Menulis? Mulailah dengan 5W+1H dan KEPO

Foto: quickanddirtytips.com

“Mengapa harus mengutip ide atau pernyataan orang untuk mendukung ide kita dalam aktivitas ilmiah?” Pertanyaan ini kerap hinggap di kepala mereka yang tengah dilanda “galau” ketika berhadapan dengan skripsi. Pertanyaan ini juga kerap saya temukan di diri mereka yang berpandangan bahwa setiap orang berhak mengemukakan gagasan orisinalnya tanpa diintervensi jawaban, “Ada gagasan orang lain yang sama persis dengan gagasannya”. Dan pertanyaan ini pula yang menjadi bahasan rapat Klub Studi Asia-Afrika kemarin. Beruntung, jawabannya muncul dari mereka juga secara tidak sengaja.

Alkisah, seorang kawan sempat menghebohkan jurusan perkuliahannya dengan paparan ilmiah seekor penyu. Padahal, kawan saya ini adalah anak Sastra Inggris yang jauh dari urusan hewan, apalagi penyu. Menariknya, kawan saya ini getol menjawab pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Seringkali, dia menghabiskan waktu berpekan-pekan untuk berselancar di internet demi memuaskan hasrat keingintahuannya tersebut.

Pada satu waktu, dia penasaran dengan penyu dan hendak menjawab pertanyaan, “Apa itu penyu?” Pertanyaan ini membawanya ke dunia maya dan mengumpulkan berbagai tulisan tentang penyu. Mulai dari tulisan populer sampai jurnal ilmiah tentang penyu dilahapnya habis-habisan.

Setelah beberapa pekan, akhirnya teman saya itu terpuaskan hasratnya untuk menjawab pertanyaan, “Apa itu penyu?” Pada saat yang sama, seorang kawan meminta teman saya itu untuk mengunduhkan contoh-contoh dokumen dari internet. Dengan senang hati, teman saya itu melakukannya dan menyalinkannya ke USB Disk. Secara tidak sadar, teman saya tidak hanya menyalinkan dokumen yang dibutuhkan kawannya tersebut, tetapi juga tulisan tentang penyu.

Sang kawan kemudian bengong. “Saya minta contoh dokumen, tapi dikasihnya tulisan tentang penyu?” pikirnya dalam hati. Namun, karena tidak jua menemukan contoh dokumen yang diminta, kawan saya ini juga membaca tulisan-tulisan tentang penyu tersebut. Tidak hanya itu saja. Sang kawan pun menyebarkan penyu-penyu tersebut ke kelompok diskusinya melalui sosial media dan layanan perbincangan online. Hasilnya, jurusan pun heboh mendiskusikan tentang penyu.

Bukan penyu yang menjawab pertanyaan yang saya paparkan di paragraf awal. Namun, proses mencari penyu inilah yang menurut saya bisa menjawab pertanyaan, “Mengapa kita harus mengutip ide atau pernyataan orang lain untuk mendukung ide kita dalam aktivitas ilmiah?”

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sekarang mari kita jawab, apa yang akan teman saya ceritakan bila diminta menceritakan tentang penyu sebelum dia membaca tulisan dan jurnal ilmiah tentang penyu? Tidak ada. Teman saya tentunya akan bengong dan mengaku tidak tahu apa-apa tentang penyu.

Namun, beda ceritanya bila saya menanyakan perihal penyu ketika teman saya sudah membaca tulisan dan jurnal ilmiah tentang penyu. Dia akan menjawab secara panjang dikali lebar dikali tinggi tentang reptil laut tersebut. Tentunya jawabannya ini akan banyak dibumbui berbagai kutipan dan paparan fakta dari tulisan dan jurnal ilmiah yang dibacanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Benarkah kesimpulan dia tentang penyu tersebut?” Untuk mengetahuinya, kita bisa menelusuri dari sumber yang dia baca. Bila dia membaca hanya dari Wikipedia, tentunya kesimpulannya tentang penyu patut kita pertanyakan. Namun, bila dia menyimpulkan setelah membaca tulisan dan jurnal dari lembaga penyelamatan penyu terkemuka, tentunya kesimpulannya bisa mendekati kebenaran.

Mengenai hal ini, saya jadi teringat tentang lingkaran narasumber dalam bidang yang saya geluti, jurnalistik. Lingkaran narasumber sendiri merupakan tingkatan-tingkatan narasumber berdasarkan kualitas informasinya. Semakin dekat dengan sumber berita, maka pernyataannya semakin mendekati kebenaran.

Sebagai contoh, ada tabrakan antara bebek dan sepeda motor yang menewaskan pengendara sepeda motor. Informasi tentang peristiwa tersebut akan semakin akurat dan mendekati kebenaran pada narasumber yang melihat langsung kejadian tersebut.

Informasi akan semakin terdistorsi dan jauh dari kebenaran seiring semakin jauhnya narasumber dari sumber informasi. Dalam hal ini, tentunya, narasumber yang melihat langsung kejadiannya lebih akurat informasinya dibandingkan dengan narasumber ketiga, misalnya, yang mendapatkan informasinya dari narasumber kedua, yang dia pun hanya mendengarkan informasinya dari narasumber pertama.

Mengenai hal ini, saya jadi teringat permainan Pesan Berantai ketika SMA dulu. Kala itu, satu kelompok dibagi menjadi 5 orang. Orang pertama akan diberikan sebuah kalimat yang harus dihafal dalam jangka waktu 1 menit. Setelahnya, orang pertama tersebut harus memberitahukan pesannya kepada orang kedua dalam jangka waktu 1 menit. Pun seterusnya hingga orang kelima. Untuk menentukan kelompok pemenang, wasit akan menilai keutuhan pesan yang disampaikan oleh orang kelima.

Kembali ke penyu, eh, aktivitas ilmiah. Kutipan ide atau pernyataan seseorang diperlukan untuk menilai tingkat akurasi jawaban dari sebuah pertanyaan penelitian. Bila dia mampu menunjukkan bukti-bukti dari “narasumber” yang diakui, maka gagasannya dinilai layak secara akademis.

Oleh karena itu, fokeus seseorang yang hendak melakukan aktivitas ilmiah adalah membuat pertanyaan, kemudian mencari jawabannya dari berbagai literasi. Bukan justru mengeluh karena dipatok harus mengutip sekian ide atau pernyataan. Dalam hal ini, 5W+1H adalah alat yang mumpuni untuk membangun pertanyaan tersebut. Adapun jawabannya, tetaplah KEPO, sebagaimana seorang jurnalis melakukannya.

“Menjadi Petani”

Siluet petani. (Foto: woroworonegoro.wordpress.com)

Setelah Asian-African Students Conference (AASC) 2015 lalu, saya sempat ditanya oleh President of Conference tentang aktivitas setelah konferensi mahasiswa kulit berwarna kedua tersebut. “Saya mau kembali menjadi petani,” begitu jawab saya tanpa sadar, dan tanpa tahu alasannya.

Kini, setelah berbulan-bulan momen tersebut terlewat, saya masih memikirkan tentang “menjadi petani”. Tentunya, saya tidak berniat untuk memanggul pacul dan pergi ke sawah untuk menanam padi. Namun, rasanya masih ada makna yang harus saya singkap tentang “menjadi petani”.

Lama saya termenung, akhirnya pikiran saya terbang ke George Washington, presiden pertama Amerika Serikat. Sosok Washington sangat legendaris di Negeri Paman Sam. Salah satu yang membuatnya banyak dipuja oleh warga Amerika sampai saat ini adalah tradisi masa kepresidenan.

George Washington memutuskan untuk berhenti menjadi presiden setelah 2 periode menjabat, atau sekitar 8 tahun. Tradisi inilah yang kemudian diteruskan oleh pemerintah Amerika, sampai saat ini. Adapun Washington sendiri memilih untuk menghabiskan masa pensiunnya sebagai petani. Meskipun kemudian presiden berikutnya memintanya menjadi jenderal, dan beliau bersedia, hingga akhir hayatnya.

Kisah ini begitu membekas ketika saya mendengarnya di Amerika pada awal 2013 lalu. Hal ini membuat saya begitu mengagumi sosok George Washington yang begitu sederhana dan berseloroh untuk mengikut jejaknya kelak: mencukupkan sebuah amanah dan kembali menjadi warga biasa, atau mungkin menjadi petani.

“Menjadi petani”, rasanya makna ini jauh dari profesi petani ketika saya renungkan kemudian. Terlebih, ketika saya mengalami sebuah peristiwa yang cukup mengguncang sehari sebelum helaran AASC 2015 digelar.

“Menjadi petani adalah rela berkorban untuk orang lain,” begitu kemudian jawaban itu terucap di tengah alunan lagu “Indonesia Raya”. Seorang petani, secara tulus ikhlas membenamkan dirinya dalam lumpur tanah yang berbau busuk. Dia membajaknya, mencangkulnya, dan memupukinya agar sebuah tanaman padi rela untuk tumbuh di atasnya.

Ketika sebuah tanaman padi “resmi” menempati barisannya, petani berjuang keras untuk menjaga dan memeliharanya agar tetap hidup dengan cinta dan kasih sayang. Petani senantiasa mencukupkan airnya, menambahkan unsur haranya, membebaskannya dari rumput liat yang mengganggu, dan menjauhkannya dari hama tanaman padi.

Padi menguning dan ulirnya terisi beras. Petani dengan bermandi peluh kemudian memanennya. Petani dengan begitu sabar merontokkan bulirnya, menjemur gabahnya, dan memisahkan beras dari bungkusnya. Setelahnya, beras dibawa ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok pangan mereka.

Sedangkan petani, kembali melanjutkan rutinitasnya “mengasuh” padi-padi lainnya dengan tulus ikhlas, penuh perjuangan keras berbalut cinta dan kasih sayang, serta dilengkapi kesabaran. Meski kehidupannya selalu dekat dengan resiko dan jauh dari nyaman, tetapi dia tetap melakukannya dan berketetapan “menjadi petani”. Bukan hanya itu pilihannya, tetapi juga jalan hidupnya.

“Menjadi petani”, rasanya itulah yang saya pilih kini. Setelah ajang besar itu lewat, saya kembali memulai siklus kehidupan yang kecil dan sunyi. Mulai kembali membajak sawah, menyemai benih, menanam bibit, menjaga dan memelihara tanaman padi agar terus tumbuh, memanen berasnya, serta mempersembahkannya untuk kebaikan orang banyak. {*}

Eiger Ultra Enduro (Foto: Yudha PS)

Eiger UltraEnduro: Kawan Lari, Jelajah Desa, dan Mencicipi Hutan

Eiger Ultra Enduro (Foto: Yudha PS)
Eiger Ultra Enduro (Foto: Yudha PS)

Kamis akhir Juli 2015 lalu, saya memutuskan untuk kembali mencari keringat dengan olah raga berlari. Untuk memuluskan niat ini, saya pun bergabung dengan Eiger Night Run, Bandung. Komunitas ini digawangi oleh Ki Herry Constadi, yang lebih dikenal dengan julukan “Aki”. Di Bandung, mereka kerap menggelar lari bersama setiap hari Kamis jam 19 WIB.

Satu hal yang membuat saya senang hari itu adalah kejutan dari Aki. Saya diberikan sebuah tas Eiger yang tipe UltraEnduro (UE). Eiger sendiri merancang tas ini untuk para kaum muda yang senang lari atau berpetualang bersama perangkat kerjanya, seperti notebook, gadget, kamera, dan perangkat penunjangnya.

Sebelum memberikan kejutan tersebut, Aki memang sempat menanyakan kepada saya perihal produk Eiger yang ingin saya cicipi. “Tas lari yang masuk MacBook Air, Ki,” jawab saya secara spontan.

Saya pribadi sudah menggunakan “anak produk” dari Eiger, yaitu Bodypack. Tas bertipe Urban Digital Gear (UDG) ini dibelikan istri pada pertengahan 2012 silam, tepat ketika saya resmi menggandeng MacBook Air sebagai kawan kerja saya.

Bodypack UDG sangat cocok dengan aktivitas saya yang penuh gerak di perkotaan. Bentuknya cukup tipis dengan bobot yang ringan. Keunggulannya ini dikombinasikan dengan tinggi dan lebarnya yang cukup besar, sehingga saya bisa leluasa membawa buku-buku ukuran A4 dalam jumlah yang banyak.

Satu hal yang saya senangi dari Bodypack UDG adalah jumlah dan ukuran kantungnya yang variatif sekaligus cocok untuk anak muda perkotaan. Tas ini memiliki 4 kantung. Kantung utama dan terbesar bisa diisi dengan tas dan buku-buku.

Kantung sekundernya, dan bagian ini salah satu yang saya suka, bisa dijejali berbagai gadget dan barang-barang yang lebih kecil. Bagian ini memiliki tempat untuk ponsel, dompet, pulpen, dan kantung tersembunyi. Di tempat ini saya biasa menyimpan uang, dompet, ponsel, kartu nama, kamera saku, cakram keras portabel, dan buku catatan kecil.

Dua kantung lainnya berukuran lebih kecil. Meskipun begitu, kedua kantung ini menjadi pilihan terbaik saya untuk menyimpan barang-barang penunjang aktivitas saya. Kantung pertama terletak di bagian bawah depan. Kantung ini begitu menonjol dan mudah terlihat. Di dalamnya, saya biasa menyimpan pengisi daya baterai untuk Macbook, ponsel, dan kamera saku. Peralatan listrik tambahan lainnya juga saya masukan di sini.

Sedangkan kantung kedua terletak di bagian atas depan. Ukuran kantung ini adalah yang terkecil dibandingkan kantung-kantung lainnya. Meskipun posisinya paling depan, tetapi kantung yang satu ini memiliki kanopi di pintunya, sehingga mampu melindungi berbagai barang di dalamnya. Kantung ini biasa saya gunakan untuk menyimpan sambungan proyektor, pointer presentasi, USB Disk, dan kunci rumah.

Saya pribadi masih sangat menyukai produk Bodypack UDG. Produk ini sangat optimal untuk beraktivitas di area perkotaan. Sayangnya, aktivitas saya tidak selamanya berada di kota. Terlebih lagi, saya tengah menggandrungi olah raga lari. Bila saya berlari menggunakan Bodypack UDG, aktivitas saya agak sedikit terhambat dan niscaya isinya akan terguncang dahsyat.

Di sisi lain, istri saya ternyata mulai jatuh cinta dengan tas Bodypack UDG ini. Pernah saya berniat membelikan, tetapi produknya sudah tidak diproduksi lagi oleh Bodypack. Dan ketika tas Bodypack UDG ini berpindah tangan, istri saya sangat senang sekali menerimanya.

Kanan: Bodypack Urban Digital Gear, Kiri: Eiger UltraEnduro. (Foto: Yudha PS)
Kanan: Bodypack Urban Digital Gear, Kiri: Eiger UltraEnduro. (Foto: Yudha PS)

“Setelah Bodypack, datanglah Eiger,” barangkali demikian pepatah yang cocok untuk saya saat ini. Hari itu, Aki memberikan kejutan saya berupa tas Eiger bertipe UltraEnduro (UE). Hari itu juga, saya memasukkan semua barang-barang saya, termasuk MacBook Air, dan mulai berlari dengannya.

Kekuatan Eiger UE sendiri terletak pada bentuknya yang ramping dan mungil. Awalnya, saya sendiri tidak menyangka bahwa tas yang terlihat kecil di luar ini bisa memuat sebuah MacBook Air 13’, bahkan juga MacBook Pro dengan ukuran yang sama.

Salah satu yang paling saya suka adalah sabuk penyangga di dada dan perut. Di dada, sabuk ini seperti sabuk pengaman pada tas-tas kebanyakan yang dibuka dengan menekan bagian tengahnya. Adapun sabuk di perut, memungkinkan penggunanya memasang sesuai dengan lingkaran tubuh. Hal ini membuat tas mengikuti gerak tubuh dan meminimalisir guncangan di dalam tas.

Eiger UE hanya memiliki 2 kantung utama dan fitur-fitur penunjang yang mampu mengoptimalkan aktivitas seseorang di alam bebas. Kantung pertama sendiri terletak di tengah dan mampu memuat MacBook Air 13’ dan notebook dengan ukuran serupa.

Berbeda dengan Bodypack UDG yang memiliki partisi tersendiri untuk notebook, Eiger UE hanya menyediakan seutas tali. Fungsinya hanya untuk mengokohkan notebook agar minim guncangan dan benturan ketika seseorang berlari atau beraktivitas di alam bebas. Selain MacBook Air, saya juga kerap menyimpan buku, dokumen, atau peralatan tambahan yang saya butuhkan ketika berlari atau beraktivitas di alam bebas.

Sedangkan katung keduanya memiliki ukuran lebih kecil dan terletak di depan kantung utama. Di dalamnya hanya ada satu lapisan sekat jaring untuk menyimpan barang-barang penunjang aktivitas. Karena kondisi ini, membuat saya harus pintar-pintar mengatur barang bawaan dan posisinya. Hal ini ditujukan untuk mengurangi guncangan ketika tengah berolahraga lari.

Adapun fitur-fitur penunjang di Eiger UE, salah satunya adalah kantung untuk air minum. Kantung ini terletak paling belakang dan langsung berhadapan dengan punggung penggunanya. Kantung ini memiliki lubang kecil ke sabuk utamanya yang berfungsi untuk menyalurkan selang air minum. Hal ini memudahkan penggunanya untuk menyedot air minum ketika tengah berlari.

Fitur lainnya yang sangat saya suka adalah kantung kecil di sabuk penyangga di perut. Kantung ini berfungsi untuk menyimpan peralatan elektronik yang sering digunakan, seperti ponsel dan kamera saku. Saya pribadi seringnya menyimpan ponsel di saku tersebut. Sedangkan kamera saku saya bawa di tangan. Ketika ada objek yang menarik, langsung saya bidik dan potret. Fitur penunjang lainnya adalah saku di sabuk utama, baik di sabuk kanan maupun kiri. Saku ini bisa digunakan untuk menyimpan uang atau obat-obatan.

Di bagian paling depan, tersedia kantung dari kain yang berbentuk jaring. Kantung ini fungsinya untuk menaruh hal-hal yang bisa diambil seketika, seperti buku catatan, pulpen, dan obat-obatan. Tak lupa juga di kanan dan kirinya terdapat kantung tambahan untuk menyimpan air minum dan barang-barang yang lebih kecil lainnya.

Bagi saya yang sudah terbiasa dengan Bodypack UDG, tas Eiger UE jelas terlalu kecil. Namun, bila melihat aktivitas saya yang melintasi kota, desa, bahkan sedikit masuk hutan, Eiger UE adalah kawan yang tepat. Eiger UE membuat saya tetap bisa menuliskan cerita-cerita langsung dari daerah di luar wilayah kota.{*}

Jurnalisme Kepiting a la Kompas

Foto: wikimedia.org

Selama belajar tentang jurnalisme, saya baru mendengar ada istilah “Jurnalisme Kepiting”. Istilah ini bukan merujuk kepada sebuah aliran jurnalisme di dunia ini, melainkan hanya sebuah sindiran yang dilontarkan kepada harian umum Kompas pada era akhir 1970-an.

Adalah Rosihan Anwar, tokoh pers Indonesia yang pertama kali melontarkan sindiran “jurnalisme kepiting” tersebut. Pasalnya, Kompas lebih memilih jurnalisme yang lebih lembut dan dinamis, dibandingkan surat kabar pada masanya yang menganut jurnalisme keras dan sarat kritik tajam terhadap pemerintahan Soeharto.

Jalan jurnalisme yang lebih halus ini diambil setelah Kompas dibredel selama tiga pekan oleh pemerintahan Soeharto pada awal 1978. Saat itu, Jakoeb Oetama berusaha fokus untuk membangun strategi agar Kompas bisa kembali hadir dan melayani publik.

Sebagai konsekuensinya, Kompas harus mentaati sejumlah larangan yang digariskan oleh Orde Baru dalam melakukan tugas jurnalismenya. Meskipun dikritik oleh tokoh pers dan ditentang oleh sebagian awak redaksinya, strategi inilah yang kemudian membuat Kompas bisa mencapai usianya yang ke-50 tahun pada Juni 2015 lalu.

Wartawan Kompas 1978 ST Sularto melihat jurnalisme kepiting Kompas sebagai jalan budaya. “Dan jalan ini ternyata sebuah pencerahan (bagi Kompas),” ungkapnya dalam tayangan dokumenter 50 tahun Kompas episode kedua.

Lebih lanjut, ST Sularto menjeaskan bahwa jurnalisme kepiting yang dimaksud Rosihan Anwar merujuk kepada cara jalan kepiting. Ketika kepiting menemui hambatan di depannya, maka dia akan mundur atau berjalan menyamping lalu mencari jalan lain yang lebih aman. Bila memaksakan diri untuk menabrak halangan di depannya, maka kepiting itu akan mati.

Hal yang sama diibaratkan kepada Kompas. Bila Kompas harus kembali menabrakkan dirinya dengan dinding kekuasaan, yang terjadi selanjutnya, surat kabar tersebut tidak akan pernah ada lagi saat ini.

Rikard Bangun, pemimpin redaksi Kompas 2009-2014, menjelaskan bahwa jurnalisme kepiting merujuk kepada pemberitaan redaksi yang selalu memaksimalkan pemberitaan hingga ambang batas. Ketika mulai ada teguran, kemudian ketajaman pemberitaan diturunkan hingga keadaan pemerintah reda. Begitu seterusnya, hingga pemerintah Orde Baru tumbang dan digantikan reformasi.

Jakoeb Oetama menambahkan bahwa Kompas berusaha lebih dinamis usai dibredel pemerintah. Surat kabar tersebut menerima peringatan dari Orde Baru. Namun, mereka juga memiliki pendapat dan berusaha untuk menyuarakannya secara mandiri. “Hal yang penting adalah message (pesan) yang ingin kita sampaikan bisa sampai kepada publik dan pemerintah yang sedang berkuasa,” tandas pendiri Kompas ini.

Daniel Dhakidae, Kepala Litbang Kompas 1995-2005, menambahkan bahwa untuk melihat pesan Kompas jangan melihat apa yang ditulisnya di koran. “Read between the line, baca di antara garis,” sarannya. “Memang (cara membaca seperti ini) susahnya minta ampun. Namun, inilah yang menjaga Kompas tetap aman,” lanjutnya lagi.

Akibat diterapkannya strategi ini, di dalam awak redaksi Kompas sendiri berkembang guyonan tentang prinsip jurnalisme Kompas, yaitu: 5W+1H+S. Seperti yang kita tahu, 5W+1H merupakan kependekan dari What + Where + When + Who + Why + How. Sedangkan tambahan huruf “S” di belakangnya merujuk kepada kata “Safe” atau aman. Dengan kata lain, setiap wartawan Kompas pada era Orde Baru harus mampu menyajikan tulisan dan foto yang sesuai dengan kaidah jurnalisme dan aman di mata pemerintah.

Jalan panjang jurnalisme Kompas ini kemudian disimpulkan secara apik oleh narator tayangan dokumenter 50 tahun Kompas. Dia menekankan bahwa fungsi jurnalisme yang ideal bukan meliput dan mengkritik secara membabi buta. “Namun, membuka jalan bagi sebuah solusi dengan memaknai peristiwa bagi kemanusiaan,” tutupnya.

Bagi teman-teman yang ingin menyaksikan tayangan 50 Tahun Kompas episode kedua, silahkan membuka saluran Kompas TV di Youtube.{*}

Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Kembali Belajar Fotografi

Foto Tol Cipali yang saya potret selepas maghrib di Jatiwangi, Majalengka. (Foto: Yudha PS)

Matahari baru saja turun ke peraduan 15 menit yang lalu. Namun, saya tetap bertahan di jembatan penyeberangan Tol Cipali di Jatiwangi, Majalengka. Jembatan penyeberangan tersebut terletak di tengah sawah yang tanpa penerangan satu pun. Praktis, ketika matahari terbenam, saya diliputi oleh malam yang gelap gulita.

Tentunya, saya dipenuhi oleh rasa was-was yang sangat besar, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada diri saya. Dalam keadaan gelap tersebut, bisa saja saya mengalami aksi kejahatan. Meskipun begitu, rasa was-was tersebut kalah bersaing dengan rasa penasaran saya untuk memotret arus mudik selepas maghrib di tol Cipali.

Malam semakin larut saja, dan jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Kamera saku Canon Ixus 115 saya tanpa henti mengambil foto demi foto yang mengabadikan kepadatan arus mudik selepas Idul Fitri 1436H tersebut. Foto dengan hasil terbaik, itulah yang ingin saya dapatkan.

Keadaan cahaya sudah sangat minim kala itu. Saya menggunakan mode Long Shutter di kamera dengan lama bukaan mencapai 15 detik. Kamera pun saya taruh di pinggiran jembatan agar lebih stabil dan menghindari guncangan ketika proses pengambilan gambar. Hasilnya, sesuai harapan: garis cahaya lampu mobil yang melintasi jalan tol Cipali dan dilatari oleh langit biru lengkap dengan bintang dan bulan sabit. Puas dengan hasil tersebut, saya langsung mengambil motor, tancap gas, dan pulang ke rumah orang tua yang jaraknya sekitar 2-3 Kilometer dari tempat pengambilan gambar.

Tekad saya untuk mengambil gambar dengan resiko yang cukup besar tersebut bisa dibilang tidak lumrah untuk saat ini. Pasalnya, selama memiliki kamera saku tersebut selama kurun waktu 3 tahun terakhir, saya termasuk orang yang biasa-biasa saja dalam menggunakannya. Kamera umumnya hanya saya gunakan untuk mendokumentasikan acara-acara yang cukup istimewa, seperti pernikahan, seminar, rapat, atau pun pelatihan. Selebihnya, jarang sekali saya gunakan.

Hal ini sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan masa-masa 4-7 tahun lalu. Ketika itu, saya kerap berburu foto dengan menggunakan kamera semi-SLR atau D-SLR milik teman. Mulai dari Dago Pakar di Bandung Utara sampai Kawah Putih di Bandung Selatan pernah saya jajaki dalam rangka belajar memotret. Bahkan, saya kerap ke pasar-pasar tradisional pada tengah malam hanya untuk memotret. Hasilnya, tidak terlalu buruk dan bisalah masuk dalam kategori “lumayan”.

Ketika masih muda di Kawah Putih, Ciwidey, Bandung, dengan kamera pinjaman. (Foto: Bagus RM)

Kebiasaan berburu foto tersebut ternyata mulai luntur justru setelah saya memiliki kamera saku sendiri. Barangkali, karena biasa memegang kamera semi-SLR dan D-SLR, membuat saya tidak banyak berkutik ketika “bersenjatakan” kamera saku.

Salah satunya berkaitan dengan perbesaran gambar. Dengan menggunakan semi-SLR, saya bisa melakukan perbesaran hingga 30 kali. Fitur ini membuat saya bisa menangkap objek yang jauh atau pun melakukan perbesaran hingga mampu mengambil detil sebuah objek. Dengan kamera saku? Saya nyaris tidak bisa berkutik dengan perbesaran maksimal hanya 5 kali.

Isu lainnya mengenai ketajaman gambar dan keterbatasan cahaya. Kamera semi-SLR dan D-SLR mampu menghasilkan gambar yang tajam dan bergerak luwes dalam keadaan cahaya yang minim. Hal inilah yang tidak bisa disaingi oleh kamera saku, khususnya Canon Ixus yang saya miliki. Ketajaman jelas kalah jauh. Adapun urusan cahaya, mutlak mati-kutu bila keadaan sudah mulai senja atau berada di ruangan yang temaram.

Namun, semua itu berubah ketika saya secara tidak sengaja tertambat di halaman Youtube Canon Australia pada Ramadhan lalu. Kala itu, saya menemani seorang kawan yang baru saja memiliki sahabat baru: Canon Powershot G16. Untuk merayakannya, kami berdua menonton saluran resmi Canon Australia di kanal video milik Google sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Selama menonton, kami seringkali terpukau melihat foto-foto menawan yang dihasilkan fotografer Canon Master. Canon Master sendiri merupakan julukan bagi fotografer profesional yang karyanya sudah diakui dunia dan memotret menggunakan kamera Canon. Saluran Canon Australia sendiri banyak menyuguhkan testimoni, review, dan how-to menggunakan kamera Canon agar mampu menghasilkan foto yang menawan.

Sejak peristiwa itu, saya kerap menongkrongi saluran Canon di Youtube. Tidak tanggung-tanggung, saya berlangganan 4 saluran Canon, yaitu: Canon Australia, Amerika, Eropa, dan Asia. Tujuannya satu: mengambil inspirasi fotografi dari para Canon Master. Saya juga banyak belajar tentang tata cara mengambil gambar yang baik dari saluran tersebut.

Selain itu, saya juga jadi senang menongkrongi saluran National Geographic Live!. Saluran ini salah satunya menyuguhkan presentasi fotografer-fotografer National Geographic ketika beraksi di lapangan. Acara tersebut semacam ajang “behind the scenes” di balik foto-foto National Geographic yang terkenal sebagai karya-karya terbaik dunia.

Hasilnya, hasrat untuk berburu foto langsung membuncah hingga ke titik tertinggi. Sejak saat itu, saya selalu ke luar rumah untuk berjalan-jalan dan mencari objek foto yang menarik. Ketika saya di Jatiwangi, hampir setiap sore saya menaiki motor dan berkeliling hingga ke kecamatan tetangga. Anak dan istri biasanya saya ajak, sembari menikmati sore pada musim kemarau.

Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)
Anak dan istri menunggu di sepeda motor selama saya memotret. (Foto: Yudha PS)

Bila ada objek yang menarik, saya langsung turun dari motor dan memotretnya semaksimal mungkin. Anak dan istri menunggu di motor sembari memperhatikan saya yang sedang tergila-gila belajar memotret. Tak jarang mereka menunggu sampai 30 menit di atas motor. Beruntung, mereka cukup sabar untuk menunggu.

Ketika pulang kembali ke Bandung, aktivitas memotret saya lakukan sembari berlari sore. Belakangan, saya berusaha mengerem agar frekuensi aktivitas memotret saya tersebut maksimal hanya 2-3 kali sepekan. Saya mulai khawatir dengan kapasitas penyimpanan data yang mulai membengkak. Selain itu, frekuensi memotret 2-3 kali sepekan memberikan jeda untuk saya mengevaluasi foto-foto yang dihasilkan, sekaligus memperbaiki teknik memotret agar mampu lebih baik.

Salah satu yang membuat saya bersemangat lagi untuk belajar memotret menggunakan kamera saku adalah ungkapan, “Man behind the gun.” Kang Dudi Sugandi, dan juga fotografer lainnya, kerap mengingatkan kepada kami yang belajar fotografi bahwa foto yang bagus tidak tergantung kepada perangkatnya, tetapi justru manusianya. “It is not about gun, it is about man behind the gun,” demikian ungkapannya dalam bahasa Inggris.

Ungkapan ini benar-benar dibuktikan oleh kang Dudi Sugandi. Dengan kamera ponsel pun, beliau bisa menghasilkan foto-foto yang menawan. Umumnya, beliau mempublikasikan foto-foto tersebut di akun Instagramnya. Dalam hal ini, jam terbang adalah kuncinya.

Hikmah senada pernah diceritakan kawan saya yang memiliki teman berkamera Canon EOS 1D. Suatu ketika, kawan saya tersebut meminta bantuan temannya untuk memotret sebuah restoran. Hasilnya, sang manajer restoran menilai hasil fotonya kurang memadai. Ternyata, temannya kawan saya tersebut memiliki banyak uang untuk membeli kamera mahal, tetapi tidak memiliki jam terbang yang cukup untuk mempergunakannya. Coba kalau Canon EOS 1D itu dikasihkan ke saya, yah. Mungkin akan saya jual lagi. Hahaha.

Kini, saya berusaha mensyukuri kamera saku Canon Ixus sambil terus belajar memotret dan menghasilkan foto yang terbaik. Keterbatasan gambar saya coba siasati sedemikian rupa dengan photo-editor. Saya sendiri menggunakan aplikasi Preview di MacOS yang pengoperasiannya cukup sederhana. Hasilnya, cukup menggembirakan dan mampu meningkatkan kualitas foto saya, khususnya dalam warna dan komposisi.

Memiliki kamera semi-SLR atau D-SLR? Ah, nanti dulu. Bagi saya yang besar dan hidup dari menulis, rasanya terlalu mahal bila harus membeli tipe kamera tersebut. Alasannya, sederhana saja: fotografi belum bisa memberikan pendapatan bagi saya. Hal ini berbeda dengan menulis yang menjadi mata pencaharian saya hingga detik ini. Barangkali, bagi saya, MacBook sebagai perangkat kerja untuk menulis akan berusaha saya dapatkan dibandingkan Canon D-SLR, kendati harganya di bawah MacBook. Namun, niscaya saya tidak akan menolaknya bila ada yang mau memberikan satu kamera Canon D-SLR. Hahaha.{*}

Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Liputan Bersama Kompas TV: Kontribusi untuk Indonesia (3/3)

Kondisi pepohonan hutan di Karangsoak yang mulai meninggi. (Foto: Yudha PS)
Kondisi pepohonan hutan di Karangsoak yang mulai meninggi. (Foto: Yudha PS)

Sahur kedua di Desa Mandalamekar. Meski tanpa gempa seperti hari pertama, tetapi kami bangun tepat waktu dan masih semangat menyantap hidangan yang sudah tersedia di meja makan. Meskipun begitu, kelelahan mulai tampak di wajah tim Kompas TV. Terlebih lagi, mereka sudah 2 pekan berada di lapangan, jauh dari kasur yang empuk di rumah.

Agenda liputan hari ini adalah mewawancarai pak Yana Noviadi selaku kepala desa Mandalamekar, dan kang Irman Meilandi sang penggerak Gerakan Desa Membangun (GDM) di Mandalamekar. Pak Yana sendiri diwawancarai di rumahnya, yang tidak lain merupakan tempat menginap kami. Bersama pak Yana, kami berbincang-bincang mengenai penghijauan, program pemerintah desa, dan pergerakan citizen media di Mandalamekar.

Hampir semua paparan pak Yana pernah saya tulis di blog, termasuk perjalanannya menjadi kepala desa, program membangun hutan, digitalisasi administrasi desa, dan pergerakan citizen media berbasis radio dan internet di Mandalamekar. Meskipun begitu, dalam wawancara tersebut, beliau menyelipkan beberapa perkembangan baru yang perlu saya catat di sini.

Salah satunya adalah visi Mandalamekar pada tahun 2025 sebagai desa maju. Hal ini merupakan rentetan dari pembangunan yang dilakukan oleh Mandalamekar sejak masih berstatus sebagai desa tertinggal pada satu dekade lalu. Kini, Mandalamekar mulai berstatus sebagai desa berkembang.

Untuk menggapai visi ini, Mandalamekar tengah berusaha membangun manusianya agar mampu mandiri dan berdaulat. Guna mewujudkannya, praktis sektor pendidikan dan ekonomi tengah digenjot di Mandalamekar saat ini. Di sektor ekonomi, Mandalamekar kini tengah getol-getolnya membangun ekonomi berbasis desa. Setelah cukup sukses dengan cabai dan rintisan wisata desanya, kini pak Yana dan masyarakatnya tengah mengembangkan peternakan sapi.

Uniknya, Mandalamekar tidak sendiri dalam hal ini. Mereka bekerjasama dengan 4 desa lainnya di kawasan untuk membangun Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). SPR ini merupakan salah satu ikhtiar untuk membangun ekonomi berbasiskan peternakan sapi, salah satu sumber daya yang ada di desa-desa di sekitar Mandalamekar.

Sedangkan dari sektor pendidikan, Mandalamekar kini memiliki SMK Karya Putra Manggal. SMK ini tidak hanya ditujukan bagi masyarakat Mandalamekar semata, tetapi juga masyarakat desa-desa lainnya yang tidak bisa melanjutkan SMA ke kota.

Bagi pak Yana, berusaha menyelesaikan masalah-masalah di Mandalamekar secara mandiri merupakan “unjuk rasa” atas absennya negara di desa tertinggal. Alih-alih menyibukkan diri berdemo dan menuntut pemerintah agar peduli, justru pak Yana dan kawan-kawan secara bergotong royong membangun desa Mandalamekar. Hasilnya, kini, justru pemerintah yang ingin sekali membantu Mandalamekar. Keinginan ini bahkan tersirat dari pemerintahan mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga pusat.

Usai wawancara, mas Popo meminta pak Yana untuk mendemonstrasikan aktivitasnya ketika mengakses internet di tengah sawah. Aktivitas ini memang unik, dan menjadi bahan tulisan saya ketika membahas Mandalamekar pada kunjungan pertama. Tidak hanya saya dan Kompas TV saja yang mengangkat aktivitas unik tersebut. Film dokumenter Lini Massa 2 pun melakukan hal yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, pak Yana juga mengajak saya dan tim Kompas TV untuk melakukan ritual yang harus dilakukan para tamu bila berkunjung ke Mandalamekar: menanam pohon. Pak Yana memilih Karangsoak sebagai lokasi ritual ini. Kami bersama beberapa warga Mandalamekar pun langsung menuju lokasi.

Saya cukup takjub melihat kondisi Karangsoak saat ini. Pada 2011 silam, ketika saya pertama kali berkunjung ke sini, saya masih bisa melihat sungai Ciwulan di sebelah utara Mandalamekar dari jalanan yang membatasi hutan Karangsoak dengan kebun warga.

Namun, saat ini, sungai tersebut sudah tidak tampak, ditutupi oleh pepohonan yang sudah meninggi. Lebih dari itu, kini Karangsoak mulai dihuni binatang-binatang yang tidak pernah terlihat ketika hutan ini gundul. Salah satunya adalah ular Sanca besar dengan panjang hingga belasan meter. Kontan, bagi saya yang tidak menyukai ular, cerita tersebut membuat saya merinding dan berhati-hati berada di Karangsoak.

Pak Yana mengajak kami menanam di area kosong di tengah hutan. Dibantu mang Dodi Rosadi, kami menanam pohon Jati Uganda. Mang Dodi dan mang Tata sendiri sudah menyiapkan sekitar 6 bibit pohon untuk kami tanam. Namun, karena keperluan pengambilan gambar, akhirnya setengahnya ditanam oleh saya semua. Mas Popo mengarahkan saya untuk menanam beberapa kali. Sedangkan sisanya ditanam oleh mba Yessi selaku perwakilan Kompas TV.

***

Kondisi pepohonan di Pasirbentang yang sudah meninggi. Padahal, 10 tahun lalu, area ini masih berupa lahan kritis yang ditumbuhi ilalang. (Foto: Yudha PS)
Kondisi pepohonan di Pasirbentang yang sudah meninggi. Padahal, 10 tahun lalu, area ini masih berupa lahan kritis yang ditumbuhi ilalang. (Foto: Yudha PS)

Selepas sholat Jumat, dan siang semakin terik saja. Bila hari biasa, momen ini tentunya akan diisi oleh makan siang atau menghabiskan sebutir kelapa hijau untuk memuaskan dahaga. Namun, hal ini tidak memungkinkan terwujud saat itu, tengah hari pada bulan Ramadhan 1436H.

Agenda selanjutnya adalah mewawancarai kang Irman Meilandi. Sesi pengambilan gambar dan wawancara terakhir di Mandalamekar ini diambil di area Pasirbentang, sebuah bukit yang merupakan titik tertinggi di Mandalamekar. Dulunya, area Pasirbentang dimiliki oleh orang-orang dari desa lain. Kini, sebagian besar tanah di bukit Pasirbentang sudah dibeli oleh kang Irman.

Satu dekade silam, ketika Pasirbentang masih dimiliki oleh banyak orang, lahan ini kritis dan hanya ditumbuhi alang-alang. Prihatin dengan kondisi tersebut, kang Irman sedikit demi sedikit membelinya dan mengubahnya menjadi hutan. Untuk mempercepat tumbuhnya pepohonan di Pasirbentang, kang Irman sengaja mengembalakan sapinya di lokasi tersebut. Diharapkan, kotoran sapi tersebut menjadi pupuk yang mampu menyuburkan tanah di Pasirbentang dan mempercepat pertumbuhan pepohonan yang ditanam. Hasilnya, setelah 10 tahun berlalu, Pasirbentang teduh dengan tajuk pohon yang tingginya 2 kali tiang telepon.

Kang Irman mengajak saya dan tim Kompas TV ke puncak Pasirbentang. Untuk menjangkaunya, kami harus naik kendaraan dan melewati jalanan berbatu dan berlubang. Selepas itu, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan melewati jalur setapak di antara semak belukar dan pepohonan yang rindang.

Mba Yessi beberapa kali menanyakan jarak yang harus ditempuh untuk tiba di Pasirbentang dengan berjalan kaki. Tampaknya beliau ingin memastikan bahwa perjalanan tidak terlalu jauh, mengingat kondisi tim yang sudah setengah kelelahan. Namun, Kang Irman meyakinkan kami bahwa jaraknya hanya 1,5 Kilometer. Untuk membantu tim Kompas TV, kang Irman bahkan meminta bantuan penduduk setempat untuk membawakan tripod yang beratnya antara 3-5 Kilogram.

Ternyata, kecurigaan mba Yessi terjawab. Pada saat turun dari Pasirbentang, beliau sempat menanyakan ke asisten kang Irman ihwal jarak yang mereka tempuh. Ternyata, jaraknya mencapai sekitar 5 Kilometer. Saya kemudian berseloroh bahwa jarak yang kang Irman sebutkan diukur menggunakan drone, bukan berjalan kaki. Jadi dihitung garis lurus, bukan berkelok-kelok seperti yang kami tempuh.

Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)
Berpapasan dengan sapi yang digembalakan di area Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Untuk menggapai puncak Pasirbentang memerlukan usaha yang cukup besar. Kami harus melewati jalanan setapak yang terjal, berbatu, licin, dan berliku. Beberapa kali kami harus berhenti sejenak untuk menghela nafas. Meskipun begitu, melihat semangat kang Irman untuk menceritakan Pasirbentang dan suasana hutan yang adem, membuat kami terpacu untuk sampai ke puncak Pasirbentang secepat mungkin.

Salah satu yang diceritakan oleh kang Irman adalah mata air yang mulai kembali mengalir kembali di Pasirbentang seiring pulihnya hutan di atasnya. Airnya pun cukup deras dan jernih, dan dialirkan menggunakan bambu untuk memenuhi kebutuhan warga yang tinggal di bawahnya. Padahal, musim kemarau sudah mulai mengeringkan sawah-sawah di desa-desa sekitar Mandalamekar. Namun, tidak untuk mata air di Mandalamekar.

Sesampainya di puncak Pasirbentang, sebuah rumah panggung menyambut kami. Kang Irman menceritakan bahwa rumah panggung tersebut kerap dijadikan tempat menginap bagi dirinya ketika berkunjung ke Pasirbentang. Durasinya pun cukup lama, bisa sampai sepekan.

Wawancara dengan kang Irman kami lakukan tepat di bawah rumah panggung tersebut. Wawancaranya sendiri seputar latar belakang beliau meninggalkan kehidupan mapannya di Papua dan prestasinya meraih Seacology Award. Selain itu, latar belakang berdirinya SMK Karya Putra Manggala di Mandalamekar pun menjadi bahan wawancara kami.

Banyak hal yang kang Irman paparkan pernah saya tulis di blog. Salah satu yang menurut saya baru adalah usahanya untuk membangun kapasitas manusia di Mandalamekar. Hal ini ditempuh dengan mendirikan SMK di bidang Teknik Komputer Jaringan.

Mba Yessi beristirahat sejenak di tengah perjalanan menuju puncak Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)
Mba Yessi beristirahat sejenak di tengah perjalanan menuju puncak Pasirbentang. (Foto: Yudha PS)

Pilihan bidang di SMK ini dilatar-belakangi minimnya minat anak muda Mandalamekar untuk belajar peternakan dan kehutanan. Meskipun begitu, kang Irman mendorong agar SMK ini juga menyelipkan kemampuan berternak dan mengelola hutan. Harapannya, lulusannya mampu mengoptimalkan potensi yang ada di Mandalamekar dan menghubungkannya dengan dunia luar.

Setelah satu jam mengambil gambar, kami pun mengarahkan diri untuk kembali ke rumah pak Yana dan mengemasi barang-barang kami. Dua hari menjelajah Mandalamekar untuk 2 segmen sebuah episode Cerita Indonesia, itulah yang kami tempuh. Lelah, sudah pasti. Namun, pengalaman baru yang didapat dan didokumentasikan lebih berarti dibandingkan pegal, lapar, dan dahaga yang dirasakan. Harapannya, banyak orang yang bisa mendapatkan inspirasi dari penggalan-penggalan gambar yang disuguhkan Kompas TV ketika tayang kelak.

Selepas maghrib, saya dan tim Kompas TV langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Bagi saya, meninggalkan Mandalamekar bukan berarti pergi jauh dari desa tersebut. Namun, selalu diiringi janji untuk kembali dan berkontribusi lebih baik pada suatu saat nanti, baik untuk Mandalamekar, juga untuk Indonesia yang lebih baik.{*}

Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)

Liputan Bersama Kompas TV: Belajar dari Jurnalis TV (2/3)

Mas Ridwan tengah mengambil gambar suasana pagi di Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)
Mas Ridwan tengah mengambil gambar suasana pagi di Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)

Jarum pendek jam dinding begitu beratnya meninggalkan angka 3. Seberat saya yang harus meninggalkan peraduan untuk sahur kala itu. Cuaca yang dingin di luar sana dan sleeping bag yang hangat memang perpaduan yang tepat untuk meneruskan tidur hingga siang menjelang.

Namun, pagi itu, tampaknya bukan pilihan yang tepat untuk berlaku malas di Mandalamekar. Tak lama setelah saya bangun, gempa mengguncang Tasikmalaya dan sekitarnya. Sebentar, tetapi cukup keras dan terbukti membuat panik serta meningkatkan adrenalin siapa pun yang ada di situ, termasuk saya.

“Cuman gempa untuk membangunkan orang sahur,” pak Yana berseloroh dengan santai kepada kami. “Ayo, cepat kita sahur. Hidangan sudah siap,” ajaknya lagi. Dengan segera, saya bersama tim Kompas TV langsung menyantap hidangan sahur buatan istri pak Yana. Masakannya yang lezat, membuat kami nambah, nambah, dan nambah lagi. Sampai adzan subuh berkumandang, tanda waktunya menjalankan ibadah puasa.

Selepas subuh, tim Kompas TV langsung menyamber kameranya. “Cari sunrise,” kata mas Ridwan. Dengan segera, dia bersama mas Anjas mencari posisi yang uenak untuk mendapatkan gambar terbaik. Balkon di rumah pak Yana sang Kepala Desa Mandalamekar segera dijajakinya jengkal demi jengkal. Mereka kemudian mengarahkan kamera ke arah terbitnya matahari, kemudian menunggu matahari nongol.

***

Dua hari bersama tim Kompas TV di Mandalamekar merupakan berkah tersendiri bagi saya. Pasalnya, saya bisa banyak belajar tentang dunia jurnalisme TV kepada mereka. Bagi saya, yang lahir dan besar serta menggeluti di “dunia teks”, dunia audio-visual merupakan sesuatu yang baru dan berbeda.

Tim Kompas tengah mempersiapkan wawancara siswa dan guru SMK. (Foto: Yudha PS)
Tim Kompas tengah mempersiapkan wawancara siswa dan guru SMK. (Foto: Yudha PS)

Mba Yessi sempat menjelaskan bahwa kekuatan utama dunia audio-visual adalah gambar. Untuk menceritakan sesuatu, tim harus berjuang keras untuk memvisualkan data-data yang mereka dapat dari studi pustaka dan wawancara dalam bentuk gambar bergerak dan suara. “Show, not tell,” barangkali ungkapan jurnalisme tersebut cocok untuk membingkai aktivitas tim Kompas TV selama di lapangan, termasuk di Mandalamekar.

Tuntutan tersebut tentunya membuat para jurnalis TV harus bekerja ekstra keras dibandingkan mereka yang menggeluti “dunia teks”. Bagi saya, dan mungkin juga para jurnalis media cetak, hanya cukup mewawancarai narasumber dan mengeksplorasi data secara online atau kepustakaan. Adapun observasi ke lapangan merupakan pilihan ketika data sudah lengkap. Sisanya, saya dan “makhluk dunia teks” lainnya tinggal meramu kata-kata agar pembaca bisa memahami dan membayangkan dalam imajinasinya realitas yang saya dapatkan melalui wawancara dengan narasumber.

Tentunya, hal ini berbeda dengan mba Yessi dan tim Kompas TV. Tugas mereka tidak selesai seiring tuntasnya runtutan wawancara dengan narasumber, seperti halnya para penulis. Selanjutnya, mereka harus memvisualisasikan agar data-data yang didapatnya bisa dirangkai menjadi cerita yang menarik bagi para penontonnya. Mereka harus bekerja keras mengambil gambar di lokasi-lokasi yang dipaparkan oleh narasumber pada wawancara pra-liputan.

Setidaknya, hal inilah yang saya perhatikan selama “mengekor” tim Kompas TV. Pada malam ketika kami tiba di Mandalamekar, mba Yessi dan mas Popo secara serius mengumpulkan data dari perbincangan mereka dengan kang Irman Meilandi. Tidak hanya itu saja. Mereka juga meminta saran lokasi shooting dan narasumber yang harus mereka wawancarai untuk memvisualkan data-data yang mereka punyai.

Setelahnya, mereka tidak langsung tidur. Padahal, waktu sudah hampir mendekati tengah malam. Saya perhatikan, mba Yessi selaku asisten produser langsung membuat daftar gambar yang harus diambil oleh mas Popo dan mas Anjas. Beliau juga mendaftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber dan mengarahkan saya untuk pengambilan gambar keesokan harinya.

***

Persiapan penerbangan Drone Desa oleh tim Drone Desa dari Institut Pertanian Bogor (IPB). (Foto: Yudha PS)
Persiapan penerbangan Drone Desa oleh tim Drone Desa dari Institut Pertanian Bogor (IPB). (Foto: Yudha PS)

Kabut yang menyelimuti Mandalamekar dan dingin yang menerpa perlahan-lahan sirna, digantikan sinaran matahari yang terik dan hangat. Tim Kompas TV baru saja selesai mengambil time lapse matahari terbit. Selanjutnya, petualangan shooting di Mandalamekar yang sebenarnya pun dimulai.

Sebagai pemanasan, mba Yessi dan kawan-kawan Kompas TV memutuskan untuk mengambil gambar penerbangan drone desa dan meliput aktivitas SMK Karya Putra Manggala. Untuk drone desa sendiri, diterbangkan di lapangan belakang SMP 2 Jatiwaras, tak jauh dari kantor Desa Mandalamekar.

Sayangnya, tidak banyak gambar yang bisa diharapkan dari aktivitas drone desa tersebut. Tak lama setelah usaha untuk menerbangkan drone gagal, tim memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya dan menangguhkan proses pemetaan Mandalamekar sampai keesokan harinya.

Pangkal dari keputusan tersebut adalah angin terlalu kencang dengan arah yang berubah-ubah. Hal ini membuat drone kepayahan untuk menggapai ketinggian 400 meter dari permukaan tanah. Ketinggian minimum ini merupakan syarat agar drone bisa terbang dan memetakan wilayah Mandalamekar dengan mode auto-pilot atau secara otomatis. Bahkan, saking kencang dan labilnya angin, drone berbentuk pesawat berbaling-baling satu tersebut sempat kehilangan kendali serta menabrak pohon dan menyangkut.

Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)
Dari kiri ke kanan: mas Popo, mas Anjas, mas Ridwan, dan mba Yessi. Mereka tengah menunggu drone yang tersangkut di pohon. (Foto: Yudha PS)

Tanpa membuang waktu, tim Kompas langsung berpindah ke agenda peliputan selanjutnya: SMK Karya Putra Manggala. Aktivitasnya pun sederhana: mewawancarai narasumber dan melakukan simulasi aktivitas sehari-hari SMK pertama di Desa Mandalamekar ini. Simulasi ini dilakukan karena aktivitas belajar di sekolah tersebut tengah libur. Beruntung, seluruh siswa SMK sedang berkumpul, sehingga tidak sulit untuk melakukan simulasi belajar mereka.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk meliput SMK Karya Putra Manggala. Meskipun pengambilan gambar cukup sederhana dan mudah, tetapi ada faktor non-teknis yang membuat proses tersebut diulang beberapa kali: narasumber gugup di depan kamera.

Mba Yessi sampai beberapa kali berusaha menenangkan siswi yang menjadi narasumber liputannya tersebut. Bahkan, untuk membuat sang narasumber nyaman, mba Yessi sampai memperbolehkannya menjawab menggunakan Bahasa Sunda. Strategi ini berhasil membuat narasumber menyelesaikan sesi wawancaranya dengan cukup baik.

Aktivitas meliput SMK Karya Putra Manggala diakhiri dengan simulasi proses belajar yang berbeda dibandingkan sekolah-sekolah pada umumnya. Siswa belajar secara melingkar dengan guru di tengahnya. Aktivitas belajar yang diadaptasi dari Pramuka ini membawa pengalaman belajar yang cukup disenangi oleh para siswa. Lebih jauh mengenai cerita SMK Karya Putra Manggala dan Drone Desa akan saya paparkan dalam tulisan lainnya.

***

Simulasi belajar siswa SMK di kelas. (Foto: Yudha PS)
Simulasi belajar siswa SMK di kelas. (Foto: Yudha PS)

Matahari mulai beranjak terik ketika kami mulai melakukan proses pengambilan gambar untuk episode Cerita Indonesia Kompas TV tentang Mandalamekar. Konsepnya, saya seperti merekonstruksi perjalanan saya ke Mandalamekar beberapa tahun silam dan melakukan wawancara ke beberapa narasumber. Dengan kata lain, saya sebagai “pemeran utama” dalam episode Cerita Indonesia tentang Mandalamekar.

Sejujurnya, saya pribadi tidak terlalu suka tampil di depan layar. Maklum, sejak berkecimpung di dunia media, saya lebih banyak menjadi orang di balik layar. Mulai dari penulis skrip, pemegang kamera, sampai editor pernah saya lakoni. Saya terbiasa mengarahkan orang dan mengolah hasilnya. Dan sekarang, saya harus berada di posisi yang membuat banyak orang seringkali merasa gugup. Ah, karena cuma sesekali, saya pun berusaha melakoni peran saya semaksimal mungkin.

Teriknya matahari tidak menyurutkan tim Kompas TV beraktivitas siang itu. Padahal, mereka semua sedang berpuasa, termasuk mba Yessi yang seorang Nasrani. “Kalau (aktivitas tim) diselingi oleh makan siang saya, nanti agenda pengambilan gambar malah terhambat,” begitu jawabnya, mentoleransi ibadah puasa tim. Saya benar-benar terharu mendengar komentarnya.

Kembali ke aktivitas pengambilan gambar. Saya diminta oleh mas Popo untuk menaiki motor dan bertemu dengan narasumber pertama, mang Tata Sumitra. Mang Tata sendiri merupakan wakil ketua dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mitra Alam Munggaran. KSM ini merupakan ujung tombak aktivitas pembangunan hutan di Mandalamekar dalam kurun waktu 10 – 15 tahun terakhir.

Saya, mang Tata, dan tim Kompas TV melakukan pengambilan gambar di area hutan Pasirsalam. Untuk menuju lokasi ini, kami harus berjalan sejauh lebih-kurang 3 Kilometer dari rumah Kepala Desa Mandalamekar. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi jalanan berbatu yang agak menanjak dan ditemani matahari tengah hari bulan Ramadhan. Mas Popo dan mas Ridwan bahkan memanggul tripod dan membawa kameranya masing-masing, tanpa bantuan siapa pun. Padahal, barang-barang yang mereka bawa beratnya mencapai 5 Kilogram.

Sesampainya di lokasi, suasana agak teduh dipayungi tajuk pohon hutan lindung Pasirsalam. Kami melakukan aktivitas pengambilan gambar tepat di pinggiran hutan yang berbatasan dengan perkebunan masyarakat. Kondisi masing-masing lahan sangat kontras. Kondisi di dalam Hutan lindung Pasirsalam sangat gelap. Pepohonan tumbuh dengan sangat rapat dan ukurannya pun besar-besar. Adapun lahan hutan milik masyarakat sangat terang dengan jarak antar pohon cukup jauh dan usia pohon masih sangat muda.

Mang Tata (berbaju biru - kanan) tengah menunjukkan pohon yang disukai oleh primata hutan. (Foto: Yudha PS)
Mang Tata (berbaju biru – kanan) tengah menunjukkan pohon yang disukai oleh primata hutan. (Foto: Yudha PS)

Mang Tata memberitahukan bahwa kondisi hutan Pasirsalam dahulu hampir menyerupai lahan hutan milik masyarakat di sebelahnya: jarang pohon dan gersang. Namun, kondisinya saat ini jauh berbeda. Semenjak ditanami kembali, hutan di Pasirsalam hijau kembali. Bahkan, beberapa spesies khas Mandalamekar mulai muncul lagi, setelah sempat dinyatakan punah 2 dekade lalu.

Mang Tata menyebutkan salah satu contohnya adalah bambu berduri. Bambu ini cukup unik karena memiliki duri besar-besar di permukaan kulitnya hingga ketinggian 2 meter dari tanah. Hal ini berbeda dengan bambu-bambu lainnya yang tidak memiliki duri sedikit pun. Bambu berduri ini pernah menghilang ketika hutan di Mandalamekar tak berpohon. Namun, saat ini, bambu tersebut bisa dengan mudah ditemui di hutan-hutan di Mandalamekar, khususnya area hutan lindung Pasirsalam.

Cerita lainnya yang mang Tata sampaikan adalah konsep perkebunan penyangga hutan. Konsep ini merujuk pada lahan di sekitar hutan yang ditanami buah-buahan yang memiliki kayu keras, seperti durian, rambutan, cengkeh, kopi, dan nangka. Antara hutan dan kebun penyangga ini memiliki hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan. Bagi tumbuhan di perkebunan, hewan-hewan di dalam hutan membantu meningkatkan kualitas buah-buahannya. Sedangkan bagi hutan, kebun ini menjaganya dari perambahan pohon-pohon di hutan lindung.

Hal ini akan lain ceritanya bila lahan yang berbatasan dengan hutan ditanami pohon untuk ditebang, seperti jati dan sengon. Jenis kebun seperti ini umumnya meningkatkan ancaman terhadap perambahan hutan. Ketika musim panen tiba, seringkali orang-orang tidak hanya memanen kayu dari lahannya, tetapi juga dari hutan, seperti yang terjadi beberapa dekade sebelumnya.

Meskipun begitu, upaya ini masih perlu sosialisasi ke masyarakat pemilik lahan yang berbatasan dengan hutan. Mereka masih melihat nilai nominal kayu keras yang begitu besar dibandingkan menanam pohon buah-buahan. Padahal, bila dibandingkan dalam durasi waktu yang sama, sekiar 10-15 tahun, bisa jadi nominal dari panen buah-buahan lebih besar dibandingkan nominal dari kayu keras.

Hampir 2 jam kami berjalan-jalan di area hutan Pasirsalam sembari melakukan pengambilan gambar. Di ujung jalan, mang Tata memperlihatkan perkebunan penyangga hutan yang ditanami pohon buah-buahan. Sayangnya, tidak ada satu pun yang sedang dalam status “panen”. Meskipun begitu, saya cukup takjub ketika melihat sebuah pohon durian yang tingginya 4 kali tiang listrik di perkotaan. Bila musim panen tiba, saya tidak bisa membayangkan cara pemiliknya untuk memanen semua durian yang ada di pohon tersebut.

Sambil membawa tripod di pundaknya, mas Popo harus melewati jalanan berbatu di tengah teriknya matahari. (Foto: Yudha PS)
Sambil membawa tripod di pundaknya, mas Popo harus melewati jalanan berbatu di tengah teriknya matahari. (Foto: Yudha PS)

Kemudian, mang Tata juga mengarahkan kami ke mata air yang terletak di area hutan Cigandasoli. Untuk menuju tempat tersebut, kami harus melewati jalan setapak yang dipenuhi semak-belukar. Bahkan, mang Tata harus mengeluarkan goloknya untuk membuka jalan bagi saya dan tim Kompas agar lebih mudah melewatinya.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk menggapai lokasi mata air Cigandasoli. Mata air ini terletak di perbatasan antara kebun warga dan hutan. Mata air ini berbentuk gua kecil dengan mulut gua selebar kertas A3. Meskipun begitu, air bening terus-terusan memancar dari dalam gua. Padahal, saat itu, musim kemarau sedang melanda Indonesia, termasuk Mandalamekar.

Di atas gua terdapat tebing setinggi tiang telepon. Di atas tebing tersebut tumbuh dengan kokoh berbagai tumbuh-tumbuhan hutan. Menurut mang Tata, pada pagi hari, sering tampak monyet-monyet mencari makan di perbatasan antara hutan dengan kebun warga ini. Namun, karena suplai makanan yang berlimpah di hutan, membuat monyet-monyet ini tidak mengganggu dan merusak tanaman di area kebun warga.

Menjelang jam 15 waktu setempat, kami memutuskan kembali ke rumah pak Yana. Bila pada saat berangkat kami ditemani oleh tajuk pohon yang rimbun, tetapi tidak pada saat pulang. Mang Tata mengajak kami menelusuri area persawahan di Mandalamekar. Hal ini membuat kami terpapar terik matahari secara langsung. Jarak yang kami tempuh pun termasuk lumayan jauh, sekitar 3-5 Kilometer. Meskipun begitu, tim Kompas TV tetap semangat untuk melangkahkan kaki menuju tempat pengambilan gambar selanjutnya.

Sayangnya, ketika hendak melakukan agenda peliputan berikutnya, baterai kamera habis. Hal ini membuat tim Kompas TV harus mengisi ulang energi baterai kamera di rumah pak Yana. Tak seberapa lama, di tengah menunggu baterai terisi penuh, angin sepoi-sepoi yang adem membuat mata menjadi berat. Suasana kemudian hening, dan tim Kompas TV pun tertidur. Saya, yang sedang rebahan di teras depan pun, kemudian hilang dari kesadaran, dan terbang ke alam mimpi.

***

Tim Kompas TV tengah melewati galangan sawah. (Foto: Yudha PS)
Tim Kompas TV tengah melewati galangan sawah. (Foto: Yudha PS)

Sayup-sayup adzan maghrib terdengar dari kejauhan, tanda waktu berbuka puasa tiba. Sepuluh buah kelapa yang sudah dibuka mang Tata, kami sikat habis. Air dan lapisan kelapa muda di dalamnya turut ludes untuk menghilangkan lapar dan dahaga kami.

Selepas maghrib, agenda berikutnya adalah meliput aktivitas radio komunitas Ruyuk FM yang dimiliki oleh Mandalamekar. Tim Kompas TV tidak hanya meliput aktivitas di radio, tetapi juga di rumah pendengarnya. Tim kemudian dibagi dua. Mas Popo dan mas Anjas bertugas mengambil gambar di studio radio, sedangkan mas Ridwan dan mba Yessi meliput para pendengar setia yang ada di sekitar studio radio.

Studio radio Ruyuk FM tidak jauh dari rumah pak Yana, hanya sekitar 50 meter. Selama Ramadhan, aktivitas radio dimulai setelah shalat tarawih, yaitu sekitar jam 20.30 WIB. Saat itu, kang Priatna kebagian menjadi penyiar di Ruyuk FM. Uniknya, setiap penyiar dan pendengar memiliki “nama udara”, yaitu nama yang hanya disebutkan di radio. Adapun identitas aslinya mereka sembunyikan.

Kang Priatna sendiri di “udara” dikenal sebagai kang Korea. Hal ini tidak lepas dari matanya yang sipit, dan raut wajahnya yang sangat Asia Timur sekali. Meskipun begitu, kulitnya jauh dari warna kuning sebagaimana umumnya orang korea, dan lebih tampak seperti kulit sawo matang.

Aktivitas di studio siaran cukup ramai pada malam hari. Penyiar umumnya ditemani oleh warga sekitar yang sengaja berkumpul di studio. Umumnya, selain berbincang-bincang sesama warga, mereka juga kerap mendengarkan siaran dan mendendangkan lagu-lagu yang sedang diputar di udara.

Di dalam ruang siaran, suasananya pun tidak kalah ramai. Meskipun penghuninya hanya 1-2 orang penyiar, tetapi hampir setiap menit telepon berdering. Para penelepon ini umumnya meminta lagu sambil berkirim-kirim salam. Bahkan, tak jarang, ketika lagu diputar, telepon pun masih tetap berdering. Hal ini membuat penyiar harus mengecilkan suara lagu dan terpaksa mengangkat telepon.

Proses shooting di studio radio Ruyuk FM. (Foto: Yudha PS)
Proses shooting di studio radio Ruyuk FM. (Foto: Yudha PS)

Sebagai orang yang pernah berkecimpung membangun radio, hal ini sangat tidak lumrah. Seharusnya, suara dari telepon bisa terpisah, sehingga tidak mengganggu lagu yang tengah diputar. Namun, setelah saya amati, ternyata teleponnya sendiri menggunakan ponsel yang dimodifikasi, sehingga suaranya bisa masuk ke komputer. Tidak hanya suara penelepon, nada dering pun akan masuk ke komputer.

Bila ada panggilan masuk, hal ini membuat telepon harus diangkat melalui komputer. Tentunya, keterbatasan teknologi ini membuat aktivitas memutar lagu harus dihentikan ketika ada telepon masuk. Meskipun begitu, keterbatasan ini tidak membuat kehidmatan siaran di radio Ruyuk FM terganggu. Justru, sangat amat khas dibandingkan radio lainnya.

Radio Ruyuk FM cukup terkenal di kalangan masyarakat Desa Mandalamekar dan desa-desa lainnya di Kecamatan Jatiwaras, bahkan kecamatan tetangga. Karena posisinya yang berada lebih tinggi dibandingkan desa-desa lainnya, membuat radio ini bisa ditangkap oleh warga desa lain yang jaraknya lebih dari 5 Kilometer. Padahal, secara teknologi antena, jangkauan radio ini hanya sebatas 3-5 Kilometer.

Setiap harinya, radio Ruyuk FM memiliki program yang berbeda-beda. Beberapa yang saya ingat adalah program kebudayaan Sunda, penghijauan hutan, dan kesehatan. Program-program ini sejalan dengan program desa yang dipimpin oleh pak Yana Noviadi ini.

Karena jangkauan radio yang cukup luas, membuat program-program desa ini didengar juga oleh masyarakat desa dan kecamatan tetangga. Hal ini membantu Mandalamekar untuk mensukseskan program-programnya. Sebagai contoh, ketika ada peraturan desa yang tidak memperbolehkan menebang pohon di hutan lindung dan menembak burung di Mandalamekar, membuat warga desa sekitar menghormati peraturan tersebut dan mentaatinya.

Menjelang jam 22, tim Kompas TV menarik diri, demikian juga saya. Besok masih ada agenda peliputan yang harus kami kerjakan kembali. Dan saatnya untuk kami beristirahat sejenak, dininabobokan oleh suara katak dan jangkrik di rumah pak Yana yang masuk kategori Mewah alias “Mepet ke Sawah”. Yah, rumahnya pak Yana tepat terletak di pinggir sawah.{*}