“Obrigado Barak!”

Centavos, mata uang Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Malam mulai menjelang, ketika saya, Gil, dan Cheche memilih makan di sebuah warung makan Indonesia di pesisir pantai Dili. Dari menunya, jelas sekali restoran ini menyuguhkan makanan khas Nusantara. Selain panganan berupa lalapan, ada juga Coto dan Konro dari Makassar, Sulawesi. Saya memilih menu lalapan. Barangkali, makanan ini sangat Jawa Barat sekali. Isinya adalah ikan laut bakar yang ditemani dengan rebusan daun singkong, irisan tempe, potongan mentimun, dan sambal tomat.

Momen makan malam bersama tersebut adalah makan bersama yang terakhir bagi kami saat itu. Setelah menghabiskan 2 hari di Timor Leste, keesokan siangnya saya harus kembali terbang ke Indonesia. Sembari menghabiskan makan malam, saya menceritakan mitos yang menyebutkan bahwa orang yang menyimpan pecahan koin terkecil sebuah negara, maka kelak akan kembali lagi ke negara tersebut.

Secara spontan, Gil dan Cheche mengumpulkan koin terkecil dari sakunya masing-masing. “Kembali lagi ke Timor Leste, yah,” pesan mereka, sambil menyerahkan masing-masing sekeping koin lima, dua lima, lima puluh, dan seratus Centavos. Centavos sendiri direncanakan menjadi mata uang resmi Timor Leste dalam waktu dekat. Mata uang ini akan menggantikan Dollar Amerika yang sekarang masih dipergunakan secara luas di Negeri Lorosae.

Ah, rasanya berat bagi saya untuk meninggalkan Timor Leste. Di dalam lubuk hati yang terdalam, saya masih ingin mengeksplorasi lebih jauh Dili dan 12 distrik lainnya di Negeri Lorasae tersebut. Jujur, negeri ini berhasil membuat saya terpukau. Salah satu yang paling membekas adalah kesederhanaan pemimpin di Timor Leste.

Ketika itu, saya hampir tidak percaya ketika Gil bilang ke saya bahwa Ibu Negara Timor Leste Isabel da Costa Ferreira tengah mengambil uang di ATM Mandiri depan hotel saya menginap. Pasalnya, hanya ada satu mobil di depan ATM tersebut, tanpa pengawalan satu pun jua. Di dalam mobil pun hanya ada seorang supir, seorang asisten, dan sang Ibu Negara Timor Leste.

Ketika saya turun dari mobil, Isabel tengah berbincang-bincang dengan salah satu rakyatnya. Orang yang diajak berbicara pun pakaiannya jauh dari baik. Seorang ibu dengan menggunakan kaos dan celana pendek serta sendal jepit. Entah apa yang diobrolkan oleh keduanya, tetapi perbincangan mereka cukup lama, sekitar 20-30 menit.

Ibu Negara Timor Leste Isabel da Costa Ferreira tengah berbincang-bincang dengan salah seorang warganya usai mengambil uang di ATM. (Foto: Yudha PS)

Menurut Gil, pemandangan ini sangat umum di Timor Leste. Tidak hanya ibu negara, presiden, perdana menteri, dan jajaran menterinya pun melakukan hal yang sama. Mereka tidak pernah menggunakan pengawalan berlapis, layaknya presiden dan menteri-menteri di Indonesia. Bahkan, di Indonesia kesederhanaan ini menjadi “komoditas” untuk meraih jabatan.

Pemandangan yang sama saya dapati ketika mengunjungi sentra souvenir di Dili, Timor Leste. Gil dengan sigap menunjuk seorang lelaki beruban sebagian masuk ke mobilnya yang berwarna putih. Pria berkemeja itu menyetir seorang diri, yang membuatnya biasa saja di mata saya. “Dia itu dulunya Menteri Pendidikan Timor Leste,” bisik Gil, kepada saya. Fakta baru itu membuat lelaki tersebut menjadi istimewa di mata saya, dan saya pun berusaha mencarinya. Sayangnya, dia sudah berlalu dengan mobil Land Rover tuanya tersebut.

Kisah ini memang sangat bertolak-belakang dengan keadaan di Indonesia. Di sini, sekelas ibu wakil presiden pun harus dikawal oleh serombongan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Bahkan, ketika rombongan ibu-ibu pejabat menemani ibu wakil presiden ini berbelanja di bilangan Dago, Bandung, pada hari kerja siang bolong beberapa waktu lalu, jalan tersebut sampai ditutup untuk publik. Imbasnya adalah memperparah kemacetan Bandung yang sudah juara macet.

***

Deburan ombak Dili kembali membangunkan saya dari peraduan. Setelah tiga hari berada di Dili, siang harinya saya harus pamit dan pulang ke Bandung. Sebelum mengantarkan saya ke bandara, Gil mengajak saya untuk menengok aktivitas kursus jurnalistik yang diampunya. Kursus ini sudah secara rutin digelar oleh Gil dan kawan-kawan CJITL (Centru Jornalista Investigativu Timor Leste).

Peserta kursus ini adalah mahasiswa di Dili yang memang bercita-cita untuk menjadi jurnalis setelah lulus. Umumnya, mereka berasal dari jurusan non-komunikasi. Tampaknya, setelah duduk di bangku kuliah, minat terhadap jurnalistik tumbuh, dan terpacu untuk menggapainya, salah satunya dengan mengikuti pelatihan jurnalistik.

Gil meminta saya menyampaikan pesan-pesan untuk mereka terkait jurnalisme. Meskipun Bahasa Indonesia mereka pas-pasan, tampaknya mereka memahami penjelasan yang saya paparkan. “Mereka paham Bahasa Indonesia, tetapi tidak pandai mengucapkannya,” ungkap Gil, kepada saya.

Meskipun begitu, kendala ini tidak menghalangi kami untuk berdiskusi. Dalam sesi tanya jawab, mereka menyampaikan pertanyaannya menggunakan Bahasa Tetum yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh salah seorang staf CJITL, untuk kemudian saya jawab.

Umumnya, para mahasiswa ini menanyakan perihal teknik-teknik dalam melakukan kegiatan jurnalistik, seperti menulis, wawancara, dan reportase. Juga mereka ingin mengetahui lebih dalam perihal peran jurnalisme untuk meningkatkan kehidupan di Timor Leste pada masa yang akan datang. Saya juga diminta oleh Gil untuk memberikan motivasi kepada mereka untuk mulai membangun karyanya sebagai bentuk kontribusi terhadap Timor Leste.

***

Menjelang tengah hari, Gil dan Cheche mengantarkan saya ke bandara. Sebelumnya, kami mengunjungi pasar souvenir di Dili. Berbagai aksesoris khas Timor Leste tersaji di pasar tersebut. Sayangnya, saya lebih tertarik untuk mencari kopi khas Timor Leste di Dili. Pasalnya, Kopi Negeri Lorosae merupakan salah satu yang terbaik di dunia, dan menjadi komoditas ekspor negeri tersebut. Kabarnya, perusahaan kopi ternama dunia Starbuck merupakan salah satu pengguna setia kopi Timor Leste.

Gil kemudian mencari akal untuk memenuhi permintaan tersebut. Saya baru tahu bahwa Gil bukan tipikal penikmat kopi. Saya pun demikian dulu. Namun, semua itu berubah ketika teman-teman saya kerap menggunakan dapur di kontrakan sebelumnya untuk bereksperimen dengan kopi. Hasilnya, saya sekarang penyuka kopi, meskipun levelnya masih wajar dan tidak sampai menggilai.

Beruntung, di dekat bandara ada sentra kopi Timor Leste. Satu bungkusnya dengan berat bersih 250 gram hanya seharga USD 1,00 atau sekitar Rp. 13 ribu. Masih lebih murah dibandingkan Kopi Aroma di Bandung dengan isi yang sama, dengan kisaran Rp. 15 ribu untuk Robusta dan Rp. 20 ribu untuk Arabica. Tanpa pikir panjang, saya borong 3 bungkus. Saya sendiri tidak berani beli banyak. Khawatir malah disita di imigrasi di Indonesia.

Setelahnya, Gil mengarahkan mobil yang kami tumpangi ke bandara. Dia mengantarkan saya hingga ke pintu imigrasi. Sebelum kami berpisah, Gil menyalami dan memeluk saya, sembari mengucapkan salam perpisahan dan harapan untuk berjumpa kembali pada suatu hari nanti. Tak lupa, saya haturkan kepada Gil dan masyarakat Timor Leste ungkapan terima kasih yang tak terhingga atas keramahannya sebagai tuan rumah.

Penumpang Garuda Airlines jurusan Dili-Denpasar menyampaikan salam perpisahan sesaat sebelum memasuki pesawat. (Foto: Yudha PS)

Siang itu, Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato bersiap menerima kedatangan pesawat Garuda Indonesia tujuan Denpasar – Dili. Dari kejauhan, pesawat jet berjenis Boeing melintas di sisi utara bandara, kemudian bermanuver membelokkan diri 180 derajat dan menukik hingga mendarat di ujung landasan. Seperti saya duga, manuver tersebut cukup indah bila dilihat dari darat. Kemudian, 20 menit setelahnya pesawat Sriwijaya Airlines melakukan hal yang sama.

Setelah pesawat siap, penumpang kedua maskapai dipersilahkan naik. Dengan berat hati, saya melangkahkan kaki meninggalkan Dili, Timor Leste. Sesaat setelah lepas landas, dari jendela pesawat, deretan perbukitan Timor Leste yang dihiasi pesisir pantai kembali tampak.

Berbeda ketika saya datang, kali ini mereka mengucapkan salam perpisahan. Salam itu semakin berat seiring bertambahnya ketinggian pesawat Sriwijaya Airlines yang saya tumpaki. Ah, siklus kehidupan ini selalu berlanjut. Ada perjumpaan, ada perpisahan. Dan semoga keberadaan keduanya tidak pernah melunturkan kenangan indah yang terjadi di antaranya. Seindah kenangan saya bersama Dili dan Timor Leste. Obrigado, terima kasih, Timor Leste!{}

Berkunjung ke Cristo Rei, Berkunjung ke Dili

Patung Cristo Rei tertambat di puncak bukit di pesisir pantai Dili. (Foto: Yudha PS)
Patung Cristo Rei tertambat di puncak bukit di pesisir pantai Dili. (Foto: Yudha PS)

“Kalau belum ke Cristo Rei, berarti belum ke Dili,” ungkap Gil, ketika mengarahkan mobilnya ke area Cristo Rei. Saat itu, jam masih menunjukkan jam 17 waktu setempat. Kami masih memiliki waktu 2 jam sebelum matahari benar-benar tenggelam di Dili.

Situs Cristo Rei berjarak sekitar 10 Kilometer dari Kota Dili. Untuk menggapainya, kami harus melalui jalanan beraspal yang mengikuti lekuk kontur pesisir pantai Dili yang berliku. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan pesisir pantai Dili yang indah di sisi kiri, lengkap dengan deburan ombak dan lembayung sinar matahari sore. Sedangkan di sisi kanan, berdiri dengan kokoh deretan perbukitan berbatu yang minim pepohonan.

Bayangan patung Cristo Rei setinggi 27 meter perlahan mulai tampak jelas. Patung Yesus yang berdiri kokoh di timur Kota Dili ini dibangun oleh pemerintahan Soeharto untuk memperingati 20 tahun “penjajahan” Indonesia atas Timor Leste. Angka 27 sendiri merepresentasikan Timor Leste sebagai provinsi ke-27 dari Indonesia saat masih menyandang nama Timor Timur.

Tak sampai 20 menit, saya, Gil, dan Cheche, sudah tiba di area parkir Cristo Rei. Setiap sore, banyak warga Timor Leste yang berolahraga di sini. Ada yang berlari di tempat parkir di bawahnya, tetapi ada juga yang berlari hingga ke puncak patung. “Sewaktu muda, saya sering berlari sore di sini (area Cristo Rei),” ungkap Gil. “Sekarang, cocok untuk menghilangkan perut buncit saya,” sambungnya, yang diiringi renyah tawa kami.

Patung Kristus Raja di Dili, Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Untuk menggapai puncak Cristo Rei memang bukan hal yang mudah, baik dilakukan dengan berjalan maupun dengan berlari. Pengunjung harus melewati sekitar 500 anak tangga yang terbentang sepanjang sekitar 1,5 Kilometer. Di sepanjang perjalanan antara tempat parkir dan plaza Cristo Rei terdapat gambar-gambar yang menceritakan prosesi penyaliban Yesus, mulai dari ditangkap oleh tentara kerajaan Roma hingga disalib, wafat, dan bangkit kembali. Puncaknya adalah plaza Cristo Rei. Tepat di depan anak tangga menuju puncak, tergambar Yesus yang sudah dinaikkan ke langit.

Gil menceritakan bahwa situs yang dirancang oleh Mochamad Syailillah ini digunakan sebagai tempat memperingati prosesi penyaliban Yesus menjelang Paskah di Timor Leste setiap tahunnya. Sang aktor yang berperan sebagai Yesus, akan mengangkat salib hingga ke plaza Cristo Rei. Plaza Cristo Rei sendiri merupakan area lapang di antara tempat parkir dan puncak tempat patung Yesus tertambat.

Waktu saya tidak banyak untuk menikmati salah satu landmark Dili tersebut. Tak kurang dari satu jam, matahari akan terbenam dan gelap dengan segera menyelimuti Timor Leste. Oleh karena itu, saya pamit ke Gil untuk berlari menuju Cristo Rei di puncak bukit. Hanya butuh waktu 15 menit bila ditempuh dengan berlari. Meskipun begitu, ketika sampai di hadapan patung Cristo Rei, nafas saya tersenggol-senggol dengan keringat bercucuran di sekujur tubuh.

Namun, lelah itu terbayar begitu sampai di puncak bukit. Bila melihat ke arah barat, Kota Dili tampak indah bermandikan cahaya matahari senja. Pesona ini bertambah kuat ditambah dengan pemandangan pasir putih serta perbukitan Timor Leste yang dibalut sedikit tanaman dan pohon. Sejenak, keringat yang luluh dan jantung yang berdegup kencang akibat berlari, sirna begitu saja ketika dihadapkan dengan pemandangan sore alam Timor Leste yang indah.

Pemandangan pesisir pantai Dili dari puncak Cristo Rei. (Foto: Yudha PS)

Patung Kristus Raja di Dili, demikian terjemahan Cristo Rei dalam Bahasa Indonesia, merupakan patung tertinggi kedua di dunia pada zamannya. Patung ini berbentuk Yesus yang merentangkan kedua tangannya ke depan, seolah-olah mengajak manusia untuk kembali ke jalan kebenaran. Tepat di bawah patung terdapat sebuah bola dunia bergambar kepulauan nusantara. Soeharto membuatnya dengan tujuan menarik simpati masyarakat Timor Leste untuk memantapkan hati bergabung dengan Indonesia kala itu.

Pada malam hari, Cristo Rei akan bermandikan cahaya dari lampu-lampu yang dipasang di sekitarnya. Bila cuaca cerah, mereka yang tengah berada di pesisir pantai Dili akan mampu melihatnya dari kejauhan. Sayang, ketika saya ke sana, lampu-lampu tersebut padam, sehingga Cristo Rei tidak nampak dari kejauhan.

Setelah sekitar 30 menit beristirahat di hadapan Cristo Rei, saya kembali ke parkiran di bawah. Di bawah, Gil dan Cheche sedang menunggu sambil mengobrol dengan penduduk setempat yang kebetulan tengah berkunjung. “Akhirnya, saya resmi menginjak Dili,” ungkap saya kepada Gil, yang diiringi tawa kami bersama.{}

Belajar Perjuangan Timor Leste di Arquivo & Museu da Resistência Timorense

Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggris Timorese Resistance Archive & Museum. (Foto: Blogspot.com)
Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggris Timorese Resistance Archive & Museum. (Foto: Blogspot.com)

Bagi saya yang orang Indonesia, berpetualang ke Dili tidak hanya mengeksplorasi kota baru, tetapi juga menapaki keberadaan Indonesia di Negeri Lorasae. Setidaknya, itulah yang saya rasakan dalam pengembaraan singkat saya di ibu kota Timor Leste tersebut.

Seusai penutupan acara National Transparancy Forum on Citizen and Civic Media to Corruption Eradication, saya meminta kepada Gil untuk diantarkan ke museum yang ada di Dili. Satu-satunya museum yang tersedia adalah Arquivo & Museu da Resistência Timorense, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah Timorese Resistance Archive & Museum. Saya pikir, ini adalah tempat yang cocok untuk mulai memahami sejarah Timor Leste.

Gil mengantarkan saya sampai ke resepsionis museum. Dia mengenal banyak orang di Dili, termasuk staf museum. Gil mengenalkan saya kepada staf museum yang ada di resepsionis, dan meminta bantuan mereka untuk memandu saya selama di museum. “Saya akan jemput jam 3 sore, yah,” pamit Gil kepada saya.

Arquivo & Museu da Resistência Timorense terletak di Av. Cidade de Lisboa, di depan Kementerian Keuangan Timor Leste. Museum ini diresmikan pada 7 Desember 2005, tepat 30 tahun setelah invasi Indonesia ke Timor Leste, dan ditujukan untuk mengenang perjuangan rakyat Timor Leste dalam meraih kemerdekaannya.

Bangunannya sendiri merupakan bekas pengadilan pada era Portugis, yang kemudian terbakar pada peristiwa September 1999 silam. Kemudian, oleh arsitek Tânia Bettencourt Correia, bangunan ini dirancang dan dibangun ulang, dan kini luasnya berkembang dari 500 meter persegi menjadi 1.325 meter persegi.

Untuk masuk ke museum ini, pengunjung harus membayar US$ 1,00. Saya kemudian diminta menitipkan barang bawaan dan tidak diperkenankan untuk memotret selama di dalam museum. Menyambut saya, sebuah paparan singkat beserta foto tentang perjuangan rakyat Negeri Lorosae dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Paparan ini tertambat di dinding lorong pertama menuju ruang pameran tetap museum dalam tiga bahasa: Bahasa Inggris, Bahasa Portugis, dan Bahasa Tetum, bahasa nasional Timor Leste.

Usaha untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Timor Leste mulai terentang ketika saya menginjak ruang pameran tetap museum. Pengunjung disuguhkan tidak hanya teks dan gambar, tetapi juga video, replika, dan barang-barang peninggalan masa perjuangan Timor Leste. Seluruh kronologi yang dipaparkan dalam museum ini, bisa dilihat di situs museum.

Pasukan Indonesia dalam Operasi Komodo. (Foto: amrtimor.org)

Bagi saya yang orang Indonesia, bagian yang cukup mendebarkan adalah detik-detik invasi Indonesia ke Timor Leste pada 7 Desember 1975 melalui Operasi Komodo. Kala itu, Dili digempur dari laut menggunakan artileri oleh kekuatan laut pasukan Indonesia. Gempuran ini disusul dengan mendaratnya pasukan Indonesia, baik dari laut maupun dari udara.

Hanya dalam hitungan jam, pasukan di bawah pemerintahan Orde Baru tersebut menguasai seluruh kota Dili. Pasukan perjuangan Timor Leste bersama rakyat Dili kemudian mengungsi ke perbukitan di sebelah selatan Dili. Di bagian ini, museum dengan detail menampilkan teks dan foto lengkap dengan grafis kekuatan armada laut dan udara pasukan Indonesia serta cuplikan video pada saat invasi berlangsung.

Dengan bermodalkan informasi tersebut, saya bisa membayangkan bagaimana mencekamnya kejadian tersebut. Masyarakat Dili benar-benar tidak bisa berkutik menghadapi kekuatan senjata yang belum bisa ditandingi pasukannya ketika itu. Mereka benar-benar terkepung oleh musuh dari arah laut. Sedangkan di belakang mereka adalah perbukitan yang curam. Kondisi ini praktis mengurung mereka di medan perang tanpa banyak alternatif jalan keluar.

Bagian setelahnya lebih banyak menampilkan usaha pejuang Timor Leste untuk mendapatkan kemerdekaannya. Usaha ini dilakukan melalui perang gerilya dan perjuangan diplomasi. Pada bagian ini, museum juga menampilkan berbagai peninggalan senjata dan atribut yang digunakan pejuang kemerdekaan Timor Leste pada era 1975 hingga 1999 silam.

Bagian yang tidak kalah seru adalah meningkatnya aktivitas demonstrasi, perjuangan senjata, dan diplomasi untuk meraih kemerdekaan Timor Leste setelah pengunduran diri Soeharto pada 1998 silam. Bahkan, beberapa video dengan jelas memperlihatkan keterlibatan pasukan Indonesia di balik kerusuhan di Dili. Meskipun begitu, setelah mengalami masa-masa yang cukup sulit, Timor Leste akhirnya berhasil meraih kembali kemerdekannya pada 20 Mei 2002. Hal ini diiringi keanggotaan Negeri Lorosae di Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis.

Selain memiliki ruang pameran tetap, Arquivo & Museu da Resistência Timorense juga dilengkapi ruang audio-visual yang cukup besar dan nyaman. Interiornya dibuat modern dengan layar besar terpampang di depannya. Sayang, ketika saya mengunjungi ruangan ini, pengunjung kosong dan ruang audio-visual sedang tidak menayangkan apa pun.

Salah satu hal yang saya sukai adalah kebersihan museum. Staf museum benar-benar menjaga seluruh ruangan rapih dan mengkilap. Bahkan di kamar mandi sekali pun, lantainya selalu kering dan aroma ruangannya cukup wangi. Membuat pengunjung museum merasa nyaman untuk menikmati pameran dalam waktu yang cukup lama.

Sepuluh menit menjelang jam 3 sore waktu setempat, saya harus mengakhiri kunjungan di Arquivo & Museu da Resistência Timorense. Meskipun area ruang pameran tetap cukup kecil, hanya seluas 2 lapangan tenis, tetapi waktu 2 jam tidaklah cukup untuk menelusurinya. Cukup banyak teks dan video yang kemudian harus saya lewatkan agar bisa selesai menelusuri museum tepat waktu.

Dengan pemaparannya yang menyeluruh dan detail, saya rasa, museum ini cocok menjadi tujuan pertama bagi orang Indonesia, dan umumnya bagi warga dunia, yang pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Lorosae. Museum ini membuat kita tidak hanya mengerti tentang Timor Leste, tetapi juga sejarah perjuangan mereka untuk merdeka dari penjajahan Indonesia di bawah pemerintahan Soeharto.

Tepat jam 3 sore saya kembali ke resepsionis untuk mengambil tas dan barang bawaan lainnya. “Menakjubkan dan mengejutkan,” komentar saya kepada staf museum yang berjaga. Mereka menjawab dengan senyum dan dengan sigap membukakan pintu ketika saya hendak melangkah ke luar. Tak lama kemudian, Gil datang dan siap membawa saya ke destinasi berikutnya.{}

Inspirasi Anti-Korupsi a la Citizen Journalism

Dari kiri ke kanan: mba Dinorah Granadeiro, mas Tito De Jesus Filipe, bu Karen Stanton, dan saya.
Dari kiri ke kanan: mba Dinorah Granadeiro, mas Tito De Jesus Filipe, bu Karen Stanton, dan saya. (Foto: Dok. Kedubes AS utk Timor Leste)

Meskipun baru jam 9 pagi, tetapi cuaca pesisir pantai Dili sudah sangat terik pada 3 Maret 2015 lalu. Terang saja, kondisi ini membuat saya yang berasal dari dataran tinggi Bandung yang relatif dingin, kegerahan. Pakaian yang saya pilih pun relatif tipis dibandingkan baju-baju yang saya gunakan di Bandung yang relatif tebal.

Pengalaman yang sama dirasakan juga oleh Duta Besar Amerika untuk Timor Leste Karen Stanton. Ketika saya tiba di Fundasaun Oriente, gedung tempat acara berlangsung, Karen beserta Glenn Alexander, staf Kedutaan Besar Amerika untuk Timor Leste sudah menunggu sejak 30 menit sebelumnya. Glenn berpakaian jas tanpa dasi. Dari keringat di keningnya, tampak jelas bahwa dia juga merasa kepanasan.

Gil langsung memperkenalkan saya dengan Karen dan Glenn. Karen sendiri baru sekitar 2 bulan menjabat sebagai Duta Besar Amerika di Timor Leste. Sebelumnya, beliau bertugas di Kedutaan Besar Amerika untuk Singapura. Sebagai pembuka perbincangan dengan orang asing, saya langsung menanyakan pandangan Karen tentang Indonesia. Baginya, Indonesia adalah negara yang besar dan indah. “Namun, saya lebih suka tinggal di Dili. Di sini lebih tenang dan nyaman dari pada Jakarta dan Denpasar yang penuh dengan kemacetan,” ungkapnya. “Saya mohon maaf harus jujur tentang itu,” tambahnya lagi, diiringi tawa kami bersama.

Alur pembicaraan mengarah tentang masa lalu Timor Leste ketika dikuasai oleh Indonesia. Karen sendiri memuji rakyat Timor Leste yang mampu “move on” dari hubungan masa lalu mereka dengan Indonesia. “Mereka (masyarakat Timor Leste) adalah orang-orang yang pemaaf, ini juga yang saya kagumi dari orang-orang Timor Leste” paparnya.

Menjelang acara, saya dan Karen diminta untuk duduk di depan. Gil membuka acara diikuti sambutan dari beberapa tokoh anti korupsi dan media di Dili. Sayangnya, saya tidak memahami paparan yang mereka sampaikan dalam bahasa Tetum, bahasa nasional Timor Leste. Beruntung, Karen ditemani staf lokalnya yang membisiki terjemahannya ke dalam Bahasa Inggris, dan saya pun turut menyimak.

Acara yang digelar oleh Gil dan tim sendiri merupakan penutup dari rangkaian Anti-Corruption Campaign (ACC). Bentuknya berupa seminar bertajuk National Transparancy Forum on Citizen and Civic Media Movement to Corruption Eradication. Adapun Karen Stanton, selaku perwakilan pemerintah Amerika, bertindak menutup rangkaian program yang didanai oleh Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF), sebuah skema pendanaan dari pemerintah Amerika untuk para alumninya.

Selepas rangkaian pembukaan, Karen didaulat untuk memberikan sambutan di atas panggung. Beliau membacakan sambutan dalam Bahasa Inggris yang disusul terjemahannya dalam Bahasa Tetum oleh staf lokal Kedutaan Besar Amerika. Secara umum, Karen menyampaikan bahwa pemerintah Amerika memiliki perhatian mendalam untuk melawan korupsi dan meningkatkan transparansi dalam pemerintahan di banyak negara di dunia.

Ke depannya, Karen berharap aktivitas ini mampu menghasilkan kerangka kerja legal yang kuat, bagian dari undang-undang yang diperlukan, kepemimpinan dari pejabat terpilih yang berkomitmen, serta pengawasan dan dorongan dari masyarakat madani dan media dalam konteks melawan korupsi di Timor Leste.

Setelah sesi coffee break, barulah giliran saya untuk menyampaikan pemaparan. Dalam sesi ini, saya tidak sendiri. Ada juga mba Dinorah Granadeiro sebagai moderator dan mas Tito De Jesus Filipe sebagai pembicara selain saya. Mba Dinorah sendiri adalah Director of Timor-Leste NGO Forum, sedangkan mas Tito merupakan President of AJTL (Timor Leste’s Journalists Association) dan deputy Director of information and actualities of RTTL (Radio and Television of Timor-Leste). Mas Tito mendapatkan giliran pertama. Beliau memberikan paparannya dalam bahasa Tetum, sehingga saya tidak bisa memahami isi presentasi beliau.

Selepas mas Tito, giliran saya memberikan pemaparan mengenai Civic and Citizen Media Movement to Corruption Eradication. Atas saran beberapa orang, saya memberikan pemaparan dalam Bahasa Indonesia. “Mereka (peserta) lebih memahami bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris, mas,” ungkap mba Roselia Da Conceicao Pinto, Alumni Coordinator di Kedutaan Besar Amerika untuk Timor Leste.

Usulan mba Roselia tampaknya cukup beralasan. Masyarakat Dili masih cukup familiar mendengarkan percakapan dalam Bahasa Indonesia dibandingkan Bahasa Inggris. Salah satunya melalui siaran televisi nasional Indonesia yang tertangkap di Dili. Barangkali, mereka jauh lebih hafal tayangan sinetron televisi nasional Indonesia dibandingkan saya, yang memang tidak pernah menonton televisi.

In Action. (Foto: Gil Da Silva)
In Action. (Foto: Gil Da Silva)

Slide presentasi saya bisa diunduh di Slideshare.net. Secara garis besar, saya memaparkan tentang pentingnya membangun masyarakat anti korupsi melalui media. Ada 2 hal yang menjadi landasan pemaparan saya. Pertama, korupsi tidak terjadi di level pemerintahan semata, tetapi juga masyarakat. Kedua, kondisi negara adalah akumulasi dari warga negaranya, sehingga tidak mungkin mengharapkan negara baik bila kondisi masyarakatnya buruk.

Adapun solusi yang ditawarkan melalui konsep Citizen Journalism dan Civic Journalism. Citizen Journalism menitikberatkan pada upaya warga untuk memproduksi informasi agar mampu menguatkan pemahaman warga tentang sikap anti-korupsi. Informasi yang disampaikan pun hendaknya memenuhi kriteria informasi positif. Sedangkan Civic Journalism mendorong media mainstream untuk mengajak warga berpartisipasi aktif dalam mengembangkan sikap anti korupsi.

Meskipun acara ini bertajuk anti-korupsi, tetapi justru saya tidak memaparkan contoh kasus dalam konteks anti-korupsi. Alasannya, saya tidak memiliki banyak data yang mencerminkan pendekatan citizen journalism dan civic journalism untuk membangun sikap anti-korupsi di Indonesia. Adapun contoh yang saya paparkan adalah kegiatan Citizen Journalism di Desa Mandalamekar, Tasikmalaya; dan program Wali Pohon yang dilakukan oleh Pikiran Rakyat Bandung.

Dalam sesi tanya jawab, mba Dinorah berusaha membangun diskusi dengan meminta pandangan saya terkait pertanyaan yang dilontarkan kepada mas Tito. Mba Dinorah menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam Bahasa Indonesia kemudian meminta pandangan saya.

Dari diskusi yang berkembang, Gil dan kawan-kawan Timor Leste tertarik dengan upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Indonesia yang tengah membangun komunitas anti-korupsi di kampus-kampus yang terletak di kota-kota besar di Indonesia. Saya sendiri pernah beririsan dengan gerakan tersebut, meskipun kemudian saya tidak melanjutkannya karena masalah komunikasi.

Tepat jam 12 waktu setempat, acara berakhir yang ditutup dengan sesi makan siang. Akhirnya, acara yang mendebarkan bagi saya di Timor Leste sudah lewat. Satu hal yang menyenangkan, paparan saya memberikan inspirasi bagi mereka untuk membangun Timor Leste yang lebih baik lagi pada masa yang akan datang. Melengkapi kunjungan ke Dili, giliran saya yang mengeksplorasi keindahan-keindahan tersembunyi Dili.{}

“Olá, Timor Leste!”

Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato, Dili, Timor Leste. (Foto: Yudha PS)

Deretan perbukitan yang berbatasan langsung dengan pantai menemani saat-saat pesawat akan mendarat. Menit demi menit, ketinggian pesawat yang saya tumpangi terus merendah. Saat itu pula, terumbu karang di dasar pantai yang bersih dan berwarna kebiruan semakin tampak jelas teramati. Membuat siapa pun yang melihatnya ingin segera berenang dan menikmati keindahan bentangan alam tetangga terdekat Indonesia, Timor Leste.

Tak seberapa lama, Bandara Internasional Presidente Nicolau Lobato tampak dari kejauhan. Pesawat yang datang dari arah barat, tidak langsung mendaratkan diri di ujung landasannya. Dengan sangat memukau, pesawat terbang di utara bandara ke arah timur, langsung berputar 180 derajat serta menukik cukup cepat, dan dengan segera bannya menyentuh ujung timur landasan.

Penerbangan ke Dili, Timor Leste, memang termasuk jarang. Dari Indonesia, hanya ada 2 penerbangan, yaitu Garuda Airlines dan Sriwijaya Airlines. Keduanya terbang dari Denpasar, Bali, Indonesia. Bahkan, jadwal keberangkatan penerbangan keduanya hanya terpaut 30 menit di Denpasar. Sedangkan jadwal kepulangan dari Dili, hanya terpaut 15 menit saja. Selesai Garuda Airlines lepas landas, Sriwijaya menyusul tak lama kemudian.

Sedangkan penerbangan lainnya, tersedia dari Darwin, Australia, dan Singapura. Ketika saya lihat di peta, jarak Darwin ke Dili, Timor Leste justru lebih dekat daripada jarak Dili, Timor Leste ke Denpasar, Bali. Penerbangan dari Darwin sendiri menggunakan pesawat berbaling-baling ganda dan disediakan oleh maskapai Air North. Sedangkan dari Singapura, tersedia penerbangan Air Timor yang disediakan oleh maskapai Silk Air.

Cuaca terik dan panas a la dataran pantai Timor Leste langsung menyapa ketika saya melangkahkan kaki menuju imigrasi. “Selamat siang, silahkan,” petugas keimigrasian menyapa saya dengan Bahasa Indonesia yang fasih. Sebenarnya, saya menghindari menujukkan identitas sebagai orang Indonesia. Pasalnya, saya khawatir akan luka lama Timor Leste terhadap Indonesia. Namun, kekhawatiran saya terbukti salah. “Mereka bahkan sudah meninggalkan kenangan buruk tentang hubungannya dengan Indonesia pada masa silam dengan cukup cepat,” ungkap Duta Besar Amerika untuk Timor Leste Karen Stanton, kepada saya.

Kesimpulan Karen memang terbukti. Dengan ramah, imigrasi Timor Leste melayani saya dengan baik. “Ada acara apa ke Timor Leste, bos,” ungkapnya dengan santai, tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada tamu. “Silahkan, selamat menikmati Timor Leste,” ujarnya kembali, sembari menyerahkan paspor saya yang telah dicatatnya.

Dengan segera, saya melangkah ke pintu ke luar. Di pintu keluar bandara, sudah berdiri Barros dan Kosme. Secarik kertas yang tertulis nama saya membuat saya langsung mengetahui bahwa mereka hadir untuk menjemput saya. Tak seberapa lama, Gil Da Silva datang dengan sedan merahnya. Dia langsung menyapa dan menyalami saya. Tak lupa juga, Gil mengalungkan Tais, selendang khas Timor Leste, kepada saya. Menurutnya, prosesi pengalungan Tais adalah wujud penghormatan dan penghargaan masyarakat Timor Leste kepada setiap tamu yang datang untuk berkontribusi pada negara muda tersebut.

***

Gil (kiri) menyambut saya di bandara.
Gil (kiri) menyambut saya di bandara.

Gil adalah Executive Advisor di CJITL (Centru Jornalista Investigativu Timor Leste) dan project officer untuk Anti Corruption Campaign (ACC) di Timor Leste. Proyek yang didanai oleh Alumni Engagement Innovation Fund (AEIF) dari pemerintah Amerika ini, melibatkan alumni-alumni program Amerika, termasuk Gil dan saya. Dari Indonesia ada juga Iman Abda, yang sudah saya kenal jauh beberapa tahun sebelumnya.

Saya, Gil, dan Iman merupakan alumni International Visitors Leadership Program (IVLP) yang disponsori oleh Department of State, Amerika. Gil dan Iman sendiri mengikuti IVLP beberapa tahun sebelum saya. Sedangkan saya baru berangkat pada Januari 2013 lalu.

Setiap tahunnya, pemerintah Amerika menggelontorkan AEIF untuk mendanai program-program para alumninya. Syaratnya, ada 6 orang alumni program pemerintah Amerika yang terlibat dan mereka bekerja secara sukarela. Ketika program tersebut diluncurkan pada 2014 silam, Gil meminta saya dan Iman untuk mendukung program ACC ini. Kami berdua didaulat untuk berbagi pengalaman Indonesia dalam memerangi korupsi di masyarakat.

Proposal yang masuk dari seluruh dunia kemudian disaring oleh pemerintah Amerika. Hasilnya, di antara puluhan program yang diterima, program ACC termasuk yang didanai AEIF sebesar US$ 25.000. Hasilnya, saya dan Iman pun berangkat ke Timor Leste. Iman Abda sendiri sudah berangkat ke Dili pada pertengahan 2014 silam, pada pembukaan ACC. Sedangkan saya diminta untuk hadir pada penutupan program ACC pada 2 Maret 2015 silam.

Gil sendiri adalah seorang jurnalis di Timor Leste dan peneliti muda di bidang media. Dia juga merupakan aktivis muda Timor Leste yang memiliki pengalaman internasional cukup luas dan banyak. Saya dan Gil berkenalan di Alumni.state.gov, sebuah media sosial bagi alumni program-program pertukaran pemerintah Amerika.

***

Tentunya, tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan prosesi penyambutan saya tersebut. Dengan segera, Gil mempersilahkan saya masuk ke mobil dan melaju di tengah teriknya matahari siang di Dili, Timor Leste. Sepanjang perjalanan, Gil banyak bercerita tentang Dili dan segala fenomena sosial dan politik di dalamnya. Dari Gil juga, saya mengetahui latar belakang suami dari seorang penyanyi wanita tersohor di Indonesia, yang memang pengusaha asal Timor Leste.

Cerita semakin seru sembari menyantap hidangan siang itu. Gil membawa saya ke Timor Plaza dan mempersilahkan saya untuk memilih panganan yang tersedia. Saya pribadi sebenarnya lebih senang mencicipi masakan asli Timor Leste. Namun, apa boleh buat, makanan yang tersedia umumnya adalah kuliner khas Indonesia, seperti soto, sate, ayam goreng, pecel, beserta lalapannya. Saya langsung memilih soto untuk membuka jelajah kuliner saya di Timor Leste.

“Di sini, semua kuliner yang ada umumnya makanan Indonesia,” ungkap Gil, menjelaskan. “Praktis, kami tidak memiliki makanan khas Timor Leste,” jawabnya lagi, ketika saya kembali bertanya dengan sedikit penekanan perihal kuliner asli Timor Leste.

Negara muda ini memang banyak terpengaruh oleh Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, hal ini merupakan salah satu buah dari penjajahan Indonesia sejak era 1976 hingga Soeharto lengser dari kursi kepresidenan pada 1998. Meskipun begitu, sebagai negara muda yang baru merdeka kembali, Timor Leste cukup banyak mengadaptasi pranata organisasi pemerintahannya dari Indonesia.

Salah satu contohnya adalah cara Timor Leste menyusun dewan pers. Gil mengisahkan bahwa Dewan Pers Indonesia menjadi benchmark Dewan Pers Timor Leste yang akan dibentuk beberapa bulan ke depan. Kabar menggembirakannya, Gil merupakan kandidat anggota Dewan Pers Timor Leste.

Obrolan kemudian berlanjut ke kesempatan yang lebih luas bagi pemuda di negara baru seperti Timor Leste. Terlebih lagi, penduduk Timor Leste hanya sekitar satu juta orang. Hal ini membuat kesempatan para pemuda untuk terlibat dalam proses pembangunan di pemerintahan semakin terbuka lebar.

Tentunya ini berbeda dengan di Indonesia. Negara dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa ini memiliki struktur pemerintahan yang rumit dan besar. Akibatnya, seorang pemuda harus menjajaki karir dari bawah untuk bisa berkontribusi di pemerintahan. Bagi mereka yang memang berniat berkarir di pemerintahan, meniti karir di birokrasi memang jadi satu-satunya jalan yang harus dilaluinya. Namun, bagi mereka yang lebih senang bergerak dan berkontribusi secara nyata dan segera, pilihannya adalah turun langsung ke masyarakat. Sebagai bentuk aktualisasi dirinya, generasi muda seperti ini umumnya berkecimpung di dunia komunitas atau lembaga non-pemerintah.

Tak sampai satu jam, kami sudah selesai menyatap hidangan makan siang. Gil kemudian mengantarkan saya ke hotel dan mempersilahkan untuk istirahat. Setelah mandi, saya pun sejenak merebahkan diri di kamar hotel. Sembari menikmati deburan ombak di Pantai Kelapa, Timor Leste, secara tak sadar, mata saya pun terpejam.

***

Warung makanan laut tradisional di pesisir pantai Dili, Timor Leste. Saya, Gil, dan Cheche menikmati makan malam di belakang warung ini sambil ditemani deburan ombak pantai Dili. (Foto: Yudha PS)

Jeritan bel kamar hotel saya berulang-ulang kali terdengar. Dalam keadaan linglung, saya segera menuju pintu. Di depan pintu, sudah ada Gil berdiri. Sesuai janjinya, jam 7 malam, Gil datang dan menjemput saya untuk makan malam bersama. Segera saya buka pintu dan memohon maaf bahwa saya ketiduran. Tanpa membuang waktu, saya langsung mandi dan bersiap di lobi. Sedangkan Gil, pamit untuk mandi dan ganti baju ke rumahnya, 10 menit dari hotel yang saya tempati.

Tak lama setelah saya mendudukkan diri di lobi, Gil datang bersama istrinya, Cheche. Keduanya membawa saya ke pesisir pantai untuk menikmati makanan laut yang dijajakan oleh penduduk setempat. Saya mencicipi tentakel gurita dan ikan besar sepanjang penggaris 30 Sentimeter, yang biasa saya gunakan ketika masih berseragam pelajar. Keduanya dipanggang di atas bara api dan disajikan bersama ketupat.

Mengenai tentakel gurita, sebenarnya saya agak seram memakannya. Bayangkan, satu tentakel saja ukurannya cukup besar. Panjangnya sekitar 30 Sentimeter, sedangkan ketebalan dagingnya seukuran dua kali jempol tangan saya. Namun, ketika saya mulai mencicipinya, rasanya cukup unik. Manis dan asin menjadi satu di mulut, dan berpadu dengan usaha gigi untuk melumatnya menjadi ukuran yang lebih kecil. Meskipun saya agak seram karena membayangkan gurita, toh, habis juga. Satu hal yang membuat saya senang, akhirnya ada makanan khas Dili yang bisa saya cicipi. Horay!

Dengan segera, Gil menganjurkan saya minum Sagiko untuk menemani santap malam saya saat itu. Sagiko merupakan minuman kaleng yang diimpor dari Australia. Rasanya pun beragam. Kali ini, Sagiko yang saya nikmati adalah rasa buah-buahan, lengkap dengan potongan buah kecil-kecil. Cocok untuk mencuci mulut saya yang belepotan menikmati makanan laut Dili malam itu.

Deburan kecil ombak pesisir pantai Dili, Timor Leste, menemani obrolan kami bertiga. Di dalam cahaya yang remang-remang, kami berbagi tawa dan cerita. Gil dan Cheche banyak bercerita mengenai perjalanan program Anti Corruption Campaign (ACC) di Timor Leste. Mengenai Cheche, dia adalah seorang penyiar radio lokal di Timor Leste. Dia pernah lama di Surabaya ketika menyelesaikan jenjang sarjana di Kota Pahlawan tersebut.

Keduanya juga bercerita tentang hubungan Indonesia dan Timor Leste. Salah satunya adalah keberadaan perusahaan-perusahaan Indonesia di Timor Leste. Sebut saja, beberapa di antaranya adalah Bank Mandiri, Telkomcel (yang tidak lain adalah Telkomsel dari Indonesia), dan Pertamina. Ketiganya menjadi bagian dari roda perekonomian nasional di Timor Leste.

Di ranah akar rumput, banyak toko-toko milik orang Jawa dan orang Indonesia lainnya di Dili. Mereka sudah berasimilasi dengan masyarakat setempat, dan kini menjadi bagian dari roda perekonomian lokal Dili, bersama-sama dengan etnis Tionghoa.

Orang-orang Indonesia ini sudah menetap cukup lama di Timor Leste. Namun, tak jarang kerabat mereka dari Indonesia juga datang untuk bekerja dan mencari peruntungan di Timor Leste. Bahkan, yang membuat saya cukup kaget, Timor Leste seringkali mendeportasi orang-orang Indonesia. Pasalnya, mereka seringkali menyalahgunakan Visa on Arrival untuk bekerja di Timor Leste. “Bulan ini saja pemerintah kami (Timor Leste) mendeportasi 9 orang Indonesia,” ungkap Gil, malam itu.

Ah, pantas saja saya benar-benar ditanya habis-habisan di Bandara Ngurah rai, Denpasar, ketika Check In. “Bapak sudah punya tiket pulang? Tanggal berapa Anda akan kembali ke Indonesia?” begitu tanyanya dengan intonasi penuh penekanan, seperti ingin memastikan bahwa saya benar-benar akan kembali ke Indonesia. Ternyata, pangkal masalahnya adalah banyaknya pelanggaran keimigrasian yang dilakukan orang Indonesia di Timor Leste.

Seusai makan malam, Gil dan Cheche mengajak saya mengitari kota Dili. Menjelang larut malam, mereka segera mengantarkan saya ke hotel. Bagi saya, hari pertama di Timor Leste sangat menyenangkan. Namun, perasaan saya masih diselimuti kegelisahan yang luar biasa. Pasalnya, keesokan harinya, saya harus memaparkan presentasi di hadapan para jurnalis dan tokoh media di Timor Leste. Di kamar hotel, saya berusaha menyempurnakan presentasi saya, sambil terus berharap bahwa besok saya mampu memaparkannya dengan baik. {}

Menjaga Handiman, Menjaga Angklung, Menjaga Indonesia

Handiman Diratmasasmita. (Foto: Anissa "Flo" Trisdianty)
Handiman Diratmasasmita. (Foto: Anissa “Flo” Trisdianty)

Setelah Angklung diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia pada 18 Nopember 2010, masyarakat Indonesia bersuka cita. Sayangnya, suka-cita ini tidak diiringi dengan keseriusan untuk menjaga dan melestarikan angklung. Ini lah yang menjadi kekhawatiran Handiman Diratmasasmita, tokoh angklung Jawa Barat.

Kekhawatiran kakek berusia 74 tahun ini berangkat dari banyaknya produsen angklung yang hanya mengejar kuantitas, tapi mengabaikan kualitas. Lebih dari itu, hampir tidak ada generasi muda Indonesia yang mau belajar cara membuat angklung secara serius. “Padahal, banyak mahasiswa asing dari Eropa dan Amerika yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk belajar angklung dari bapak (Handiman),” ungkap Anne Ratna Komala, putri Handiman. “Bahkan, negara tetangga saja mengirimkan sampai 30 orang warganya untuk belajar angklung,” lanjutnya.

Handiman sendiri adalah murid langsung dari Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia. Pak Daeng, begitu beliau dikenal semasa hidupnya (13 Mei 1908 – 8 April 1984), merupakan sosok yang memodifikasi nada di angklung dari awalnya pentatonis, menjadi diantonis. Terobosan yang dilakukannya pada akhir 1938-an ini, membuat angklung mampu memainkan musik-musik modern. Atas jasanya ini, angklung modern saat ini dijuluki juga sebagai Angklung Padaeng.

Handiman sendiri belajar langsung dari Daeng ketika beliau sekolah di Sekolah Guru Atas (SGA) 1 Bandung. Kala itu, anak ketiga dari 7 bersaudara ini kerap mendampingi kelompok musik Angklung Pa Daeng untuk tampil di acara-acara besar, termasuk pembukaan PON V pada 1961. Kesempatan tersebut membuat Handiman mendapatkan kesempatan belajar langsung dari Daeng, yang ketika itu masih aktif sebagai guru sekaligus PNS di lingkungan pendidikan di Jawa barat.

Setelah lulus dari SGA, Handiman mulai menapaki karirnya sebagai guru. Beliau mulai mengajar di SGA 2 Bandung pada 1962. Sama seperti gurunya, ayah 6 orang anak ini pun aktif mengajar angklung. Karena kecintaan dan dedikasinya terhadap alat musik tradisional masyarat Sunda tersebut, Handiman sampai diundang ke Negeri Persia untuk mengajar angklung di lingkungan kerajaan Iran.

Di tengah kesibukannya sebagai guru, Handiman menyempatkan waktunya untuk membuat angklung. Aktivitas paruh waktu yang digelutinya sejak 1972 ini, dikerjakan di rumahnya di bilangan Surapati, Bandung. Setelah pensiun sebagai Pengawas Sekolah Kota Bandung pada 2001 silam, barulah mantan Kepala SD BPI Bandung ini mendedikasikan seluruh waktunya untuk membuat angklung. Sama seperti 30 tahun sebelumnya, aktivitas membuat angklung dilakukan di rumahnya. Bedanya, Handiman dibantu oleh beberapa pegawai untuk menyelesaikan pesanan angklung-angklungnya kini.

Tak perlu waktu lama, angklung Handiman mendapatkan tempat yang istimewa di kalangan penggiat dan penikmat angklung, baik di Bandung, Indonesia, bahkan Mancanegara. Pesanan angklungnya bahkan sudah tiba di Negeri Paman Sam. Satu yang mereka suka dari angklung buatan Handiman: kualitasnya. Selain bahannya kuat, nadanya pun presisi. Tak heran bila sebagian kalangan menilai angklung buah karya beliau adalah yang terbaik di Bandung, bahkan mungkin di Indonesia.

Barangkali, penilaian ini ada benarnya juga. Pasalnya, Handiman selalu mengusahakan yang terbaik untuk membuat angklung. Prinsip yang dipegangnya, bahwa antara badan angklung dan resonannya harus “berjodoh”. Untuk itulah, secara hati-hati dan telaten, beliau selalu memilih bambu-bambu terbaik, sehingga bisa “berjodoh” dengan nada yang diharapkan.

Berkenaan dengan bahan bakunya, menurut Handiman, bambu yang cocok dijadikan angklung berasal dari jenis Bambu Wulung dan Bambu Temen. Bambu-bambu ini harus berasal dari daerah dengan lahan yang datar, rimbun dengan pepohonan, kandungan airnya rendah, dan tanahnya tidak terlalu subur. Umumnya, lahan dengan karakteristik ini banyak ditemui di wilayah selatan Jawa, mulai dari Cilegon di Provinsi Banten, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya, hingga Cilacap yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.

Sebelum diserut menjadi angklung, bambu-bambu pilihan ini harus dikeringkan terlebih dahulu. Tujuannya, agar fisik bambu ini lebih kuat dan tahan hama serta memiliki nada yang presisi dalam rentang waktu cukup lama. Proses pengeringannya sendiri bisa berlangsung hingga setahun lamanya.

Setelah bambu cukup kering, Handiman dan timnya mulai meraut dan membentuknya menjadi sebuah angklung. Pada tahap ini, pembuatnya harus menghadirkan rasa seni ketika merangkai sebuah angklung. Handiman menyebutkan ada 3 aspek dalam angklung yang berkualitas, yaitu: Wiraga, Wirama, dan Wirasa.

Wiraga sendiri berarti angklung memiliki keseragaman fisik dan terbebas dari cacat. Sedangkan Wirama adalah kesesuaian dan keseragaman suara, nada, dan irama angklung. Adapun Wirasa merujuk pada pemain angklung yang mampu memainkan angklung dengan rangkaian nada yang selaras.

Meskipun terbilang mudah, tetapi banyak produsen angklung yang mengabaikan prinsip-prinsip ini. Namun, Handiman tidak putus asa. Beliau terus mendorong pengrajin angklung agar membuat angklung yang berkualitas baik. Guna memperkuat usahanya ini, Handiman mendirikan Bale Angklung Bandung pada 2008.

Sesuai namanya, “Bale” yang merujuk kepada tempat berkumpulnya masyarakat, Handiman berharap lembaganya ini mampu menjadi tempat berkumpulnya generasi-generasi muda Indonesia yang ingin belajar dan menjaga angklung. Harapan ini semakin menguat tatkala beliau mendapatkan penghargaan dari negara tetangga atas dedikasinya melestarikan angklung. Bahkan, negara tetangga juga mengundang Handiman untuk tinggal dan mengajar angklung di sana. “Saya tidak mau (tinggal di negara tetangga), karena saya cinta Indonesia,” ungkap Handiman.

Naasnya, Indonesia sebagai empunya angklung, belum serius menjaga dan melestarikan angklung. Salah satu contohnya adalah minimnya kepedulian untuk melestarikan kawasan perkebunan bambu di wilayah selatan Jawa. Kini, perkebunan bambu berkualitas tersebut mulai beralih fungsi menjadi kebun pohon keras, seperti Jati Kebon dan Albasiah. Akibatnya, Handiman semakin kesulitan mencari bambu berkualitas.

Di tengah minimnya kepedulian Indonesia terhadap kekayaan budaya sendiri, yang rentan diklaim negara lain setiap saat, Handiman kini mulai merajut asa yang hampir terputus. Beberapa anak muda tengah membantunya untuk mengumpulkan pengetahuan tentang angklung dalam wadah berjuluk Relawan Bale Angklung Bandung. Bahkan, mereka memimpikan sebuah gedung pertunjukkan angklung di Bandung, lengkap dengan sarana edukasi untuk masyarakat.

Usaha untuk menjaga dan melestarikan angklung lainnya dilakukan oleh Dr. Eko Mursito Budi, dosen Teknik Fisika ITB. Bersama mahasiswanya, beliau tengah mengembangkan Angklung Robot (KlungBot) untuk mempromosikan alat musik ini lebih luas lagi. Bahkan, dalam waktu dekat, beliau akan meluncurkan buku yang membedah angklung dari tinjauan sains.

Sokongan ini tentu membuat Handiman bisa tersenyum lega. Di tengah usahanya yang masih panjang ini, semoga beliau mampu merajut pengetahuan angklung untuk generasi muda Indonesia pada masa yang akan datang.***

Dicari: Cinta Setelah AASC!

Foto: Dok. AASC 2015

Meski sudah lewat lebih dari satu bulan, siapa sangka AASC 2015 masih sangat membekas bagi kawan-kawan yang terlibat sebagai panitia. Sebagian ada yang senang, karena memiliki pengalaman internasional yang tidak pernah bisa dilupakan. Sebagian lainnya mengaku dilahirkan sebagai manusia baru yang terpacu untuk lebih produktif dan memperbaiki dunia. Malah sebagian lainnya masih ingin mengulangi momen-momen AASC yang dinilai terlalu singkat bagi mereka, hanya hitungan hari.

Meskipun begitu, yang tidak saya sangka, ada sebagian kecil yang justru menganggap AASC 2015 merupakan momen-momen penuh onak dan duri. AASC adalah kenangan yang begitu menyakitkan dan menjangkiti pikiran. “Saya malah tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya dan harus berdiam diri di gunung dalam beberapa hari untuk melupakan acara (AASC 2015) itu,” ungkap salah seorang mantan panitia.

Ketika rapat Klub Studi Asia-Afrika kemaren, sebagian kecil ini bahkan tidak mau mendengarkan apa pun yang berhubungan dengan AASC, termasuk kata-kata yang umum tapi spesifik menjurus ke AASC 2015, seperti sidang, esai, dan plakat. Bahkan, mereka tidak mau menyebutkan kata “AASC” sendiri. “Sebut saja ‘acara itu’, jangan sebut namanya,” dengan keras mantan panitia lainnya memperingatkan kepada mereka yang termasuk “sebagian yang euforia”.

Umumnya, mereka yang termasuk golongan sebagian kecil ini adalah orang-orang yang benar-benar menebus AASC 2015 tidak hanya dengan tenaga, tetapi juga keringat, air mata, dan bahkan masa depannya. Momen AASC 2015 benar-benar menancap di hati, pikiran, bahkan yang lebih ekstrim “mental”-nya. “Gangguan mental teh bener, ini mah. (AASC) menyerap kebahagiaan dan bikin ngak semangat kerja,” ungkap yang lainnya lagi.

Barangkali, saya pun termasuk yang sebagian kecil tersebut. Sama seperti mereka, sampai sekarang pun saya belum bisa lepas dari momen-momen tersebut. Seringkali, saya masih terngiang-ngiang momen-momen pedih dan perih AASC 2015. Tak jarang, emosi saya langsung meluap dan ingin rasanya marah-marah ke siapa pun yang ada di sekitar saya. Bila sudah begitu, saya berusaha untuk menenangkan diri sendiri.

Salah satu yang menenangkan saya adalah perkataan bu Ely Nugraha. Selepas acara, sambil berderai air mata, beliau meyakinkan saya bahwa acara ini akan bermakna besar bagi banyak orang. Oleh karena itu, wajar saja bila tantangannya begitu besar.

Saya pribadi pernah menceritakan fenomena ini ke salah satu rekan saya, yang juga terlibat di AASC 2015 pada hari-H. Dengan penuh kebijaksanaan, dia bilang bahwa panitia AASC adalah orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk acara tersebut. “Kalian bekerja dengan sepenuh hati, sehingga wajar saja hati kalian masih terpaut di sana (AASC 2015),” paparnya.

Jadi teringat pepatah kawan lama ketika saya masih jomblo yang masih terbayang-bayang mantan. “Carilah cinta yang lain untuk mengobati cinta yang rusak,” begitu katanya. Selaras dengan pepatah tersebut, bila sudah terlanjur bermain hati dengan AASC 2015, tampaknya saya harus menanamkan hati saya kepada yang lain. Tapi kepada apa, yah? Ah, tampaknya, harus bertanya pada rumput yang bergoyang pada musim kemarau ini.***