Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Kembali Belajar Fotografi

Foto Tol Cipali yang saya potret selepas maghrib di Jatiwangi, Majalengka. (Foto: Yudha PS)

Matahari baru saja turun ke peraduan 15 menit yang lalu. Namun, saya tetap bertahan di jembatan penyeberangan Tol Cipali di Jatiwangi, Majalengka. Jembatan penyeberangan tersebut terletak di tengah sawah yang tanpa penerangan satu pun. Praktis, ketika matahari terbenam, saya diliputi oleh malam yang gelap gulita.

Tentunya, saya dipenuhi oleh rasa was-was yang sangat besar, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada diri saya. Dalam keadaan gelap tersebut, bisa saja saya mengalami aksi kejahatan. Meskipun begitu, rasa was-was tersebut kalah bersaing dengan rasa penasaran saya untuk memotret arus mudik selepas maghrib di tol Cipali.

Malam semakin larut saja, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Kamera saku Canon Ixus 115 saya tanpa henti mengambil foto demi foto yang mengabadikan kepadatan arus mudik selepas Idul Fitri 1436H tersebut. Foto dengan hasil terbaik, itulah yang ingin saya dapatkan.

Keadaan cahaya sudah sangat minim kala itu. Saya menggunakan mode Long Shutter di kamera dengan lama bukaan mencapai 15 detik. Kamera pun saya taruh di pinggiran jembatan agar lebih stabil dan menghindari guncangan ketika proses pengambilan gambar. Hasilnya, sesuai harapan: garis cahaya lampu mobil yang melintasi jalan tol Cipali dan dilatari oleh langit biru lengkap dengan bintang dan bulan sabit. Puas dengan hasil tersebut, saya langsung mengambil motor, tancap gas, dan pulang ke rumah orang tua yang jaraknya sekitar 2-3 Kilometer dari tempat pengambilan gambar.

Tekad saya untuk mengambil gambar dengan resiko yang cukup besar tersebut bisa dibilang tidak lumrah untuk saat ini. Pasalnya, selama memiliki kamera saku tersebut selama kurun waktu 3 tahun terakhir, saya termasuk orang yang biasa-biasa saja dalam menggunakannya. Kamera umumnya hanya saya gunakan untuk mendokumentasikan acara-acara yang cukup istimewa, seperti pernikahan, seminar, rapat, atau pun pelatihan. Selebihnya, jarang sekali saya gunakan.

Hal ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan masa-masa 4-7 tahun lalu. Ketika itu, saya kerap berburu foto dengan menggunakan kamera semi-SLR atau D-SLR milik teman. Mulai dari Dago Pakar di Bandung Utara sampai Kawah Putih di Bandung Selatan pernah saya jajaki dalam rangka belajar memotret. Bahkan, saya kerap ke pasar-pasar tradisional pada tengah malam hanya untuk memotret. Hasilnya, tidak terlalu buruk dan bisalah masuk dalam kategori “lumayan”.

Ketika masih muda di Kawah Putih, Ciwidey, Bandung, dengan kamera pinjaman. (Foto: Bagus RM)

Kebiasaan berburu foto tersebut ternyata mulai luntur justru setelah saya memiliki kamera saku sendiri. Barangkali, karena biasa memegang kamera semi-SLR dan D-SLR, membuat saya tidak banyak berkutik ketika “bersenjatakan” kamera saku.

Salah satunya berkaitan dengan perbesaran gambar. Dengan menggunakan semi-SLR, saya bisa melakukan perbesaran hingga 30 kali. Fitur ini membuat saya bisa menangkap objek yang jauh atau pun melakukan perbesaran hingga mampu mengambil detil sebuah objek. Dengan kamera saku? Saya nyaris tidak bisa berkutik dengan perbesaran maksimal hanya 5 kali.

Isu lainnya mengenai ketajaman gambar dan keterbatasan cahaya. Kamera semi-SLR dan D-SLR mampu menghasilkan gambar yang tajam dan bergerak luwes dalam keadaan cahaya yang minim. Hal inilah yang tidak bisa disaingi oleh kamera saku, khususnya Canon Ixus yang saya miliki. Ketajaman jelas kalah jauh. Adapun urusan cahaya, mutlak mati-kutu bila keadaan sudah mulai senja atau berada di ruangan yang temaram.

Namun, semua itu berubah ketika saya secara tidak sengaja tertambat di halaman Youtube Canon Australia pada Ramadhan lalu. Kala itu, saya menemani seorang kawan yang baru saja memiliki sahabat baru: Canon Powershot G16. Untuk merayakannya, kami berdua menonton saluran resmi Canon Australia di kanal video milik Google sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Selama menonton, kami seringkali terpukau melihat foto-foto menawan yang dihasilkan fotografer Canon Master. Canon Master sendiri merupakan julukan bagi fotografer profesional yang karyanya sudah diakui dunia dan memotret menggunakan kamera Canon. Saluran Canon Australia sendiri banyak menyuguhkan testimoni, review, dan how-to menggunakan kamera Canon agar mampu menghasilkan foto yang menawan.

Sejak peristiwa itu, saya kerap menongkrongi saluran Canon di Youtube. Tidak tanggung-tanggung, saya berlangganan 4 saluran Canon, yaitu: Canon Australia, Amerika, Eropa, dan Asia. Tujuannya satu: mengambil inspirasi fotografi dari para Canon Master. Saya juga banyak belajar tentang tata cara mengambil gambar yang baik dari saluran tersebut.

Selain itu, saya juga jadi senang menongkrongi saluran National Geographic Live!. Saluran ini salah satunya menyuguhkan presentasi fotografer-fotografer National Geographic ketika beraksi di lapangan. Acara tersebut semacam ajang “behind the scenes” di balik foto-foto National Geographic yang terkenal sebagai karya-karya terbaik dunia.

Hasilnya, hasrat untuk berburu foto langsung membuncah hingga ke titik tertinggi. Sejak saat itu, saya selalu ke luar rumah untuk berjalan-jalan dan mencari objek foto yang menarik. Ketika saya di Jatiwangi, hampir setiap sore saya menaiki motor dan berkeliling hingga ke kecamatan tetangga. Anak dan istri biasanya saya ajak, sembari menikmati sore pada musim kemarau.

Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)
Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Bila ada objek yang menarik, saya langsung turun dari motor dan memotretnya semaksimal mungkin. Anak dan istri menunggu di motor sembari memperhatikan saya yang sedang tergila-gila belajar memotret. Tak jarang mereka menunggu sampai 30 menit di atas motor. Beruntung, mereka cukup sabar untuk menunggu.

Ketika pulang kembali ke Bandung, aktivitas memotret saya lakukan sembari berlari sore. Belakangan, saya berusaha mengerem agar frekuensi aktivitas memotret saya tersebut maksimal hanya 2-3 kali sepekan. Saya mulai khawatir dengan kapasitas penyimpanan data yang mulai membengkak. Selain itu, frekuensi memotret 2-3 kali sepekan memberikan jeda untuk saya mengevaluasi foto-foto yang dihasilkan, sekaligus memperbaiki teknik memotret agar mampu lebih baik.

Salah satu yang membuat saya bersemangat lagi untuk belajar memotret menggunakan kamera saku adalah ungkapan, “Man behind the gun.” Kang Dudi Sugandi, dan juga fotografer lainnya, kerap mengingatkan kepada kami yang belajar fotografi bahwa foto yang bagus tidak tergantung kepada perangkatnya, tetapi justru manusianya. “It is not about gun, it is about man behind the gun,” demikian ungkapannya dalam bahasa Inggris.

Ungkapan ini benar-benar dibuktikan oleh kang Dudi Sugandi. Dengan kamera ponsel pun, beliau bisa menghasilkan foto-foto yang menawan. Umumnya, beliau mempublikasikan foto-foto tersebut di akun Instagramnya. Dalam hal ini, jam terbang adalah kuncinya.

Hikmah senada pernah diceritakan kawan saya yang memiliki teman berkamera Canon EOS 1D. Suatu ketika, kawan saya tersebut meminta bantuan temannya untuk memotret sebuah restoran. Hasilnya, sang manajer restoran menilai hasil fotonya kurang memadai. Ternyata, temannya kawan saya tersebut memiliki banyak uang untuk membeli kamera mahal, tetapi tidak memiliki jam terbang yang cukup untuk mempergunakannya. Coba kalau Canon EOS 1D itu dikasihkan ke saya, yah. Mungkin akan saya jual lagi. Hahaha.

Kini, saya berusaha mensyukuri kamera saku Canon Ixus sambil terus belajar memotret dan menghasilkan foto yang terbaik. Keterbatasan gambar saya coba siasati sedemikian rupa dengan photo-editor. Saya sendiri menggunakan aplikasi Preview di MacOS yang pengoperasiannya cukup sederhana. Hasilnya, cukup menggembirakan dan mampu meningkatkan kualitas foto saya, khususnya dalam warna dan komposisi.

Memiliki kamera semi-SLR atau D-SLR? Ah, nanti dulu. Bagi saya yang besar dan hidup dari menulis, rasanya terlalu mahal bila harus membeli tipe kamera tersebut. Alasannya, sederhana saja: fotografi belum bisa memberikan pendapatan bagi saya. Hal ini berbeda dengan menulis yang menjadi mata pencaharian saya hingga detik ini. Barangkali, bagi saya, MacBook sebagai perangkat kerja untuk menulis akan berusaha saya dapatkan dibandingkan Canon D-SLR, kendati harganya di bawah MacBook. Namun, niscaya saya tidak akan menolaknya bila ada yang mau memberikan satu kamera Canon D-SLR. Hahaha.{*}

Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Liputan Bersama Kompas TV: Kontribusi untuk Indonesia (3/3)

Kondisi pepohonan hutan di Karangsoak yang mulai meninggi. (Foto: Yudha PS)
Kondisi pepohonan hutan di Karangsoak yang mulai meninggi. (Foto: Yudha PS)

Sahur kedua di Desa Mandalamekar. Meski tanpa gempa seperti hari pertama, tetapi kami bangun tepat waktu dan masih semangat menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja makan. Meskipun begitu, kelelahan mulai tampak di wajah tim Kompas TV. Terlebih lagi, mereka sudah 2 pekan berada di lapangan, jauh dari kasur yang empuk di rumah.

Agenda liputan hari ini adalah mewawancarai pak Yana Noviadi selaku kepala desa Mandalamekar, dan kang Irman Meilandi sang penggerak Gerakan Desa Membangun (GDM) di Mandalamekar. Pak Yana sendiri diwawancarai di rumahnya, yang tidak lain merupakan tempat menginap kami. Bersama pak Yana, kami berbincang-bincang mengenai penghijauan, program pemerintah desa, dan pergerakan citizen media di Mandalamekar.

Hampir semua paparan pak Yana pernah saya tulis di blog, termasuk perjalanannya menjadi kepala desa, program membangun hutan, digitalisasi administrasi desa, dan pergerakan citizen media berbasis radio dan internet di Mandalamekar. Meskipun begitu, dalam wawancara tersebut, beliau menyelipkan beberapa perkembangan baru yang perlu saya catat di sini.

Salah satunya adalah visi Mandalamekar pada tahun 2025 sebagai desa maju. Hal ini merupakan rentetan dari pembangunan yang dilakukan oleh Mandalamekar sejak masih berstatus sebagai desa tertinggal pada satu dekade lalu. Kini, Mandalamekar mulai berstatus sebagai desa berkembang.

Untuk menggapai visi ini, Mandalamekar tengah berusaha membangun manusianya agar mampu mandiri dan berdaulat. Guna mewujudkannya, praktis sektor pendidikan dan ekonomi tengah digenjot di Mandalamekar saat ini. Di sektor ekonomi, Mandalamekar kini tengah getol-getolnya membangun ekonomi berbasis desa. Setelah cukup sukses dengan cabai dan rintisan wisata desanya, kini pak Yana dan masyarakatnya tengah mengembangkan peternakan sapi.

Uniknya, Mandalamekar tidak sendiri dalam hal ini. Mereka bekerjasama dengan 4 desa lainnya di kawasan untuk membangun Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). SPR ini merupakan salah satu ikhtiar untuk membangun ekonomi berbasiskan peternakan sapi, salah satu sumber daya yang ada di desa-desa di sekitar Mandalamekar.

Sedangkan dari sektor pendidikan, Mandalamekar kini memiliki SMK Karya Putra Manggal. SMK ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Mandalamekar semata, tetapi juga masyarakat desa-desa lainnya yang tidak bisa melanjutkan SMA ke kota.

Bagi pak Yana, berusaha menyelesaikan masalah-masalah di Mandalamekar secara mandiri merupakan “unjuk rasa” atas absennya negara di desa tertinggal. Alih-alih menyibukkan diri berdemo dan menuntut pemerintah agar peduli, justru pak Yana dan kawan-kawan secara bergotong royong membangun desa Mandalamekar. Hasilnya, kini, justru pemerintah yang ingin sekali membantu Mandalamekar. Keinginan ini bahkan tersirat dari pemerintahan mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga pusat.

Usai wawancara, mas Popo meminta pak Yana untuk mendemonstrasikan aktivitasnya ketika mengakses internet di tengah sawah. Aktivitas ini memang unik, dan menjadi bahan tulisan saya ketika membahas Mandalamekar pada kunjungan pertama. Tidak hanya saya dan Kompas TV saja yang mengangkat aktivitas unik tersebut. Film dokumenter Lini Massa 2 pun melakukan hal yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, pak Yana juga mengajak saya dan tim Kompas TV untuk melakukan ritual yang harus dilakukan para tamu bila berkunjung ke Mandalamekar: menanam pohon. Pak Yana memilih Karangsoak sebagai lokasi ritual ini. Kami bersama beberapa warga Mandalamekar pun langsung menuju lokasi.

Saya cukup takjub melihat kondisi Karangsoak saat ini. Pada 2011 silam, ketika saya pertama kali berkunjung ke sini, saya masih bisa melihat sungai Ciwulan di sebelah utara Mandalamekar dari jalanan yang membatasi hutan Karangsoak dengan kebun warga.

Namun, saat ini, sungai tersebut sudah tidak tampak, ditutupi oleh pepohonan yang sudah meninggi. Lebih dari itu, kini Karangsoak mulai dihuni binatang-binatang yang tidak pernah terlihat ketika hutan ini gundul. Salah satunya adalah ular Sanca besar dengan panjang hingga belasan meter. Kontan, bagi saya yang tidak menyukai ular, cerita tersebut membuat saya merinding dan berhati-hati berada di Karangsoak.

Pak Yana mengajak kami menanam di area kosong di tengah hutan. Dibantu mang Dodi Rosadi, kami menanam pohon Jati Uganda. Mang Dodi dan mang Tata sendiri sudah menyiapkan sekitar 6 bibit pohon untuk kami tanam. Namun, karena keperluan pengambilan gambar, akhirnya setengahnya ditanam oleh saya semua. Mas Popo mengarahkan saya untuk menanam beberapa kali. Sedangkan sisanya ditanam oleh mba Yessi selaku perwakilan Kompas TV.

***

Kondisi pepohonan di Pasirbentang yang sudah meninggi. Padahal, 10 tahun lalu, area ini masih berupa lahan kritis yang ditumbuhi ilalang. (Foto: Yudha PS)
Kondisi pepohonan di Pasirbentang yang sudah meninggi. Padahal, 10 tahun lalu, area ini masih berupa lahan kritis yang ditumbuhi ilalang. (Foto: Yudha PS)

Selepas sholat Jumat, dan siang semakin terik saja. Bila hari biasa, momen ini tentunya akan diisi oleh makan siang atau menghabiskan sebutir kelapa hijau untuk memuaskan dahaga. Namun, hal ini tidak memungkinkan terwujud saat itu, tengah hari pada bulan Ramadhan 1436H.

Agenda selanjutnya adalah mewawancarai kang Irman Meilandi. Sesi pengambilan gambar dan wawancara terakhir di Mandalamekar ini diambil di area Pasirbentang, sebuah bukit yang merupakan titik tertinggi di Mandalamekar. Dulunya, area Pasirbentang dimiliki oleh orang-orang dari desa lain. Kini, sebagian besar tanah di bukit Pasirbentang sudah dibeli oleh kang Irman.

Satu dekade silam, ketika Pasirbentang masih dimiliki oleh banyak orang, lahan ini kritis dan hanya ditumbuhi alang-alang. Prihatin dengan kondisi tersebut, kang Irman sedikit demi sedikit membelinya dan mengubahnya menjadi hutan. Untuk mempercepat tumbuhnya pepohonan di Pasirbentang, kang Irman sengaja mengembalakan sapinya di lokasi tersebut. Diharapkan, kotoran sapi tersebut menjadi pupuk yang mampu menyuburkan tanah di Pasirbentang dan mempercepat pertumbuhan pepohonan yang ditanam. Hasilnya, setelah 10 tahun berlalu, Pasirbentang teduh dengan tajuk pohon yang tingginya 2 kali tiang telepon.

Kang Irman mengajak saya dan tim Kompas TV ke puncak Pasirbentang. Untuk menjangkaunya, kami harus naik kendaraan dan melewati jalanan berbatu dan berlubang. Selepas itu, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan melewati jalur setapak di antara semak belukar dan pepohonan yang rindang.

Mba Yessi beberapa kali menanyakan jarak yang harus ditempuh untuk tiba di Pasirbentang dengan berjalan kaki. Tampaknya beliau ingin memastikan bahwa perjalanan tidak terlalu jauh, mengingat kondisi tim yang sudah setengah kelelahan. Namun, Kang Irman meyakinkan kami bahwa jaraknya hanya 1,5 Kilometer. Untuk membantu tim Kompas TV, kang Irman bahkan meminta bantuan penduduk setempat untuk membawakan tripod yang beratnya antara 3-5 Kilogram.

Ternyata, kecurigaan mba Yessi terjawab. Pada saat turun dari Pasirbentang, beliau sempat menanyakan ke asisten kang Irman ihwal jarak yang mereka tempuh. Ternyata, jaraknya mencapai sekitar 5 Kilometer. Saya kemudian berseloroh bahwa jarak yang kang Irman sebutkan diukur menggunakan drone, bukan berjalan kaki. Jadi dihitung garis lurus, bukan berkelok-kelok seperti yang kami tempuh.

Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)
Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Untuk menggapai puncak Pasirbentang memerlukan usaha yang cukup besar. Kami harus melewati jalanan setapak yang terjal, berbatu, licin, dan berliku. Beberapa kali kami harus berhenti sejenak untuk menghela nafas. Meskipun begitu, melihat semangat kang Irman untuk menceritakan Pasirbentang dan suasana hutan yang adem, membuat kami terpacu untuk sampai ke puncak Pasirbentang secepat mungkin.

Salah satu yang diceritakan oleh kang Irman adalah mata air yang mulai kembali mengalir kembali di Pasirbentang seiring pulihnya hutan di atasnya. Airnya pun cukup deras dan jernih, dan dialirkan menggunakan bambu untuk memenuhi kebutuhan warga yang tinggal di bawahnya. Padahal, musim kemarau sudah mulai mengeringkan sawah-sawah di desa-desa sekitar Mandalamekar. Namun, tidak untuk mata air di Mandalamekar.

Sesampainya di puncak Pasirbentang, sebuah rumah panggung menyambut kami. Kang Irman menceritakan bahwa rumah panggung tersebut kerap dijadikan tempat menginap bagi dirinya ketika berkunjung ke Pasirbentang. Durasinya pun cukup lama, bisa sampai sepekan.

Wawancara dengan kang Irman kami lakukan tepat di bawah rumah panggung tersebut. Wawancaranya sendiri seputar latar belakang beliau meninggalkan kehidupan mapannya di Papua dan prestasinya meraih Seacology Award. Selain itu, latar belakang berdirinya SMK Karya Putra Manggala di Mandalamekar pun menjadi bahan wawancara kami.

Banyak hal yang kang Irman paparkan pernah saya tulis di blog. Salah satu yang menurut saya baru adalah usahanya untuk membangun kapasitas manusia di Mandalamekar. Hal ini ditempuh dengan mendirikan SMK di bidang Teknik Komputer Jaringan.

Mba Yessi beristirahat sejenak di tengah perjalanan menuju puncak Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)
Mba Yessi beristirahat sejenak di tengah perjalanan menuju puncak Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Pilihan bidang di SMK ini dilatar-belakangi minimnya minat anak muda Mandalamekar untuk belajar peternakan dan kehutanan. Meskipun begitu, kang Irman mendorong agar SMK ini juga menyelipkan kemampuan berternak dan mengelola hutan. Harapannya, lulusannya mampu mengoptimalkan potensi yang ada di Mandalamekar dan menghubungkannya dengan dunia luar.

Setelah satu jam mengambil gambar, kami pun mengarahkan diri untuk kembali ke rumah pak Yana dan mengemasi barang-barang kami. Dua hari menjelajah Mandalamekar untuk 2 segmen sebuah episode Cerita Indonesia, itulah yang kami tempuh. Lelah, sudah pasti. Namun, pengalaman baru yang didapat dan didokumentasikan lebih berarti dibandingkan pegal, lapar, dan dahaga yang dirasakan. Harapannya, banyak orang yang bisa mendapatkan inspirasi dari penggalan-penggalan gambar yang disuguhkan Kompas TV ketika tayang kelak.

Selepas maghrib, saya dan tim Kompas TV langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Bagi saya, meninggalkan Mandalamekar bukan berarti pergi jauh dari desa tersebut. Namun, selalu diiringi janji untuk kembali dan berkontribusi lebih baik pada suatu saat nanti, baik untuk Mandalamekar, juga untuk Indonesia yang lebih baik.{*}

Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)

Liputan Bersama Kompas TV: Belajar dari Jurnalis TV (2/3)

Mas Ridwan tengah mengambil gambar suasana pagi di Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)
Mas Ridwan tengah mengambil gambar suasana pagi di Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)

Jarum pendek jam dinding begitu beratnya meninggalkan angka 3. Seberat saya yang harus meninggalkan peraduan untuk sahur kala itu. Cuaca yang dingin di luar sana dan sleeping bag yang hangat memang perpaduan yang tepat untuk meneruskan tidur hingga siang menjelang.

Namun, pagi itu, tampaknya bukan pilihan yang tepat untuk berlaku malas di Mandalamekar. Tak lama setelah saya bangun, gempa mengguncang Tasikmalaya dan sekitarnya. Sebentar, tetapi cukup keras dan terbukti membuat panik serta meningkatkan adrenalin siapa pun yang ada di situ, termasuk saya.

“Cuman gempa untuk membangunkan orang sahur,” pak Yana berseloroh dengan santai kepada kami. “Ayo, cepat kita sahur. Hidangan sudah siap,” ajaknya lagi. Dengan segera, saya bersama tim Kompas TV langsung menyantap hidangan sahur buatan istri pak Yana. Masakannya yang lezat, membuat kami nambah, nambah, dan nambah lagi. Sampai adzan subuh berkumandang, tanda waktunya menjalankan ibadah puasa.

Selepas subuh, tim Kompas TV langsung menyamber kameranya. “Cari sunrise,” kata mas Ridwan. Dengan segera, dia bersama mas Anjas mencari posisi yang uenak untuk mendapatkan gambar terbaik. Balkon di rumah pak Yana sang Kepala Desa Mandalamekar segera dijajakinya jengkal demi jengkal. Mereka kemudian mengarahkan kamera ke arah terbitnya matahari, kemudian menunggu matahari nongol.

***

Dua hari bersama tim Kompas TV di Mandalamekar merupakan berkah tersendiri bagi saya. Pasalnya, saya bisa banyak belajar tentang dunia jurnalisme TV kepada mereka. Bagi saya, yang lahir dan besar serta menggeluti di “dunia teks”, dunia audio-visual merupakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Tim Kompas tengah mempersiapkan wawancara siswa dan guru SMK. (Foto: Yudha PS)
Tim Kompas tengah mempersiapkan wawancara siswa dan guru SMK. (Foto: Yudha PS)

Mba Yessi sempat menjelaskan bahwa kekuatan utama dunia audio-visual adalah gambar. Untuk menceritakan sesuatu, tim harus berjuang keras untuk memvisualkan data-data yang mereka dapat dari studi pustaka dan wawancara dalam bentuk gambar bergerak dan suara. “Show, not tell,” barangkali ungkapan jurnalisme tersebut cocok untuk membingkai aktivitas tim Kompas TV selama di lapangan, termasuk di Mandalamekar.

Tuntutan tersebut tentunya membuat para jurnalis TV harus bekerja ekstra keras dibandingkan mereka yang menggeluti “dunia teks”. Bagi saya, dan mungkin juga para jurnalis media cetak, hanya cukup mewawancarai narasumber dan mengeksplorasi data secara online atau kepustakaan. Adapun observasi ke lapangan merupakan pilihan ketika data sudah lengkap. Sisanya, saya dan “makhluk dunia teks” lainnya tinggal meramu kata-kata agar pembaca bisa memahami dan membayangkan dalam imajinasinya realitas yang saya dapatkan melalui wawancara dengan narasumber.

Tentunya, hal ini berbeda dengan mba Yessi dan tim Kompas TV. Tugas mereka tidak selesai seiring tuntasnya runtutan wawancara dengan narasumber, seperti halnya para penulis. Selanjutnya, mereka harus memvisualisasikan agar data-data yang didapatnya bisa dirangkai menjadi cerita yang menarik bagi para penontonnya. Mereka harus bekerja keras mengambil gambar di lokasi-lokasi yang dipaparkan oleh narasumber pada wawancara pra-liputan.

Setidaknya, hal inilah yang saya perhatikan selama “mengekor” tim Kompas TV. Pada malam ketika kami tiba di Mandalamekar, mba Yessi dan mas Popo secara serius mengumpulkan data dari perbincangan mereka dengan kang Irman Meilandi. Tidak hanya itu saja. Mereka juga meminta saran lokasi shooting dan narasumber yang harus mereka wawancarai untuk memvisualkan data-data yang mereka punyai.

Setelahnya, mereka tidak langsung tidur. Padahal, waktu sudah hampir mendekati tengah malam. Saya perhatikan, mba Yessi selaku asisten produser langsung membuat daftar gambar yang harus diambil oleh mas Popo dan mas Anjas. Beliau juga mendaftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber dan mengarahkan saya untuk pengambilan gambar keesokan harinya.

***

Persiapan penerbangan Drone Desa oleh tim Drone Desa dari Institut Pertanian Bogor (IPB). (Foto: Yudha PS)
Persiapan penerbangan Drone Desa oleh tim Drone Desa dari Institut Pertanian Bogor (IPB). (Foto: Yudha PS)

Kabut yang menyelimuti Mandalamekar dan dingin yang menerpa perlahan-lahan sirna, digantikan sinaran matahari yang terik dan hangat. Tim Kompas TV baru saja selesai mengambil time lapse matahari terbit. Selanjutnya, petualangan shooting di Mandalamekar yang sebenarnya pun dimulai.

Sebagai pemanasan, mba Yessi dan kawan-kawan Kompas TV memutuskan untuk mengambil gambar penerbangan drone desa dan meliput aktivitas SMK Karya Putra Manggala. Untuk drone desa sendiri, diterbangkan di lapangan belakang SMP 2 Jatiwaras, tak jauh dari kantor Desa Mandalamekar.

Sayangnya, tidak banyak gambar yang bisa diharapkan dari aktivitas drone desa tersebut. Tak lama setelah usaha untuk menerbangkan drone gagal, tim memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya dan menangguhkan proses pemetaan Mandalamekar sampai keesokan harinya.

Pangkal dari keputusan tersebut adalah angin terlalu kencang dengan arah yang berubah-ubah. Hal ini membuat drone kepayahan untuk menggapai ketinggian 400 meter dari permukaan tanah. Ketinggian minimum ini merupakan syarat agar drone bisa terbang dan memetakan wilayah Mandalamekar dengan mode auto-pilot atau secara otomatis. Bahkan, saking kencang dan labilnya angin, drone berbentuk pesawat berbaling-baling satu tersebut sempat kehilangan kendali serta menabrak pohon dan menyangkut.

Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)
Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)

Tanpa membuang waktu, tim Kompas langsung berpindah ke agenda peliputan selanjutnya: SMK Karya Putra Manggala. Aktivitasnya pun sederhana: mewawancarai narasumber dan melakukan simulasi aktivitas sehari-hari SMK pertama di Desa Mandalamekar ini. Simulasi ini dilakukan karena aktivitas belajar di sekolah tersebut tengah libur. Beruntung, seluruh siswa SMK sedang berkumpul, sehingga tidak sulit untuk melakukan simulasi belajar mereka.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk meliput SMK Karya Putra Manggala. Meskipun pengambilan gambar cukup sederhana dan mudah, tetapi ada faktor non-teknis yang membuat proses tersebut diulang beberapa kali: narasumber gugup di depan kamera.

Mba Yessi sampai beberapa kali berusaha menenangkan siswi yang menjadi narasumber liputannya tersebut. Bahkan, untuk membuat sang narasumber nyaman, mba Yessi sampai memperbolehkannya menjawab menggunakan Bahasa Sunda. Strategi ini berhasil membuat narasumber menyelesaikan sesi wawancaranya dengan cukup baik.

Aktivitas meliput SMK Karya Putra Manggala diakhiri dengan simulasi proses belajar yang berbeda dibandingkan sekolah-sekolah pada umumnya. Siswa belajar secara melingkar dengan guru di tengahnya. Aktivitas belajar yang diadaptasi dari Pramuka ini membawa pengalaman belajar yang cukup disenangi oleh para siswa. Lebih jauh mengenai cerita SMK Karya Putra Manggala dan Drone Desa akan saya paparkan dalam tulisan lainnya.

***

Simulasi belajar siswa SMK di kelas. (Foto: Yudha PS)
Simulasi belajar siswa SMK di kelas. (Foto: Yudha PS)

Matahari mulai beranjak terik ketika kami mulai melakukan proses pengambilan gambar untuk episode Cerita Indonesia Kompas TV tentang Mandalamekar. Konsepnya, saya seperti merekonstruksi perjalanan saya ke Mandalamekar beberapa tahun silam dan melakukan wawancara ke beberapa narasumber. Dengan kata lain, saya sebagai “pemeran utama” dalam episode Cerita Indonesia tentang Mandalamekar.

Sejujurnya, saya pribadi tidak terlalu suka tampil di depan layar. Maklum, sejak berkecimpung di dunia media, saya lebih banyak menjadi orang di balik layar. Mulai dari penulis skrip, pemegang kamera, sampai editor pernah saya lakoni. Saya terbiasa mengarahkan orang dan mengolah hasilnya. Dan sekarang, saya harus berada di posisi yang membuat banyak orang seringkali merasa gugup. Ah, karena cuma sesekali, saya pun berusaha melakoni peran saya semaksimal mungkin.

Teriknya matahari tidak menyurutkan tim Kompas TV beraktivitas siang itu. Padahal, mereka semua sedang berpuasa, termasuk mba Yessi yang seorang Nasrani. “Kalau (aktivitas tim) diselingi oleh makan siang saya, nanti agenda pengambilan gambar malah terhambat,” begitu jawabnya, mentoleransi ibadah puasa tim. Saya benar-benar terharu mendengar komentarnya.

Kembali ke aktivitas pengambilan gambar. Saya diminta oleh mas Popo untuk menaiki motor dan bertemu dengan narasumber pertama, mang Tata Sumitra. Mang Tata sendiri merupakan wakil ketua dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mitra Alam Munggaran. KSM ini merupakan ujung tombak aktivitas pembangunan hutan di Mandalamekar dalam kurun waktu 10 – 15 tahun terakhir.

Saya, mang Tata, dan tim Kompas TV melakukan pengambilan gambar di area hutan Pasirsalam. Untuk menuju lokasi ini, kami harus berjalan sejauh lebih-kurang 3 Kilometer dari rumah Kepala Desa Mandalamekar. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi jalanan berbatu yang agak menanjak dan ditemani matahari tengah hari bulan Ramadhan. Mas Popo dan mas Ridwan bahkan memanggul tripod dan membawa kameranya masing-masing, tanpa bantuan siapa pun. Padahal, barang-barang yang mereka bawa beratnya mencapai 5 Kilogram.

Sesampainya di lokasi, suasana agak teduh dipayungi tajuk pohon hutan lindung Pasirsalam. Kami melakukan aktivitas pengambilan gambar tepat di pinggiran hutan yang berbatasan dengan perkebunan masyarakat. Kondisi masing-masing lahan sangat kontras. Kondisi di dalam Hutan lindung Pasirsalam sangat gelap. Pepohonan tumbuh dengan sangat rapat dan ukurannya pun besar-besar. Adapun lahan hutan milik masyarakat sangat terang dengan jarak antar pohon cukup jauh dan usia pohon masih sangat muda.

Mang Tata (berbaju biru - kanan) tengah menunjukkan pohon yang disukai oleh primata hutan. (Foto: Yudha PS)
Mang Tata (berbaju biru – kanan) tengah menunjukkan pohon yang disukai oleh primata hutan. (Foto: Yudha PS)

Mang Tata memberitahukan bahwa kondisi hutan Pasirsalam dahulu hampir menyerupai lahan hutan milik masyarakat di sebelahnya: jarang pohon dan gersang. Namun, kondisinya saat ini jauh berbeda. Semenjak ditanami kembali, hutan di Pasirsalam hijau kembali. Bahkan, beberapa spesies khas Mandalamekar mulai muncul lagi, setelah sempat dinyatakan punah 2 dekade lalu.

Mang Tata menyebutkan salah satu contohnya adalah bambu berduri. Bambu ini cukup unik karena memiliki duri besar-besar di permukaan kulitnya hingga ketinggian 2 meter dari tanah. Hal ini berbeda dengan bambu-bambu lainnya yang tidak memiliki duri sedikit pun. Bambu berduri ini pernah menghilang ketika hutan di Mandalamekar tak berpohon. Namun, saat ini, bambu tersebut bisa dengan mudah ditemui di hutan-hutan di Mandalamekar, khususnya area hutan lindung Pasirsalam.

Cerita lainnya yang mang Tata sampaikan adalah konsep perkebunan penyangga hutan. Konsep ini merujuk pada lahan di sekitar hutan yang ditanami buah-buahan yang memiliki kayu keras, seperti durian, rambutan, cengkeh, kopi, dan nangka. Antara hutan dan kebun penyangga ini memiliki hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan. Bagi tumbuhan di perkebunan, hewan-hewan di dalam hutan membantu meningkatkan kualitas buah-buahannya. Sedangkan bagi hutan, kebun ini menjaganya dari perambahan pohon-pohon di hutan lindung.

Hal ini akan lain ceritanya bila lahan yang berbatasan dengan hutan ditanami pohon untuk ditebang, seperti jati dan sengon. Jenis kebun seperti ini umumnya meningkatkan ancaman terhadap perambahan hutan. Ketika musim panen tiba, seringkali orang-orang tidak hanya memanen kayu dari lahannya, tetapi juga dari hutan, seperti yang terjadi beberapa dekade sebelumnya.

Meskipun begitu, upaya ini masih perlu sosialisasi ke masyarakat pemilik lahan yang berbatasan dengan hutan. Mereka masih melihat nilai nominal kayu keras yang begitu besar dibandingkan menanam pohon buah-buahan. Padahal, bila dibandingkan dalam durasi waktu yang sama, sekiar 10-15 tahun, bisa jadi nominal dari panen buah-buahan lebih besar dibandingkan nominal dari kayu keras.

Hampir 2 jam kami berjalan-jalan di area hutan Pasirsalam sembari melakukan pengambilan gambar. Di ujung jalan, mang Tata memperlihatkan perkebunan penyangga hutan yang ditanami pohon buah-buahan. Sayangnya, tidak ada satu pun yang sedang dalam status “panen”. Meskipun begitu, saya cukup takjub ketika melihat sebuah pohon durian yang tingginya 4 kali tiang listrik di perkotaan. Bila musim panen tiba, saya tidak bisa membayangkan cara pemiliknya untuk memanen semua durian yang ada di pohon tersebut.

Sambil membawa tripod di pundaknya, mas Popo harus melewati jalanan berbatu di tengah teriknya matahari. (Foto: Yudha PS)
Sambil membawa tripod di pundaknya, mas Popo harus melewati jalanan berbatu di tengah teriknya matahari. (Foto: Yudha PS)

Kemudian, mang Tata juga mengarahkan kami ke mata air yang terletak di area hutan Cigandasoli. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus melewati jalan setapak yang dipenuhi semak-belukar. Bahkan, mang Tata harus mengeluarkan goloknya untuk membuka jalan bagi saya dan tim Kompas agar lebih mudah melewatinya.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk menggapai lokasi mata air Cigandasoli. Mata air ini terletak di perbatasan antara kebun warga dan hutan. Mata air ini berbentuk gua kecil dengan mulut gua selebar kertas A3. Meskipun begitu, air bening terus-terusan memancar dari dalam gua. Padahal, saat itu, musim kemarau sedang melanda Indonesia, termasuk Mandalamekar.

Di atas gua terdapat tebing setinggi tiang telepon. Di atas tebing tersebut tumbuh dengan kokoh berbagai tumbuh-tumbuhan hutan. Menurut mang Tata, pada pagi hari, sering tampak monyet-monyet mencari makan di perbatasan antara hutan dengan kebun warga ini. Namun, karena suplai makanan yang berlimpah di hutan, membuat monyet-monyet ini tidak mengganggu dan merusak tanaman di area kebun warga.

Menjelang jam 15 waktu setempat, kami memutuskan kembali ke rumah pak Yana. Bila pada saat berangkat kami ditemani oleh tajuk pohon yang rimbun, tetapi tidak pada saat pulang. Mang Tata mengajak kami menelusuri area persawahan di Mandalamekar. Hal ini membuat kami terpapar terik matahari secara langsung. Jarak yang kami tempuh pun termasuk lumayan jauh, sekitar 3-5 Kilometer. Meskipun begitu, tim Kompas TV tetap semangat untuk melangkahkan kaki menuju tempat pengambilan gambar selanjutnya.

Sayangnya, ketika hendak melakukan agenda peliputan berikutnya, baterai kamera habis. Hal ini membuat tim Kompas TV harus mengisi ulang energi baterai kamera di rumah pak Yana. Tak seberapa lama, di tengah menunggu baterai terisi penuh, angin sepoi-sepoi yang adem membuat mata menjadi berat. Suasana kemudian hening, dan tim Kompas TV pun tertidur. Saya, yang sedang rebahan di teras depan pun, kemudian hilang dari kesadaran, dan terbang ke alam mimpi.

***

Tim Kompas TV tengah melewati galangan sawah. (Foto: Yudha PS)
Tim Kompas TV tengah melewati galangan sawah. (Foto: Yudha PS)

Sayup-sayup adzan maghrib terdengar dari kejauhan, tanda waktu berbuka puasa tiba. Sepuluh buah kelapa yang sudah dibuka mang Tata, kami sikat habis. Air dan lapisan kelapa muda di dalamnya turut ludes untuk menghilangkan lapar dan dahaga kami.

Selepas maghrib, agenda berikutnya adalah meliput aktivitas radio komunitas Ruyuk FM yang dimiliki oleh Mandalamekar. Tim Kompas TV tidak hanya meliput aktivitas di radio, tetapi juga di rumah pendengarnya. Tim kemudian dibagi dua. Mas Popo dan mas Anjas bertugas mengambil gambar di studio radio, sedangkan mas Ridwan dan mba Yessi meliput para pendengar setia yang ada di sekitar studio radio.

Studio radio Ruyuk FM tidak jauh dari rumah pak Yana, hanya sekitar 50 meter. Selama Ramadhan, aktivitas radio dimulai setelah shalat tarawih, yaitu sekitar jam 20.30 WIB. Saat itu, kang Priatna kebagian menjadi penyiar di Ruyuk FM. Uniknya, setiap penyiar dan pendengar memiliki “nama udara”, yaitu nama yang hanya disebutkan di radio. Adapun identitas aslinya mereka sembunyikan.

Kang Priatna sendiri di “udara” dikenal sebagai kang Korea. Hal ini tidak lepas dari matanya yang sipit, dan raut wajahnya yang sangat Asia Timur sekali. Meskipun begitu, kulitnya jauh dari warna kuning sebagaimana umumnya orang korea, dan lebih tampak seperti kulit sawo matang.

Aktivitas di studio siaran cukup ramai pada malam hari. Penyiar umumnya ditemani oleh warga sekitar yang sengaja berkumpul di studio. Umumnya, selain berbincang-bincang sesama warga, mereka juga kerap mendengarkan siaran dan mendendangkan lagu-lagu yang sedang diputar di udara.

Di dalam ruang siaran, suasananya pun tidak kalah ramai. Meskipun penghuninya hanya 1-2 orang penyiar, tetapi hampir setiap menit telepon berdering. Para penelepon ini umumnya meminta lagu sambil berkirim-kirim salam. Bahkan, tak jarang, ketika lagu diputar, telepon pun masih tetap berdering. Hal ini membuat penyiar harus mengecilkan suara lagu dan terpaksa mengangkat telepon.

Proses shooting di studio radio Ruyuk FM. (Foto: Yudha PS)
Proses shooting di studio radio Ruyuk FM. (Foto: Yudha PS)

Sebagai orang yang pernah berkecimpung membangun radio, hal ini sangat tidak lumrah. Seharusnya, suara dari telepon bisa terpisah, sehingga tidak mengganggu lagu yang tengah diputar. Namun, setelah saya amati, ternyata teleponnya sendiri menggunakan ponsel yang dimodifikasi, sehingga suaranya bisa masuk ke komputer. Tidak hanya suara penelepon, nada dering pun akan masuk ke komputer.

Bila ada panggilan masuk, hal ini membuat telepon harus diangkat melalui komputer. Tentunya, keterbatasan teknologi ini membuat aktivitas memutar lagu harus dihentikan ketika ada telepon masuk. Meskipun begitu, keterbatasan ini tidak membuat kehidmatan siaran di radio Ruyuk FM terganggu. Justru, sangat amat khas dibandingkan radio lainnya.

Radio Ruyuk FM cukup terkenal di kalangan masyarakat Desa Mandalamekar dan desa-desa lainnya di Kecamatan Jatiwaras, bahkan kecamatan tetangga. Karena posisinya yang berada lebih tinggi dibandingkan desa-desa lainnya, membuat radio ini bisa ditangkap oleh warga desa lain yang jaraknya lebih dari 5 Kilometer. Padahal, secara teknologi antena, jangkauan radio ini hanya sebatas 3-5 Kilometer.

Setiap harinya, radio Ruyuk FM memiliki program yang berbeda-beda. Beberapa yang saya ingat adalah program kebudayaan Sunda, penghijauan hutan, dan kesehatan. Program-program ini sejalan dengan program desa yang dipimpin oleh pak Yana Noviadi ini.

Karena jangkauan radio yang cukup luas, membuat program-program desa ini didengar juga oleh masyarakat desa dan kecamatan tetangga. Hal ini membantu Mandalamekar untuk mensukseskan program-programnya. Sebagai contoh, ketika ada peraturan desa yang tidak memperbolehkan menebang pohon di hutan lindung dan menembak burung di Mandalamekar, membuat warga desa sekitar menghormati peraturan tersebut dan mentaatinya.

Menjelang jam 22, tim Kompas TV menarik diri, demikian juga saya. Besok masih ada agenda peliputan yang harus kami kerjakan kembali. Dan saatnya untuk kami beristirahat sejenak, dininabobokan oleh suara katak dan jangkrik di rumah pak Yana yang masuk kategori Mewah alias “Mepet ke Sawah”. Yah, rumahnya pak Yana tepat terletak di pinggir sawah.{*}

Mas Popo Sidik, salah seorang Camera Person Kompas TV, tengah mengambil stock shoot untuk episode Cerita Indonesia. (Foto: Yudha PS)

Liputan Bersama Kompas TV: “Mandalamekar, Saya Datang Kembali” (1/3)

Mas Popo Sidik, salah seorang Camera Person Kompas TV, tengah mengambil stock shoot untuk episode Cerita Indonesia. (Foto: Yudha PS)
Mas Popo Sidik, salah seorang Camera Person Kompas TV, tengah mengambil stock shoot untuk episode Cerita Indonesia. (Foto: Yudha PS)

Mandalamekar”, tiba-tiba saja nama desa itu terbisik di telinga saya pada akhir Mei 2015 lalu. Rasanya, ingin saya mengunjungi kembali desa yang inspiratif tersebut. Semacam ada “panggilan” untuk kembali menuai inspirasi lagi di sana. Namun, apa daya, saya tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk mengunjungi Tasik dan Mandalamekar kala itu.

Namun, semua itu berubah ketika saya mendapatkan telepon dari mba Jessica Sinaga, jurnalis Kompas TV, pada pekan pertama Juni 2015. Sebuah kabar menggembirakan sekaligus luar biasa dan tidak pernah saya duga sebelumnya. Cerita saya tentang Mandalamekar di Kompasiana pada 2011 silam hendak diangkat menjadi film dokumenter oleh Kompas TV. Saya juga diajak untuk ikut mengunjungi Mandalamekar bersama mereka. Tanpa pikir panjang, saya langsung bersedia memenuhi ajakan mereka.

Sejak saat itu, saya mulai menghitung hari dan tidak sabar untuk kembali ada di Mandalamekar. Mba Yessi, begitu mba Jessica akrab dipanggil, menjadwalkan kami tiba di Mandalamekar pada Rabu, 24 Juni 2015. Karena tim Kompas TV harus meliput terlebih dahulu kegiatan di Ciwidey, Bandung, mba Yessi menyarankan agar saya menunggu di Tasikmalaya. Rencananya, kami akan berangkat bersama-sama dari Tasikmalaya menuju Mandalamekar.

Saya pribadi sempat heran dengan keputusan Kompas TV untuk mengangkat cerita yang sudah cukup lama tersebut. Dalam benak saya, tampaknya masih banyak cerita inspiratif lain yang ditulis oleh Kompasianer di situs Kompasiana. Hal ini sempat saya tanyakan ke mba Yessi ketika kami bertemu di Tasik.

“Kami mencari tulisan yang memungkinkan kami visualisasikan,” jawabnya. Dalam benak saya, jawaban beliau cukup wajar. Pasalnya, televisi butuh banyak gambar sebagai media untuk menyampaikan sebuah kisah. Mba Yessi sendiri menemukan banyak tulisan di Kompasiana yang tidak kalah inspiratif. Namun, sayangnya, tidak banyak yang bisa dieksplorasi secara visual dalam tulisan-tulisan tersebut. Terlebih lagi, banyak tulisan yang didominasi oleh opini dibandingkan reportase dari hasil wawancara dan observasi.

Mba Yessi sendiri sebenarnya ingin mengangkat 2 cerita dari tulisan saya. Selain Mandalamekar, beliau juga berharap bisa meliput SD IT Rabbani, sebuah sekolah yang diselamatkan dan dikelola oleh sekelompok mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Namun, sayang sekali, sekolah tersebut sudah bubar sekarang. Penyebabnya klasik sekali. Pemilik lahan dan bangunan ingin mengambil kembali asetnya. Karena tidak memiliki posisi tawar dan kekuatan modal yang cukup, akhirnya sekolah itu harus bubar jua.

***

Pada hari yang ditentukan, saya sudah terlebih dahulu berada di Tasikmalaya. Saat itu, arloji di tangan saya menunjukkan jam 3 sore. Sinar terik matahari musim kemarau menerpa langsung tubuh saya, membuat suasana di dalam bus berpendingin terasa hangat.

Di luar sana, tugu perbatasan antara kota dan kabupaten Tasikmalaya baru saja saya lewati. Artinya, tak lama lagi, bus Budiman jurusan Bandung-Tasikmalaya yang saya tumpangi akan tiba di pemberhentian terakhirnya. Saya segera mengabarkan kedatangan saya di Kota Santri ke kang Duddy RS, seorang sahabat karib di Tasikmalaya. Balasannya, beliau akan menjemput saya.

Kedatangan saya ke Tasikmalaya saya manfaatkan juga untuk mengunjungi sahabat lainnya. Bagaimana pun, Tasikmalaya merupakan salah satu bagian penting dari hidup saya pada era 2011-2012. Selain mengunjungi Mandalamekar, pada era tersebut saya juga kerap membantu teman-teman komunitas media warga di Tasikmalaya untuk membangun gerakan dan mengisi materinya.

Di balik keriuhan saya berkegiatan di Tasikmalaya, kang Duddy lah promotor saya pada era tersebut. Selain memperkenalkan saya ke kawan-kawan komunitas media warga, beliau juga kerap menyediakan tempat bermalam di rumahnya. Tak jarang, beliau juga yang mendukung segala kebutuhan makan saya selama di Tasik. Tak heran bila hubungan kami cukup erat, hingga saat ini.

Tak lama setelah saya tiba di terminal bus Budiman, kang Duddy datang dengan mobil oranyenya. Kemudian, beliau mengarahkan mobilnya ke rumahnya. “Kita buka puasa di rumah saya saja, yah,” ajaknya. Dengan segera saya menyetujui usulannya tersebut.

Kang Duddy sendiri merupakan wartawan di Kabar Priangan. Saat ini, beliau merupakan Redaktur Pelaksana koran terbesar di wilayah Priangan Timur tersebut. Bagi saya, kang Duddy merupakan tokoh literasi di Tasikmalaya. Tanpa pamrih, beliau konsisten membangun komunitas berbasiskan literasi di kota-kota Priangan Timur: Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, dan Garut. Kegiatan yang sudah dilakoninya sejak 2005 silam ini masih terus dilakukan di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan dan peneliti kebudayaan di Tasikmalaya, hingga saat ini.

Sudah lebih dari tiga tahun saya tidak berjumpa dengan kang Duddy. Ternyata, banyak prestasi yang sudah ditorehkannya selama tiga tahun terakhir. Salah satunya, yang membuat saya takjub, adalah penerbitan jurnal Soekapoera. Jurnal ini menawarkan penelitian sejarah Tasikmalaya yang dikelola oleh Soekapoera Institut. Meskipun sudah 3 tahun berdiri, tetapi baru 3 edisi jurnal yang diterbitkan. “Maklum, masalah klasik, pendanaan,” tuturnya.

Dalam perjumpaan yang singkat sore itu, kami berbincang-bincang tentang cita-cita kami masing-masing. Beliau ingin sekali memperluas jangkauan pengaruh literasinya ke anak-anak sekolah dasar. Untuk yang satu ini, beliau berusaha memperkenalkan Bahasa Sunda melalui majalah anak yang diedarkannya ke seluruh sekolah dasar di Priangan Timur. Namun, lagi-lagi, usahanya ini masih kandas tersandung pendanaan.

Keseruan obrolan kami harus terhenti ketika adzan maghrib berkumandang. Kami segera menyantap makanan berbuka dan harus kembali berpisah. Waktu pertemuan 3 jam terlalu singkat untuk mengungkapkan kerinduan kami setelah 3 tahun tak bersua. Kang Duddy sendiri harus segera pergi ke kantor, sedangkan saya harus menemui tim Kompas TV yang sudah tiba di Tasikmalaya.

***

Angkot 05 di Tasikmalaya merupakan angkutan yang legendaris bagi saya. Selama bolak-balik ke Tasikmalaya, hanya angkot itu yang saya hafal dan kerap saya tumpangi. Selebihnya, saya tidak pernah hafal angkot lainnya, dan memang jarang sekali menaikinya. Malam itu, Angkot 05 kembali menjadi tumpangan saya. Kali ini, angkot tersebut mengantarkan saya ke jalan Soekarjo, tempat para kru Kompas TV tengah menyantap hidangan berbuka.

Di depan restoran, terpakir mobil dengan tulisan besar Kompas TV di sekujur tubuhnya. Ketika saya melangkahkan kaki ke pintu rumah makan, dengan segera saya bisa mengenali mba Yessi. Pun sebaliknya. Perempuan bertubuh kecil, berambut keriting, dan berkaca mata tersebut melihat kepada saya dan langsung mengenali saya. “Kang Yudha, yah? Ayo, sini, gabung. Kita makan bersama,” ajaknya.

Saya kemudian berkenalan dengan ketiga kru Kompas TV lainnya. Mas Popo Sidik dengan keahliannya mengambil gambar di bawah air, mas Ridwan dengan ujung topinya yang selalu diletakkan di belakang, dan mas Anjas yang selalu setia mendukung tim. Bersama mba Yessi, mereka akan mengambil gambar di Mandalamekar dalam 2 hari ke depan.

Dengan lahapnya, mereka menghabiskan sepiring nasi dan sepotong bebek setelah seharian berpuasa dan menempuh perjalanan Bandung-Tasikmalaya. Raut wajah mereka tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang amat sangat. Maklum, selama 10 hari sebelumnya, mereka berjibaku untuk memproduksi gambar untuk 2 episode Cerita Indonesia.

Setelah selesai, dengan segera kami berangkat ke Mandalamekar. Perjalanan kami tempuh selama sekitar 2 jam, sudah termasuk menyasar. Waktu tempuh ini lebih cepat dibandingkan perjalanan saya ke Mandalamekar pada 2011 silam yang mencapai 3 jam. Pasalnya, jalan menuju Mandalamekar sudah diperbaiki, sehingga kendaraan bisa melaju lebih cepat.

Tiba di Mandalamekar, kang Irman Meilandi dan masyarakat Mandalamekar langsung menyambut saya dan tim Kompas TV. “Ka mana wae, Yudh,” pertanyaan yang kerap dilontarkan mereka kepada saya. “Ada aja di Bandung,” jawab saya, dengan sedikit malu-malu.

Tentunya, bukan Mandalamekar bila tidak menyajikan hal baru. Pun ketika saya berkunjung kembali setelah 3 tahun lamanya absen bertandang. Kang Irman banyak menceritakan capaian-capaian baru yang luar biasa di desa yang terletak di Kecamatan Jatiwaras tersebut. Salah satunya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sudah setahun berdiri di Mandalamekar. SMK Karya Putra Manggala namanya, dan dibangun atas swadaya masyarakat desa Mandalamekar.

Sekolah ini merupakan jawaban atas minimnya kemampuan masyarakat Mandalamekar dan sekitarnya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang sekolah menengah atas atau sederajat. Setiap tahunnya, menurut kang Irman, kurang dari 30 persen lulusan SMP yang bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Adapun 70 persen sisanya memilih untuk bekerja di desa atau mengadu nasib ke kota.

Bagi masyarakat Mandalamekar dan sekitarnya, melanjutkan ke bangku SMA sama seperti kuliah di perguruan tinggi. Mereka harus ke luar dari Mandalamekar dan tinggal jauh dari rumah. Pasalnya, sebelum SMK tersebut berdiri, belum ada sekolah menengah atas yang menampung lulusan SMP dari Mandalamekar.

Tinggal jauh dari rumah, tentunya orang tua di Mandalamekar harus mengeluarkan biaya tambahan berupa akomodasi dan makan sehari-hari untuk anaknya yang menempuh SMA di perantauan. Belum lagi tambahan biaya transportasi harian bila ternyata sekolah sang anak harus ditempuh dengan kendaraan.

Tentunya, kondisi ini hanya dapat dipenuhi oleh sebagian kecil keluarga menengah ke atas di Mandalamekar. Sedangkan sisanya, menurut kang Irman, hanya memiliki pendapatan 10-15 ribu Rupiah per hari. “Jangankan untuk sekolah (SMA) ke luar Mandalamekar. Untuk makan sehari-hari saja seringkali tidak cukup,” papar kang Irman.

Aktivitas baru lainnya dari Mandalamekar adalah drone desa. Kegiatan ini merujuk kepada pemetaan desa dan kawasan di sekitarnya. Nantinya, pemetaan ini akan digunakan sebagai bekal bagi pemerintah desa untuk menginventarisir sumber daya alam kawasannya serta merancang program desa hingga jangka 5-10 tahun mendatang.

Ketika saya datang malam itu, hadir juga tim drone desa dari Institut Pertanian Bogor. Sejak 3 hari sebelumnya, mereka membantu masyarakat Mandalamekar untuk memetakan potensi desanya menggunakan drone yang bisa terbang dan memotret daratan secara otomatis.

Kang Irman berseloroh bahwa hasil pemetaan ini akan digunakan sebagai persiapan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang melibatkan 4 desa lainnya di sekitar Mandalamekar. Rencananya, SPR ini akan melibatkan 1.600 ternak dengan 800 pemilik ternak di kawasan Mandalamekar dan sekitarnya.

Meskipun malam belum juga larut, tetapi keseruan cerita dari kang Irman harus berhenti dulu. Kami dipersilahkan untuk istirahat di kediaman pak Yana Noviadi, Kepala Desa Mandalamekar. Berbekal cerita tersebut, tampaknya, dua hari mendatang akan menjadi hari yang penuh dengan inspirasi dan pengalaman luar biasa.{*}

“Obrigado Barak!”

Centavos, mata uang Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Malam mulai menjelang, ketika saya, Gil, dan Cheche memilih makan di sebuah warung makan Indonesia di pesisir pantai Dili. Dari menunya, jelas sekali restoran ini menyuguhkan makanan khas Nusantara. Selain panganan berupa lalapan, ada juga Coto dan Konro dari Makassar, Sulawesi. Saya memilih menu lalapan. Barangkali, makanan ini sangat Jawa Barat sekali. Isinya adalah ikan laut bakar yang ditemani dengan rebusan daun singkong, irisan tempe, potongan mentimun, dan sambal tomat.

Momen makan malam bersama tersebut adalah makan bersama yang terakhir bagi kami saat itu. Setelah menghabiskan 2 hari di Timor Leste, keesokan siangnya saya harus kembali terbang ke Indonesia. Sembari menghabiskan makan malam, saya menceritakan mitos yang menyebutkan bahwa orang yang menyimpan pecahan koin terkecil sebuah negara, maka kelak akan kembali lagi ke negara tersebut.

Secara spontan, Gil dan Cheche mengumpulkan koin terkecil dari sakunya masing-masing. “Kembali lagi ke Timor Leste, yah,” pesan mereka, sambil menyerahkan masing-masing sekeping koin lima, dua lima, lima puluh, dan seratus Centavos. Centavos sendiri direncanakan menjadi mata uang resmi Timor Leste dalam waktu dekat. Mata uang ini akan menggantikan Dollar Amerika yang sekarang masih dipergunakan secara luas di Negeri Lorosae.

Ah, rasanya berat bagi saya untuk meninggalkan Timor Leste. Di dalam lubuk hati yang terdalam, saya masih ingin mengeksplorasi lebih jauh Dili dan 12 distrik lainnya di Negeri Lorasae tersebut. Jujur, negeri ini berhasil membuat saya terpukau. Salah satu yang paling membekas adalah kesederhanaan pemimpin di Timor Leste.

Ketika itu, saya hampir tidak percaya ketika Gil bilang ke saya bahwa Ibu Negara Timor Leste Isabel da Costa Ferreira tengah mengambil uang di ATM Mandiri depan hotel saya menginap. Pasalnya, hanya ada satu mobil di depan ATM tersebut, tanpa pengawalan satu pun jua. Di dalam mobil pun hanya ada seorang supir, seorang asisten, dan sang Ibu Negara Timor Leste.

Ketika saya turun dari mobil, Isabel tengah berbincang-bincang dengan salah satu rakyatnya. Orang yang diajak berbicara pun pakaiannya jauh dari baik. Seorang ibu dengan menggunakan kaos dan celana pendek serta sendal jepit. Entah apa yang diobrolkan oleh keduanya, tetapi perbincangan mereka cukup lama, sekitar 20-30 menit.

Ibu Negara Timor Leste Isabel da Costa Ferreira tengah berbincang-bincang dengan salah seorang warganya usai mengambil uang di ATM. (Foto: Yudha PS)

Menurut Gil, pemandangan ini sangat umum di Timor Leste. Tidak hanya ibu negara, presiden, perdana menteri, dan jajaran menterinya pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak pernah menggunakan pengawalan berlapis, layaknya presiden dan menteri-menteri di Indonesia. Bahkan, di Indonesia kesederhanaan ini menjadi “komoditas” untuk meraih jabatan.

Pemandangan yang sama saya dapati ketika mengunjungi sentra souvenir di Dili, Timor Leste. Gil dengan sigap menunjuk seorang lelaki beruban sebagian masuk ke mobilnya yang berwarna putih. Pria berkemeja itu menyetir seorang diri, yang membuatnya biasa saja di mata saya. “Dia itu dulunya Menteri Pendidikan Timor Leste,” bisik Gil, kepada saya. Fakta baru itu membuat lelaki tersebut menjadi istimewa di mata saya, dan saya pun berusaha mencarinya. Sayangnya, dia sudah berlalu dengan mobil Land Rover tuanya tersebut.

Kisah ini memang sangat bertolak-belakang dengan keadaan di Indonesia. Di sini, sekelas ibu wakil presiden pun harus dikawal oleh serombongan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Bahkan, ketika rombongan ibu-ibu pejabat menemani ibu wakil presiden ini berbelanja di bilangan Dago, Bandung, pada hari kerja siang bolong beberapa waktu lalu, jalan tersebut sampai ditutup untuk publik. Imbasnya adalah memperparah kemacetan Bandung yang sudah juara macet.

***

Deburan ombak Dili kembali membangunkan saya dari peraduan. Setelah tiga hari berada di Dili, siang harinya saya harus pamit dan pulang ke Bandung. Sebelum mengantarkan saya ke bandara, Gil mengajak saya untuk menengok aktivitas kursus jurnalistik yang diampunya. Kursus ini sudah secara rutin digelar oleh Gil dan kawan-kawan CJITL (Centru Jornalista Investigativu Timor Leste).

Peserta kursus ini adalah mahasiswa di Dili yang memang bercita-cita untuk menjadi jurnalis setelah lulus. Umumnya, mereka berasal dari jurusan non-komunikasi. Tampaknya, setelah duduk di bangku kuliah, minat terhadap jurnalistik tumbuh, dan terpacu untuk menggapainya, salah satunya dengan mengikuti pelatihan jurnalistik.

Gil meminta saya menyampaikan pesan-pesan untuk mereka terkait jurnalisme. Meskipun Bahasa Indonesia mereka pas-pasan, tampaknya mereka memahami penjelasan yang saya paparkan. “Mereka paham Bahasa Indonesia, tetapi tidak pandai mengucapkannya,” ungkap Gil, kepada saya.

Meskipun begitu, kendala ini tidak menghalangi kami untuk berdiskusi. Dalam sesi tanya jawab, mereka menyampaikan pertanyaannya menggunakan Bahasa Tetum yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh salah seorang staf CJITL, untuk kemudian saya jawab.

Umumnya, para mahasiswa ini menanyakan perihal teknik-teknik dalam melakukan kegiatan jurnalistik, seperti menulis, wawancara, dan reportase. Juga mereka ingin mengetahui lebih dalam perihal peran jurnalisme untuk meningkatkan kehidupan di Timor Leste pada masa yang akan datang. Saya juga diminta oleh Gil untuk memberikan motivasi kepada mereka untuk mulai membangun karyanya sebagai bentuk kontribusi terhadap Timor Leste.

***

Menjelang tengah hari, Gil dan Cheche mengantarkan saya ke bandara. Sebelumnya, kami mengunjungi pasar souvenir di Dili. Berbagai aksesoris khas Timor Leste tersaji di pasar tersebut. Sayangnya, saya lebih tertarik untuk mencari kopi khas Timor Leste di Dili. Pasalnya, Kopi Negeri Lorosae merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan menjadi komoditas ekspor negeri tersebut. Kabarnya, perusahaan kopi ternama dunia Starbuck merupakan salah satu pengguna setia kopi Timor Leste.

Gil kemudian mencari akal untuk memenuhi permintaan tersebut. Saya baru tahu bahwa Gil bukan tipikal penikmat kopi. Saya pun demikian dulu. Namun, semua itu berubah ketika teman-teman saya kerap menggunakan dapur di kontrakan sebelumnya untuk bereksperimen dengan kopi. Hasilnya, saya sekarang penyuka kopi, meskipun levelnya masih wajar dan tidak sampai menggilai.

Beruntung, di dekat bandara ada sentra kopi Timor Leste. Satu bungkusnya dengan berat bersih 250 gram hanya seharga USD 1,00 atau sekitar Rp. 13 ribu. Masih lebih murah dibandingkan Kopi Aroma di Bandung dengan isi yang sama, dengan kisaran Rp. 15 ribu untuk Robusta dan Rp. 20 ribu untuk Arabica. Tanpa pikir panjang, saya borong 3 bungkus. Saya sendiri tidak berani beli banyak. Khawatir malah disita di imigrasi di Indonesia.

Setelahnya, Gil mengarahkan mobil yang kami tumpangi ke bandara. Dia mengantarkan saya hingga ke pintu imigrasi. Sebelum kami berpisah, Gil menyalami dan memeluk saya, sembari mengucapkan salam perpisahan dan harapan untuk berjumpa kembali pada suatu hari nanti. Tak lupa, saya haturkan kepada Gil dan masyarakat Timor Leste ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas keramahannya sebagai tuan rumah.

Penumpang Garuda Airlines jurusan Dili-Denpasar menyampaikan salam perpisahan sesaat sebelum memasuki pesawat. (Foto: Yudha PS)

Siang itu, Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato bersiap menerima kedatangan pesawat Garuda Indonesia tujuan Denpasar – Dili. Dari kejauhan, pesawat jet berjenis Boeing melintas di sisi utara bandara, kemudian bermanuver membelokkan diri 180 derajat dan menukik hingga mendarat di ujung landasan. Seperti saya duga, manuver tersebut cukup indah bila dilihat dari darat. Kemudian, 20 menit setelahnya pesawat Sriwijaya Airlines melakukan hal yang sama.

Setelah pesawat siap, penumpang kedua maskapai dipersilahkan naik. Dengan berat hati, saya melangkahkan kaki meninggalkan Dili, Timor Leste. Sesaat setelah lepas landas, dari jendela pesawat, deretan perbukitan Timor Leste yang dihiasi pesisir pantai kembali tampak.

Berbeda ketika saya datang, kali ini mereka mengucapkan salam perpisahan. Salam itu semakin berat seiring bertambahnya ketinggian pesawat Sriwijaya Airlines yang saya tumpaki. Ah, siklus kehidupan ini selalu berlanjut. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Dan semoga keberadaan keduanya tidak pernah melunturkan kenangan indah yang terjadi di antaranya. Seindah kenangan saya bersama Dili dan Timor Leste. Obrigado, terima kasih, Timor Leste!{}

Berkunjung ke Cristo Rei, Berkunjung ke Dili

Patung Cristo Rei tertambat di puncak bukit di pesisir pantai Dili. (Foto: Yudha PS)
Patung Cristo Rei tertambat di puncak bukit di pesisir pantai Dili. (Foto: Yudha PS)

“Kalau belum ke Cristo Rei, berarti belum ke Dili,” ungkap Gil, ketika mengarahkan mobilnya ke area Cristo Rei. Saat itu, jam masih menunjukkan jam 17 waktu setempat. Kami masih memiliki waktu 2 jam sebelum matahari benar-benar tenggelam di Dili.

Situs Cristo Rei berjarak sekitar 10 Kilometer dari Kota Dili. Untuk menggapainya, kami harus melalui jalanan beraspal yang mengikuti lekuk kontur pesisir pantai Dili yang berliku. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan pesisir pantai Dili yang indah di sisi kiri, lengkap dengan deburan ombak dan lembayung sinar matahari sore. Sedangkan di sisi kanan, berdiri dengan kokoh deretan perbukitan berbatu yang minim pepohonan.

Bayangan patung Cristo Rei setinggi 27 meter perlahan mulai tampak jelas. Patung Yesus yang berdiri kokoh di timur Kota Dili ini dibangun oleh pemerintahan Soeharto untuk memperingati 20 tahun “penjajahan” Indonesia atas Timor Leste. Angka 27 sendiri merepresentasikan Timor Leste sebagai provinsi ke-27 dari Indonesia saat masih menyandang nama Timor Timur.

Tak sampai 20 menit, saya, Gil, dan Cheche, sudah tiba di area parkir Cristo Rei. Setiap sore, banyak warga Timor Leste yang berolahraga di sini. Ada yang berlari di tempat parkir di bawahnya, tetapi ada juga yang berlari hingga ke puncak patung. “Sewaktu muda, saya sering berlari sore di sini (area Cristo Rei),” ungkap Gil. “Sekarang, cocok untuk menghilangkan perut buncit saya,” sambungnya, yang diiringi renyah tawa kami.

Patung Kristus Raja di Dili, Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Untuk menggapai puncak Cristo Rei memang bukan hal yang mudah, baik dilakukan dengan berjalan maupun dengan berlari. Pengunjung harus melewati sekitar 500 anak tangga yang terbentang sepanjang sekitar 1,5 Kilometer. Di sepanjang perjalanan antara tempat parkir dan plaza Cristo Rei terdapat gambar-gambar yang menceritakan prosesi penyaliban Yesus, mulai dari ditangkap oleh tentara kerajaan Roma hingga disalib, wafat, dan bangkit kembali. Puncaknya adalah plaza Cristo Rei. Tepat di depan anak tangga menuju puncak, tergambar Yesus yang sudah dinaikkan ke langit.

Gil menceritakan bahwa situs yang dirancang oleh Mochamad Syailillah ini digunakan sebagai tempat memperingati prosesi penyaliban Yesus menjelang Paskah di Timor Leste setiap tahunnya. Sang aktor yang berperan sebagai Yesus, akan mengangkat salib hingga ke plaza Cristo Rei. Plaza Cristo Rei sendiri merupakan area lapang di antara tempat parkir dan puncak tempat patung Yesus tertambat.

Waktu saya tidak banyak untuk menikmati salah satu landmark Dili tersebut. Tak kurang dari satu jam, matahari akan terbenam dan gelap dengan segera menyelimuti Timor Leste. Oleh karena itu, saya pamit ke Gil untuk berlari menuju Cristo Rei di puncak bukit. Hanya butuh waktu 15 menit bila ditempuh dengan berlari. Meskipun begitu, ketika sampai di hadapan patung Cristo Rei, nafas saya tersenggol-senggol dengan keringat bercucuran di sekujur tubuh.

Namun, lelah itu terbayar begitu sampai di puncak bukit. Bila melihat ke arah barat, Kota Dili tampak indah bermandikan cahaya matahari senja. Pesona ini bertambah kuat ditambah dengan pemandangan pasir putih serta perbukitan Timor Leste yang dibalut sedikit tanaman dan pohon. Sejenak, keringat yang luluh dan jantung yang berdegup kencang akibat berlari, sirna begitu saja ketika dihadapkan dengan pemandangan sore alam Timor Leste yang indah.

Pemandangan pesisir pantai Dili dari puncak Cristo Rei. (Foto: Yudha PS)

Patung Kristus Raja di Dili, demikian terjemahan Cristo Rei dalam Bahasa Indonesia, merupakan patung tertinggi kedua di dunia pada zamannya. Patung ini berbentuk Yesus yang merentangkan kedua tangannya ke depan, seolah-olah mengajak manusia untuk kembali ke jalan kebenaran. Tepat di bawah patung terdapat sebuah bola dunia bergambar kepulauan nusantara. Soeharto membuatnya dengan tujuan menarik simpati masyarakat Timor Leste untuk memantapkan hati bergabung dengan Indonesia kala itu.

Pada malam hari, Cristo Rei akan bermandikan cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di sekitarnya. Bila cuaca cerah, mereka yang tengah berada di pesisir pantai Dili akan mampu melihatnya dari kejauhan. Sayang, ketika saya ke sana, lampu-lampu tersebut padam, sehingga Cristo Rei tidak nampak dari kejauhan.

Setelah sekitar 30 menit beristirahat di hadapan Cristo Rei, saya kembali ke parkiran di bawah. Di bawah, Gil dan Cheche sedang menunggu sambil mengobrol dengan penduduk setempat yang kebetulan tengah berkunjung. “Akhirnya, saya resmi menginjak Dili,” ungkap saya kepada Gil, yang diiringi tawa kami bersama.{}

Belajar Perjuangan Timor Leste di Arquivo & Museu da Resistência Timorense

Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggris Timorese Resistance Archive & Museum. (Foto: Blogspot.com)
Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggris Timorese Resistance Archive & Museum. (Foto: Blogspot.com)

Bagi saya yang orang Indonesia, berpetualang ke Dili tidak hanya mengeksplorasi kota baru, tetapi juga menapaki keberadaan Indonesia di Negeri Lorasae. Setidaknya, itulah yang saya rasakan dalam pengembaraan singkat saya di ibu kota Timor Leste tersebut.

Seusai penutupan acara National Transparancy Forum on Citizen and Civic Media to Corruption Eradication, saya meminta kepada Gil untuk diantarkan ke museum yang ada di Dili. Satu-satunya museum yang tersedia adalah Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Timorese Resistance Archive & Museum. Saya pikir, ini adalah tempat yang cocok untuk mulai memahami sejarah Timor Leste.

Gil mengantarkan saya sampai ke resepsionis museum. Dia mengenal banyak orang di Dili, termasuk staf museum. Gil mengenalkan saya kepada staf museum yang ada di resepsionis, dan meminta bantuan mereka untuk memandu saya selama di museum. “Saya akan jemput jam 3 sore, yah,” pamit Gil kepada saya.

Arquivo & Museu da Resistência Timorense terletak di Av. Cidade de Lisboa, di depan Kementerian Keuangan Timor Leste. Museum ini diresmikan pada 7 Desember 2005, tepat 30 tahun setelah invasi Indonesia ke Timor Leste, dan ditujukan untuk mengenang perjuangan rakyat Timor Leste dalam meraih kemerdekaannya.

Bangunannya sendiri merupakan bekas pengadilan pada era Portugis, yang kemudian terbakar pada peristiwa September 1999 silam. Kemudian, oleh arsitek Tânia Bettencourt Correia, bangunan ini dirancang dan dibangun ulang, dan kini luasnya berkembang dari 500 meter persegi menjadi 1.325 meter persegi.

Untuk masuk ke museum ini, pengunjung harus membayar US$ 1,00. Saya kemudian diminta menitipkan barang bawaan dan tidak diperkenankan untuk memotret selama di dalam museum. Menyambut saya, sebuah paparan singkat beserta foto tentang perjuangan rakyat Negeri Lorosae dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Paparan ini tertambat di dinding lorong pertama menuju ruang pameran tetap museum dalam tiga bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Portugis, dan Bahasa Tetum, bahasa nasional Timor Leste.

Usaha untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Timor Leste mulai terentang ketika saya menginjak ruang pameran tetap museum. Pengunjung disuguhkan tidak hanya teks dan gambar, tetapi juga video, replika, dan barang-barang peninggalan masa perjuangan Timor Leste. Seluruh kronologi yang dipaparkan dalam museum ini, bisa dilihat di situs museum.

Pasukan Indonesia dalam Operasi Komodo. (Foto: amrtimor.org)

Bagi saya yang orang Indonesia, bagian yang cukup mendebarkan adalah detik-detik invasi Indonesia ke Timor Leste pada 7 Desember 1975 melalui Operasi Komodo. Kala itu, Dili digempur dari laut menggunakan artileri oleh kekuatan laut pasukan Indonesia. Gempuran ini disusul dengan mendaratnya pasukan Indonesia, baik dari laut maupun dari udara.

Hanya dalam hitungan jam, pasukan di bawah pemerintahan Orde Baru tersebut menguasai seluruh kota Dili. Pasukan perjuangan Timor Leste bersama rakyat Dili kemudian mengungsi ke perbukitan di sebelah selatan Dili. Di bagian ini, museum dengan detail menampilkan teks dan foto lengkap dengan grafis kekuatan armada laut dan udara pasukan Indonesia serta cuplikan video pada saat invasi berlangsung.

Dengan bermodalkan informasi tersebut, saya bisa membayangkan bagaimana mencekamnya kejadian tersebut. Masyarakat Dili benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi kekuatan senjata yang belum bisa ditandingi pasukannya ketika itu. Mereka benar-benar terkepung oleh musuh dari arah laut. Sedangkan di belakang mereka adalah perbukitan yang curam. Kondisi ini praktis mengurung mereka di medan perang tanpa banyak alternatif jalan keluar.

Bagian setelahnya lebih banyak menampilkan usaha pejuang Timor Leste untuk mendapatkan kemerdekaannya. Usaha ini dilakukan melalui perang gerilya dan perjuangan diplomasi. Pada bagian ini, museum juga menampilkan berbagai peninggalan senjata dan atribut yang digunakan pejuang kemerdekaan Timor Leste pada era 1975 hingga 1999 silam.

Bagian yang tidak kalah seru adalah meningkatnya aktivitas demonstrasi, perjuangan senjata, dan diplomasi untuk meraih kemerdekaan Timor Leste setelah pengunduran diri Soeharto pada 1998 silam. Bahkan, beberapa video dengan jelas memperlihatkan keterlibatan pasukan Indonesia di balik kerusuhan di Dili. Meskipun begitu, setelah mengalami masa-masa yang cukup sulit, Timor Leste akhirnya berhasil meraih kembali kemerdekannya pada 20 Mei 2002. Hal ini diiringi keanggotaan Negeri Lorosae di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis.

Selain memiliki ruang pameran tetap, Arquivo & Museu da Resistência Timorense juga dilengkapi ruang audio-visual yang cukup besar dan nyaman. Interiornya dibuat modern dengan layar besar terpampang di depannya. Sayang, ketika saya mengunjungi ruangan ini, pengunjung kosong dan ruang audio-visual sedang tidak menayangkan apa pun.

Salah satu hal yang saya sukai adalah kebersihan museum. Staf museum benar-benar menjaga seluruh ruangan rapih dan mengkilap. Bahkan di kamar mandi sekali pun, lantainya selalu kering dan aroma ruangannya cukup wangi. Membuat pengunjung museum merasa nyaman untuk menikmati pameran dalam waktu yang cukup lama.

Sepuluh menit menjelang jam 3 sore waktu setempat, saya harus mengakhiri kunjungan di Arquivo & Museu da Resistência Timorense. Meskipun area ruang pameran tetap cukup kecil, hanya seluas 2 lapangan tenis, tetapi waktu 2 jam tidaklah cukup untuk menelusurinya. Cukup banyak teks dan video yang kemudian harus saya lewatkan agar bisa selesai menelusuri museum tepat waktu.

Dengan pemaparannya yang menyeluruh dan detail, saya rasa, museum ini cocok menjadi tujuan pertama bagi orang Indonesia, dan umumnya bagi warga dunia, yang pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Lorosae. Museum ini membuat kita tidak hanya mengerti tentang Timor Leste, tetapi juga sejarah perjuangan mereka untuk merdeka dari penjajahan Indonesia di bawah pemerintahan Soeharto.

Tepat jam 3 sore saya kembali ke resepsionis untuk mengambil tas dan barang bawaan lainnya. “Menakjubkan dan mengejutkan,” komentar saya kepada staf museum yang berjaga. Mereka menjawab dengan senyum dan dengan sigap membukakan pintu ketika saya hendak melangkah ke luar. Tak lama kemudian, Gil datang dan siap membawa saya ke destinasi berikutnya.{}