kontribusi dan peran yang berbeda dalam kehidupan manusia.

Penilaian ini banyak dikecam oleh mereka yang mengaku beragama. Kecaman umumnya datang dari organisasi dan partai berlabel Islam. Bahkan, mereka yang berpendapat bahwa ranah politik dan spiritual harus dipisah, disebut-sebut sebagai sekuler, bahkan anti agama.

Bila melihat sejarah, khususnya sejarah perkembangan Islam di dunia, agama dan sektor kehidupan adalah sesuatu yang padu. Pada zaman rasulullah, masjid merupakan pusat dari aktivitas sosial masyarakat. Mulai dari berbisnis, belajar-mengajar, bermusyawarah, pusat pemerintahan, hingga berlatih dan menyusun strategi perang, dilakukan di masjid.

Sejalan dengan waktu, peran masjid sebagai pusat peradaban masyarakat, lambat laun memudar. Semua urusan keduniawian berangsur-angsur bergeser ke istana. Pada saat itu, peran masjid hanya untuk ibadah semata.

Hal senada juga terjadi di Indonesia, khususnya pada era kerajaan Islam Jawa. Lokasi masjid terpisah dari istana. Istana dilambangkan sebagai pusat peradaban manusia. Sedangkan masjid, adalah bagian dari unsur ketuhanan. Sehingga masjid hanya memiliki fungsi sekunder, yaitu: alat untuk melegitimasi kekuasaan.

Parahnya, kondisi ini tidak berubah hingga saat ini. Tak heran bila masyarakat kebanyakan juga melihat aspek spiritual merupakan sosok yang terpisah dengan aspek-aspek kehidupan. Masjid dibangun hanya untuk shalat dan mengaji semata. Di luar aktivitas tersebut, masyarakat lebih cenderung memilih tempat selain masjid.

Begitu pun pesantren. Menurut saya, ini merupakan bentuk pemisahan antara pendidikan agama dan pendidikan non-agama. Padahal, pesantren sendiri awalnya hadir guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. Namun, ketika pemerintahan kolonial Belanda juga mendirikan sekolah rakyat untuk masyarakat Indonesia, terjadi pula segmentasi pendidikan. Sehingga terbentuklah pandangan bahwa pesantren berbasiskan agama, sedangkan sekolah berbasiskan sains dan teknologi.

Saya pribadi berkeyakinan bahwa nilai spiritual merupakan aspek yang harus bersatu dengan nilai-nilai aktivitas kehidupan lainnya. Nilai spiritual, dalam hal ini agama, punya kontribusi yang besar dalam kehidupan manusia. Namun, saya belum menemukan kolaborasi bentuk yang tepat. Saya juga belum menemukan sosok yang berhasil memadukan nilai spiritual dengan nilai-nilai aktivitas kehidupan lainnya dengan takaran yang sempurna. Tampaknya, ketiadaan sosok ini pula yang membuat banyak orang masih memilih pandangan bahwa nilai spiritual merupakan hal yang terpisah dengan nilai-nilai aktivitas kehidupan lainnya.

Foto: khilafah.eu
Foto: khilafah.eu

Meskipun begitu, masyarakat lambat laun bisa mewujudkan kolaborasi antara nilai-nilai spritiual dengan aktivitas kehidupannya. Salah satu caranya dengan mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban masyarakat. Masyarakat secara bertahap harus mulai menjadikan masjid sebagai tempat belajar-mengajar, berdiskusi, hingga bermusyawarah dan memilih ketua RW.

Tak perlu masyarakat membuat masjid yang megah dan mewah sehingga membuat orang enggan beraktivitas di dalamnya selain shalat. Namun, buatlah masjid yang fungsional dan mampu mewadahi segala aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Sebagai contoh, salah satunya adalah Masjid Salman ITB. Menurut saya, masjid ini sudah mampu memenuhi kriteria sebagai masjid yang berfungsi sebagai pusat peradaban masyarakat sekitarnya –meskipun belum sepenuhnya. Mahasiswa ITB kerap menggunakannya untuk belajar dan berdiskusi. Mereka juga menggunakannya sebagai tempat berkumpul dan memusyawarahkan tugas-tugas ospek. Bahkan ada juga yang menggunakannya untuk sekedar istirahat siang sembari menunggu kuliah berikutnya.

Fungsi-fungsi sosial dan kemasyarakatan inilah yang harus diprioritaskan, mendahului keindahan arsitekturnya, ketika membangun masjid. Dalam jangka panjang, bila fungsi masjid ini telah kembali, insyAllah manusia-manusianya akan mampu memadukan nilai-nilai spiritual dengan aktivitas kehidupan yang lainnya. Semoga…***

One thought on “Masjid Sebagai Kunci Kolaborasi Nilai Spiritual dalam Kehidupan Sosial Manusia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s