Berikan Kami Informasi Positif!


Foto: communicationschools.net
Foto: communicationschools.net

“Berikan contoh berita yang biasa kita lihat di media massa?” tanya saya kepada sekelas anak-anak tingkat Sekolah Dasar. Ketika itu, saya sedang memberikan wawasan tentang kejurnalistikan kepada anak-anak ini.

“Pemerkosaan!”, “Kerusuhan!”, “Pembunuhan!”, “Tabrak Lari!”, “Penjambretan!” itulah jawaban yang mereka ajukan. Tidak salah memang. Karena begitulah informasi yang mereka terima dari media massa kini. Jurnalisme terjebak pada rumus “Bad news is good news”. Semakin buruk sebuah berita, akan semakin laris di masyarakat.

Sekilas, informasi negatif ini tidak memiliki dampak kepada masyarakat. Malah, dengan dalih “membuat masyarakat waspada”, beritanya semakin gencar dari hari ke hari. Namun, dari hari ke hari juga beritanya semakin banyak. Alih-alih menurun, kejadian serupa malah semakin marak.

Bagaimana pun juga, kualitas jurnalisme menentukan kualitas masyarakatnya. Bill Kovach, dalam bukunya Elemen-Elemen Jurnalisme, memaparkan bahwa jurnalisme mempengaruhi kualitas hidup kita, pikiran kita, dan budaya kita. “Anda bisa mengenali pandangan seseorang terhadap dunia … hasrat dan ketakutan yang tak kasat mata … dalam cerita-cerita yang berkembang dalam kebudayaannya,” tulis Bill Kovach mengutip pendapat Thomas Cahill, penulis sejumlah buku populer tentang sejarah agama.

Perihal dampak jurnalisme ini, bisa kita lihat pada kejadian gempa di Jepang. Gempa dan tsunami di negara berlambang matahari terbit ini tidak kalah dahsyatnya dengan yang terjadi di Aceh, Indonesia. Warga dunia bisa menyaksikan kedahsyatan gempa 8,9 SR beserta gelombang setinggi lebih dari 10 meter yang meluluh lantahkan berbagai benda di daratan Jepang.

Meskipun begitu, pada liputan kejurnalistikannya, media Jepang banyak mengangkat kisah-kisah inspiratif dan positif masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana tsunami. Banyak masyarakat dunia terkesima melihat tayangan dari media Jepang yang memperlihatkan warganya saling bahu membahu menyelamatkan korban.

Jepang Paska Gempa dan Tsunami (Foto: sulekha.com)
Jepang Paska Gempa dan Tsunami (Foto: sulekha.com)

Di televisi Jepang pun tak tampak lagu-lagu sendu seperti yang ada di Indonesia. Sebaliknya, media Jepang tak henti-hentinya menyampaikan seruan agar masyarakat Jepang waspada. Media Jepang juga menyerukan rakyatnya untuk bangkit dan berjuang menghadapi salah satu bencana gempa dan tsunami terdahsyat di dunia dalam kurun waktu 100 tahun terakhir tersebut.

Hasilnya, sikap masyarakat positif lah yang mewarnai cerita dari negeri Sakura. Misalnya saja tentang toko-toko yang terjaga baik kendati ditinggalkan pemiliknya. Cerita lainnya adalah masyarakat Jepang yang tidak menimbun atau menjarah toko, meskipun mereka kelaparan dan kedinginan. Juga tentang cerita pemuda Jepang yang mendahulukan tempat nyaman dan hangat untuk para orang tua.

Bagaimana dengan Indonesia? Umumnya, sikap negatif lah yang sebagian besar muncul. Penimbunan, bantuan yang tidak tersalurkan, korupsi  bantuan, penjarahan, alat deteksi gempa yang rusak, dan kasus lainnya, umumnya mewarnai pemberitaan di media massa di Indonesia.

Sikap negatif ini terbangun bukan melalui waktu yang singkat. Sikap ini terbangun melalui masa yang panjang. Sepanjang alunan informasi-informasi negatif yang diterima masyarakat. Informasi yang mengandung horifikasi, stereotipe, stigmatisasi, spekulasi, dan sensasional.

Jurnalisme Positif

Dalam dunia jurnalisme, dikenal istilah jurnalisme positif (positive journalisme) atau jurnalisme inspiratif (inspiring journalism). Jurnalisme jenis ini umumnya menyampaikan informasi positif dan mengungkapkan kekuatan di balik kelemahan. Contohnya saja dengan media di Jepang yang umumnya penganut jurnalisme positif.

Pada peristiwa gempa dan tsunami 2011 silam, negara ini menghadapi masalah kebocoran reaktor nuklir pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Fukushima. Alih-alih menyalahkan pemerintah, media di Jepang malah mempublikasikan tekad pemerintah Jepang untuk mengurangi kebocoran radiasi.

Yang paling fenomenal adalah keputusan misi penyelamatan (media umumnya menyebut misi bunuh diri) 200 pekerja pembangkit listrik untuk masuk dan memperbaiki sistem pendingin reaktor Fukushima. Mereka dikenal sebagai Fukushima 50 (Fukushima fifty). Keputusan tersebut mereka ambil secara sukarela dan independen.

Dalam pandangan jurnalisme negatif, keputusan ini begitu menyedihkan dan membuat banyak anak kehilangan orang tuanya. Namun, dalam pandangan jurnalisme positif, keputusan ini patut diacungi jempol sebagai tindakan berkorban untuk orang banyak, kendati para pekerja ini akan mati atau setidaknya menderita penyakit yang sangat mengerikan.

Dalam beberapa pelatihan jurnalisme warga, saya kerap memperkenalkan perihal jurnalisme positif dan membandingkannya dengan jurnalisme negatif. Umumnya, ketika disodori cerita yang memakai sudut pandang jurnalisme negatif, peserta pelatihan mengaku marah, kesal, emosi, dan kasihan.

Foto: blog.designisaboutyou.com
Foto: blog.designisaboutyou.com

Namun, ketika disodori cerita yang sama dengan sudut pandang jurnalisme positif, peserta umumnya merasa terinspirasi, bersemangat, dan bersyukur. Lebih dari itu, peserta mengaku bahwa di dalam diri mereka ada dorongan untuk membantu dan mencari pemecahan masalah yang solutif.

Sayangnya, sebagian besar media di Indonesia jarang sekali yang berminat untuk membangun jurnalisme dan informasi positif. Padahal, informasi positif adalah hak asasi masyarakat. Di tingkatan individu, informasi positif adalah hak asasi manusia. Karena, dengan informasi positif, mereka bisa membangun kehidupan yang baik dan positif pula.

Meskipun begitu, masyarakat mampu untuk membangun semangat jurnalisme dan informasi positif ini.

Ada 2 cara yang bisa ditempuh. Pertama, memaksa media mainstream untuk merubah pandangan jurnalismenya menjadi penganut jurnalisme positif. Misalnya, masyarakat memboikot produk jurnalisme atau media yang masih memandang segala peristiwa melalui jurnalisme negatif.

Sedangkan cara kedua, masyarakat bisa turut aktif memproduksi informasi positif melalui internet. Dengan adanya media online seperti blog dan media sosial, masyarakat bisa menjadi jurnalis warga dan mempraktikan jurnalisme positif.

Lambat laun, bila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama, gerakan ini bisa memberikan informasi positif terhadap masyarakat. Lebih jauh lagi, merubah kualitas berkehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik.***

29 thoughts on “Berikan Kami Informasi Positif!

  1. Terkadang media ‘latah’ sehingga berita yang di tulis sering dengan topik yang sama, dan celakanya, berita yang berbau negatif lebih sering menjadi topik utama yang banyak di buru… :(

    • itulah, karena kontrol masyarakat terhadap media sangat kecil. kritikan terhadap media dari masyarakat pun seringkali tidak didengar.

  2. Karenanya say tidak suka sekali dengan berita di TV Indonesia mesti I’m Live in here.. setipa hari saya nonton NHK, Arrirang TV ataupun TV luar negeri….pusing kalo lihat pemberitaan dalam negeri…

    • yups, tv luar negeri kualitas jurnalisme dan programnya sudah bagus. tinggal cari cara, “bagaimana membenahi tv indonesia?”

  3. tulisannya menginspirasi. dan memang kita perlu informasi yang positif yang bermanfaat buat audiensnya. ngomong2 menurut saya jarang sekali bisa menemukan berita-berita yang positif, apalagi di tv swasta kita.kira2 di tv mana ada berita yang teduh? belum lagi kalau sedang mewancarai narasumber, pada senang memotong pembicaraan orang dan membuat masalah menjadi nggantung… :-)

    • ada d tv kabel kali yah, mas. hehehe :-D
      kalo saya memang sudah tidak nonton tv lagi, mas. jadi, sedikit hilang galau tentang mutu tayangan televisi kita yg masih amburadul. hehe

  4. Apa yang kita baca, tonton, dengar, dan tulis akan mempengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan bersikap. Jadi baca, tonton, dengar, dan tulis semua hal yang memiliki muatan POSITIF…..
    Xiexie

    Good posting Kang Yudha :D

    • yups, bener sekali, Arin. mari kita mengkonsumsi dan memproduksi informasi positif :-)
      ni hao ma? long time no see you.
      ada rencana ke bandung?
      kabari yah kalo mau k sini :-)

  5. wuih keren kang!
    seringkali kita ingin nulis yang positif2, tapi itu cuma jadi bahan feature yang disimpan di bagian bawah halaman.. sementara buat headline biasanya yang negatifnya :( *pengalaman pribadi hehe*

    btw meski mengedepankan jurnalisme positif, saya pikir ketika memang ada yang negatif jangan sampai dilupakan sih. contohnya ketika bantuan memang benar dikorupsi, itu harus diusut. minimal keduanya diberitakan seimbang :D CMIIW :D

    • yups. berita2 seperti itu memang selalu ada. namun, kita jangan terjebak dengan bad news. berita buruk pun masih bisa diusahakan agar positif. caranya, om hahn2 yang lebih berpengalaman yang saya pikir lebih mumpuni dalam hal ini. selamat mencoba, om :-)

  6. Setuju bgt mas Yudha,

    Makanya saya jarang nonton tv apalagi baca koran karena isinya pasti itu2 aja. Demonstrasi lah, unjuk rasa, pemerkosaan lah, dsb. Saya lebih suka subscribe blog2 para inspirator seperti pak Jamil Azzaini, Muhammad Assad, Merry Riana, dsb. Hidup jadi lebih positif. Hehe. :)

    • Yups, saya juga sudah tidak nonton tv lagi. tapi kalo baca koran masih. hehe
      tapi, tidak itu aja. saya juga mencoba buat media yang mengandung nilai2 positif. setidaknya ikut berpartisipasi untuk mengangkat informasi2 positif ke ranah maya.
      makasih atas kunjungan dan komentarnya, mas Budi :-)

    • hehehe. nah, masalahny saya ngak suka bola, jd bner2 ngak ada bacaan, mas. :-D
      terima kasih sudah berkunjung, membaca, dan berkomentar :-)

  7. betul bang, itu semua tergantung sudut pandang,
    tapi kalo ga salah waktu kejadian tsunami jepang juga ada berita miringnya, cuma sedikit… tertutup oleh berita-berita lainnya. yang memerankan peran penting di sini ya… media.. dan sayangnya, media yang seharusnya bersikap netral seringkali malah ditunggangi oleh pihak-pihak yang berkepentingan
    “jadi siapa yang menguasai media, dialah yang berkuasa”

    • well, media tidak ada yg netral. ada juga media yg berpihak. masalahny, dia berpihak kepada siapa? penguasa atau rakyat?

      dan dengan masyarakat bisa membangun media sendiri (bisa juga media komunitas), ketergantungan kita terhadap media mainstream bisa dreduksi seminim mungkin. bahkan, nanti media mainstream yang ikut2an masyarakat. karena, kalo ngak gitu, mereka ngak akan punya konsumen.

      dalam hal ini, saya pikir kita harus mulai melek media dan mewujudkan media bersama. tujuannya, supaya tidak dkuasai oleh penguasa dan pengusaha media.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s